Dalam kebanyakan kasus, kebohongan biasanya diciptakan karena dua alasan: satu, orang yang berbohong percaya bahwa mereka akan mendapatkan lebih banyak keuntungan; atau dua, orang yang berbohong tak mampu membedakan mana yang merupakan sebuah kebenaran serta mana yang merupakan sebuah kebohongan *).
"Kamu yakin ingin pergi menemui Kak Lilith?" Setelah beberapa menit bergelut dengan isi kepala sendiri, Jungkook akhirnya sukses menaikkan satu alis. Suaranya kaku. Rahangnya mengeras. Ia beberapa kali melirik buket bunga yang diletakkan di atas meja—jelas terlihat ragu. "Seorang diri? Setelah apa yang terjadi?"
Jian mengulum seulas senyum tipis, mengangguk lagi. Memandang seraut wajah yang juga berada di dalam kaca sebelum memalingkan wajah, gadis tersebut lantas melangkah menuju sang suami. Jungkook terlihat seperti dasar telaga yang baru saja teraduk. Pria tersebut memandangnya dengan tatapan sulit, seolah kalimat yang hendak diucapkan kembali ditelan hingga ia tercekat.
Menepuk punggung sendiri guna meminta bantuan untuk mengatupkan ritsleting one-piece selutut sewarna biru laut, Jian menyahut kalem, "Iya. Setelah berbicara mengenai beberapa hal dengan Mama, aku harus menemuinya." Merasakan Jungkook mengusap punggung telanjangnya, menjatuhkan satu kecupan tipis di bahu dengan satu teguk saliva sebelum menutup, Jian membalikkan tubuh dan melanjutkan, "Terima kasih juga karena sudah mencarikan buket bunga yang kuminta secara mendadak."
Ada satu gelenyar ragu melintas di dalam sepasang netra rusa tersebut. "Kamu tidak perlu melakukan itu. Pergi menemui Kak Lilith, maksudku." Ia memperhatikan Jian yang kemudian sibuk kembali mematut diri di depan cermin—melemparkan satu senyum tipis bermakna semu. "Memangnya tidak lelah? Lagipula di sana juga sudah ada Ibu, Kak Jimin, serta Hwan yang menjaganya."
Hwan.
Mendengar nama tersebut disebut kembali, bayang seorang pria asing mendadak menyelinap ke dalam kepala si gadis. Bulu romanya meremang sekilas. Jungkook bilang bahwa Hwan bukanlah dokter keluarga. Alih-alih sedemikian rupa, pria tersebut merupakan satu-satunya orang yang berasal dari luar keluarga yang sudah Minsu limpahi kepercayaan dalam kapasitas masif. Lalu untuk beberapa alasan, ia malah bertugas menjaga Lilith yang bahkan tak terlihat di pesta pernikahan.
Well, kalau bukan untuk mengawasi, lantas apalagi?
Kalau sudah seperti ini, kesempatan yang Jian inginkan untuk berbicara secara personal dengan Lilith akan sulit terjadi. Padahal yang mengetahui insiden malam tersebut hanya mereka berempat. Siapa satu dari empat orang yang sudah melaporkan? Mengapa? Untuk menutupi kondisi Lilith? Atau apa?
Memalingkan pandangan menemukan Jungkook yang tetap lurus memperhatikannya, Jian menahan napas sesaat. Ia tidak boleh terlihat seolah-olah hendak merencanakan sesuatu. Apalagi suaminya tidak menyukai ide yang pagi ini Jian lemparkan. Aku ingin melihat Kak Lilith, katanya. Hanya memastikan bahwa ia baik-baik saja, lanjutnya.
Namun menyadari sang pria yang secara implisit terlihat tak suka, Jian jadi mau tak mau memikirkan begitu banyak berbagai asumsi di dalam kepala. Mungkin karena cemas sebab Jungkook tak ingin terjadi sebuah penyerangan lagi? Atau cemas karena ada yang sedang ditutup-tutupi?
Bayangan yang masih terpatri panas di dalam kepala tersebut memang terkadang sukses mengirimkan resah dan gelisah. Kalau saja malam tersebut Jungkook datang terlambat barang sepuluh menit saja, entah apa yang sudah terjadi. Jian tak menyukainya. Tetapi ia harus memastikan sesuatu. Pertanyaannya, jika Jungkook memang tak ingin Jian menemui Lilith semata-mata karena mengkhawatirkan keselamatannya, bukankah kehadiran Hwan serta Ibu sudah lebih dari cukup untuk menenangkan semua belah pihak?
Sesuatu jelas terjadi. Pasti.
Jian memiringkan kepala sesaat. "Jangan khawatir. Aku hanya menjenguk Kak Lilith semata-mata karena merasa cemas. Kalau bukan aku yang menghampiri duluan, nanti suasanya malah semakin canggung," katanya hangat. Berharap ia mampu meyakinkan. Melangkah mendekat pada Jungkook, berdiri di hadapan si pria, Jian lantas merapikan kemeja putih yang dikenakan sang suami lalu mendongak memandang lurus. "Nanti selepas pulang dari kebun juga katanya ingin membawaku mengunjungi rumah?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Somersault
RomanceSebenarnya, Song Jian mengerti bahwa pernikahannya dengan Jeon Jungkook takkan berjalan normal, apalagi terasa semanis dan sehangat yang semua orang pikirkan. Tetapi dunia yang perempuan tersebut genggam memiliki dinding yang tak bisa dihancurkan se...
