Kanna yakin ia tak pernah sebegitu ingin mencekik seseorang, mendorongnya menghantam jendela—semata-mata agar lautan yang bergemuruh di bawah Hilton Busan sanggup menelan sang lawan tanpa jejak. Menghapus dan membuat Kim Namjoon seolah tak pernah ada.
Hujan musim dingin perlahan menitik di luar jendela. Langit yang gelap semakin menghitam pekat bersama gemuruh di kejauhan. Suaranya tak terdengar, tetapi Kanna membayangkan gerungan mereka tengah menggedor-gedor kaca, menyerbu gendang telinga—mengalahkan jazz yang masih terus bergema. Kerumunan manusia di tempat ini masih saling menyahut hidup dipenuhi suka cita. Menyampaikan selamat, bercengkerama, saling sibuk memuja.
Namun terkesan meninggalkan isyarat seolah dunia tak sanggup menyentuh kulitnya, pria tersebut tetap memandang lurus, menyembunyikan seluruh gema di dalam kepala agar tak mencapai kedua mata, ekspresi wajah, dan membiarkan orang lain menebak-nebak apa yang sedang ia pikirkan.
Kim Namjoon yang Kanna tahu selalu seperti itu: gelap, tak berdasar, selayaknya jurang.
Ada banyak hal dari sosok ini yang membuat isi perut si gadis bergolak. Entah karena tak suka, benci, atau kemarahan yang tak pernah tersampaikan. Tapi apa yang baru saja ia dengar terasa seperti setangki gasolin yang ditumpahkan secara sengaja, melecut amarah yang kian meradang—membuat Kanna mati-matian menahan diri untuk tetap merendahkan nada bicara.
"Kau ini jelas bermulut besar, Kim," gusarnya. Nyaris menuding wajah sang lawan, ia terang-terangan melemparkan hasrat membunuh yang sudah berkobar sempurna. "Apa kau pergi kesana-kemari untuk membicarakan apa yang klien katakan padamu? Apa yang ingin kau sampaikan? Bicara yang benar."
Untuk sepersekian sekon, Namjoon mematung. Jika saja saat itu Kanna mengerjap, ia pasti akan melewatkan segaris rasa bersalah yang sempat merangkak pada kedua belah manik si pria. Tetapi Namjoon melemparkan pandang cepat. Sepenggal kalimat yang mencuat di dalam memorinya sontak menghantam, "Sejak awal, gadis itu datang padaku hanya untuk mendapatkan sebuah alasan serta justifikasi," ujar seseorang kala itu. Ia memandang Namjoon frustasi, menggeleng tak percaya. "Meski mengetahui hal tersebut, aku tetap melakukannya. Kami menghancurkan satu sama lain begitu saja."
Tidak, tidak, pikirnya. Fokus, Kim Namjoon. Keadaan sudah cukup buruk tanpa perlu mendapatkan bumbu baru.
Menarik napas, pria tersebut tak langsung menyahut. Namjoon membutuhkan beberapa sekon guna menetralkan isi kepala. Ia lantas melambaikan tangan, membuat seorang pelayan yang melintas menghentikan langkah lalu menukar gelasnya dengan blackberry whiskey lemonade yang ditempa cahaya lampu.
Tapi apa itu tadi? Bicara yang benar?
"Kalau kau mendatangiku untuk sebuah konversasi sedemikian rupa, kau tahu kita tidak akan bisa melakukannya, Kanna. Kebencianmu padaku sudah terlalu mengakar kelewat kuat. Apa yang kukatakan hanya akan terdengar seperti bualan, pembelaan diri, serta hinaan untukmu." Namjoon meneguk isi gelas sedikit sementara si gadis mengatupkan bibir. Pandangannya berputar sejenak, memastikan tak ada yang memperhatikan mereka berdua. Apalagi sampai mendengar. "Kau tahu aku tidak bisa menganggukkan kepala, melangkah mundur, lalu membiarkan teman baikku berjuang di dalam kubangan neraka, bukan?"
Kanna menggertakkan rahang. "Terakhir kali kau datang untuk memberikan bantuan, yang terjadi adalah masalah yang lebih besar, ingat?"
Namjoon menahan napas. "Aku tidak meninggalkan Jian begitu saja."
"Kim Namjoon—"
"Dan aku juga tahu kalau aku baru saja membiarkan diriku sendiri dilalap emosi. Itu takkan terjadi lagi." Si pria tersenyum tipis. "Kau tenang saja. Aku tak menuntut jawaban, konfirmasi, apalagi sebuah penjelasan darimu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Somersault
RomansaSebenarnya, Song Jian mengerti bahwa pernikahannya dengan Jeon Jungkook takkan berjalan normal, apalagi terasa semanis dan sehangat yang semua orang pikirkan. Tetapi dunia yang perempuan tersebut genggam memiliki dinding yang tak bisa dihancurkan se...
