"Tidak ada hal serius yang perlu dicemaskan. Tuan Jeon Jungkook hanya harus beristirahat selama beberapa hari di rumah sakit sehingga kami bisa memantau dan memastikan kondisinya." Dokter Han menarik napas, menelisik sang lawan bicara sekilas. Perempuan bersurai cokelat sepunggung tersebut memandangi Jian yang menggenggam erat jemari suaminya, memiringkan kepala sejenak sebelum menarik langkah mundur dan lantas melanjutkan, "Namun saya bisa meyakinkan Anda bahwa beliau akan segera membaik lalu pulih seperti sedia kala."
Itu saja?
Merasakan hatinya bergolak tak nyaman, pelipisnya berkedut hebat sementara kerongkongannya tercekat pekat, Jian jelas meragukan apa yang baru saja ia dengar. Jika memang hanya itu saja, mengapa Jungkook sampai harus dibawa serta ditangani secara khusus oleh seorang kepala bedah umum paling kapabel di Rumah Sakit Gyeongwon? Mengapa ada begitu banyak darah? Mengapa ada kelopak bunga yang juga berlumur darah di dalam kamar mandi?
Jian yakin bahwa jendela kamar mandi terkatup rapat. Tak ada tanaman, pohon, apalagi kebun bunga di sekitar sana. Kamar mandi berpapasan tepat dengan dinding rumah. Musim dingin bahkan belum berakhir. Segala hal sukses terasa janggal dan mustahil. Nyaris menggigit lidah sendiri, meremas tangan yang berada dalam genggamannya dengan gelisah, si gadis mati-matian untuk tak meledak dan terus memutar isi kepala.
Apa yang sebenarnya terjadi? Penyakit macam apa yang Jungkook derita?
Mereka—kedua mertuanya, kakak iparnya, Lilith, Hwan, Haru, bahkan dokter yang kini berdiri tegap di dalam ruangan, semua orang bertindak seolah-olah ini bukan kali pertama si Jeon berada di sini. Mereka bersikap seolah nyawa suaminya berada di ujung tebing dan siap lenyap saat ia mengerjapkan netra. Namun yang Jian terima hanya secuil keterangan bahwa suaminya akan segera membaik tanpa adanya informasi lain? Astaga, jangan bercanda.
Mendongak memandang Dokter Han, menyadari bahwa perempuan tersebut juga tengah balas menatap tanpa berminat untuk mengatakan hal lain, Jian menarik napas, memandang datar. "Apa yang sebenarnya sudah terjadi padanya?"
"Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya," Dokter Han menjeda, tersenyum tipis—hampir meninggalkan kesan seolah tengah dipaksa, sepenuhnya tanpa ekspresi. "Tidak ada hal yang perlu dicemaskan. Laporan hasil pemeriksaan juga sudah diserahkan kepada keluarga, Nyonya."
"Saya ingin mendengar hasilnya langsung dari Anda, Dokter."
"Ah, saya tidak bisa melakukan hal tersebut."
Si gadis semerta-merta mengatupkan rahang, menahan amarah, membeku di sana. Dokter Han tak menjelaskan banyak. Rincian tes yang dilakukan, diagnonis, atau apa pun selain keterangan bahwa kondisi Jeon Jungkook yang ia sebutkan akan segera membaik.
Omong kosong.
Jika laporan sudah diserahkan kepada keluarga, maka kemungkinan terbesar Jeon Minsu lah yang menerima. Jangankan melihat atau memastikan kebenarannya, mengetahui saja jelas takkan mungkin. Selama semalaman suntuk, ayah mertuanya saja tidak sudi meninggalkan ruangan sampai seorang perawat berkata agar ia untuk menemui Dokter Han secara langsung. Kalau pria tersebut sempat berkata bahwa Jungkook tak mengidap penyakit apa-apa, maka untuk sekarang juga Jian jelas takkan mendapatkan jawaban yang berarti.
Memandang sang dokter lurus, Jian menarik napas perlahan. "Apa Anda baru saja mengimplikasikan bahwa saya tidak bisa mengetahui bagaimana kabar suami saya sendiri?" Jian menjeda sejenak, melanjutkan, "Meski saya merupakan istrinya?"
"Anda hanya perlu bertanya pada Tuan Jeon Minsu. Semua laporan sudah—"
"Dokter."
Dokter Han menarik napas. "Siapa nama Anda?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Somersault
RomansaSebenarnya, Song Jian mengerti bahwa pernikahannya dengan Jeon Jungkook takkan berjalan normal, apalagi terasa semanis dan sehangat yang semua orang pikirkan. Tetapi dunia yang perempuan tersebut genggam memiliki dinding yang tak bisa dihancurkan se...
