"Ibu pernah mendengar ketika tubuhmu terluka, otakmu akan melepaskan dopamin yang membantu manusia untuk merasa jauh lebih baik." Tama memandang hangat, tersenyum tipis. "Sayangnya, kalau tidak dibuat-buat, manusia hanya terluka disaat-saat tertentu saja."
Bocah lelaki tersebut menaikkan satu alis, memandang tak mengerti. "Dopamin itu apa?"
"Wah, bagaimana menjelaskannya, ya?" Sang lawan sukses tertawa gemas. "Jungkook suka es krim?"
"Suka!"
"Setelah menghabiskan es krim, pasti merasa bahagia, bukan?"
Jungkook merengut. "Iya. Tapi itu juga kalau es krimnya tidak diambil Kak Jimin."
Tama terkekeh. "Nah, dopamin ini seperti es krim spesial. Tapi khusus hanya untuk Ibu saja." Perempuan tersebut mengusap pipi persik di hadapannya, kembali berkata perlahan, "Namun untuk hari ini, Ibu ingin membagi es krim spesial tersebut dengan kamu, Sayang."
Begitukah? Memangnya boleh? Bocah lelaki tersebut mendadak gamang. Suster Nan dan ayahnya selalu berpesan kalau Jungkook dilarang memakan atau meminum apa-apa jika sedang mengunjungi Ibu. Tapi kalau sekali saja, pasti tidak apa-apa, bukan? Lagipula, ini Ibu sendiri yang meminta bantuan. Jika ia tidak mengatakannya pada siapa-siapa, Jungkook yakin takkan ada yang tahu juga.
"Kamu tahu Ibu tidak akan pernah menyakitimu, bukan?" Benda mengilat sewarna perak yang kerap digunakan Suster Nan untuk mengupas kulit apel digenggam dengan erat. Tama melanjutkan kembali, "Hanya sekali saja, ya? Katanya ingin membantu? Kamu tahu bagaimana kondisi kakakmu, jadi Ibu jelas tak bisa meminta bantuannya. Masa tidak percaya pada Ibu?"
Jungkook yakin insiden tersebut hanya terjadi sekali. Suster Nan menangkap basah ibunya, berteriak, lalu memanggil sang ayah yang lantas memandang dengan rahang mengeras dan sepasang netra terluka. Perih menyelimuti, likuid merah yang mengalir jatuh melewati lengannya. Kendati sudah bertahun-tahun lamanya terlewati, kendati waktu sudah mengikis banyak hal, ia takkan pernah bisa melupakan sensasi tatkala sebilah pisau ditempelkan pada permukaan kulit bahunya—dingin pekat yang mengirim nyeri serta ngeri pada tulang belakang, ulu hati, serta degup jantung yang bertalu.
Jungkook takut. untuk pertama kalinya selain kemarahan serta tatapan dingin sang ayah, itu adalah hal yang sukses membuat engsel kakinya bergetar. Dalam momen tersebut pula, Tama yang menjerit, "Jika aku tak melakukan ini, kau takkan peduli padaku, Jeon Minsu! Aku tahu kau sudah lelah merawatku! Kau membuangku! Kau tidak peduli terhadapku karena aku sudah tidak cantik lagi, bukan?!"
Ibu?
Apa yang sebenarnya terjadi?
"Bagaimana jika Ayah menawarkan sesuatu?" Minsu memandang lurus, menarik napas. Patahan memori kembali melesat tanpa permisi, mencongkel, menusuk-nusuk dinding kepalanya. Namun di sana, pria tersebut lantas meneguk isi cangkir teh yang tak lagi mengepul perlahan, melanjutkan sesaat kemudian, "Kalau mampu memenuhi permintaan Ayah untuk terakhir kali, kau akan mendapatkan yang kau mau selama ini."
Seolah sudah menduga kalimat semacam itu hendak dilontarkan bak misil, Jungkook hanya mengerjapkan netra lambat. Ia memang masih memusatkan atensi pada laporan kebun yang berada di hadapannya, tak memalingkan pandangan apalagi menatap sang lawan bicara. Mendengus begitu perlahan sebelum menahan satu ulas senyum miring, Jungkook tak repot-repot terkejut. "Ayah pasti meminum soju lagi semalam, bukan?" katanya—sepenuhnya tenang. "Aku tidak mengerti apa yang Ayah bicarakan."
"Tak mengerti? Sekalipun kita tengah berbicara mengenai kebebasanmu?"
"Jadi Ayah tahu bahwa Ayah memang sedang mengurung anak-anaknya sendiri?"
Kali ini, Minsu tersenyum tipis. "Kebanyakan anak-anak tidak mengerti dengan apa yang orangtua lakukan, inginkan, dan tujukan. Mereka tidak bisa memahami bahwa yang dilakukan seorang ayah atau ibu semata-mata malah untuk kepentingan serta kebaikan anak-anak mereka sendiri. Sebab mau bagaimanapun juga, anak-anak bukanlah orangtua. Mereka tak tahu apa yang kami resahkan." Pria tersebut menjeda sejenak, tersenyum hangat. "Jadi, tak heran kalau kesadaranmu secara tak langsung juga tengah mencoba mendramatisir keadaan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Somersault
RomansaSebenarnya, Song Jian mengerti bahwa pernikahannya dengan Jeon Jungkook takkan berjalan normal, apalagi terasa semanis dan sehangat yang semua orang pikirkan. Tetapi dunia yang perempuan tersebut genggam memiliki dinding yang tak bisa dihancurkan se...
