Bernapas dengan perlahan, mendengar gemericik air yang berasal dari dalam kamar mandi, Jian memandang dinding kamar dengan pelipis berkedut. Jantungnya sudah tak lagi bertalu. Tetapi dingin pada telapak tangan serta tengkuk masih belum menghilang, apalagi kegelisahan serta resah yang membelit dada. Mengusap wajah dan menarik napas, gadis tersebut bisa mengingat suaranya yang dilesatkan separuh mendesis pada Jeon Jimin—tepat beberapa jam yang lalu, perlahan terbakar angkara yang menelisik secara lambat, "Apa yang Kakak bicarakan?"
Ada yang sedang disembunyikan, fakta yang satu itu bukan lagi rahasia. Namun rasa sesal yang datang beberapa sekon terlambat kini sontak menghantam.
Ekspresi hangat nan menyambut yang sempat Jimin temukan pada raut wajah sang lawan bicara seketika lenyap. Jian menatap kaku, seakan siap mencabik siapa saja menjadi kepingan. Namun menyadari benar bahwa ia sendiri tengah dicekik serta nyaris sulit bernapas, si pria hanya menggeleng. "Tidak, bukan apa-apa," sahutnya. "Aku hanya bicara asal."
Jian nyaris menggigit lidahnya muak. Yang benar saja.
"Kupikir ada baiknya kalau Kakak tidak membuka mulut kalau tak benar-benar ingin mengatakan sesuatu." Si gadis memandang dingin. Sekelumit perasaan bersalah merayap sesaat, namun menelan kembali segalanya, ia menukas, "Apa yang Kak Jimin katakan tidak terdengar seperti kalimat yang asal dilemparkan bagiku."
"Jian, aku tidak bermaksud—"
"Jangan mengelak. Jelaskan saja."
Tertawa pahit, Jimin tersenyum kecut. Pandangannya berkabut pekat. Rasa bersalah kini sepenuhnya mengisi wajah. Si gadis sendiri tak tahu mana yang membuatnya mendadak tersulut emosi, fakta bahwa kakak iparnya yang mencoba melemparkan umpan tanpa berminat menarik kembali, fakta bahwa ia sedang dipermainkan, atau fakta bahwa ia sudah merasa muak dengan teka-teki sial di depan mata. Mungkin salah satunya. Mungkin keduanya. Bahkan mungkin semuanya.
Sepercik kemarahan berkobar di dalam kedua netra, jadi si gadis menyudahi dengan satu tukasan kaku, "Seseorang tak seharusnya berbicara kalau patahan kalimat yang mereka semburkan hanya memupuk kecurigaan milik orang lain."
Memalingkan pandangan tatkala mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, Jian seketika memutuskan diri dari benang memori. Segumpal besar kepercayaan seolah ikut tertinggal bersama dengan Jimin yang ia biarkan membeku di bawah buaian salju beberapa jam yang lalu. Pria di hadapannya kini—suaminya sekarang yang lantas melemparkan senyum sehangat mentari di musim semi, adalah orang yang sama yang barangkali bisa membuatnya hidup serta mati dalam satu waktu yang sama. Kini menunggu waktu sampai seluruh keping dari harapan terkikis habis dan menemukan seluruh asumsi yang Jian miliki mengarah pada posibilitas kebenaran, perutnya terasa seperti baru saja ditikam dengan sebilah belati.
Semua petunjuk kecil yang si gadis temukan seakan terhubung dengan perlahan. Apa yang sudah sang kakak ipar katakan, Lilith yang pucat dan merasa tak sehat, serta suaminya yang malam itu beraroma mawar Bulgaria. Penyambutan hangat di hari pertamanya datang, acara pernikahan yang gemerlap, tamu undangan yang berasal dari strata sosial menakjubkan—lantas semuanya dilengkapi dengan sebuah perjanjian perceraian yang Jungkook katakan sebagai pintu keluar darurat. Seseorang takkan menyediakan sesuatu semacam itu kalau tak ada yang mereka takutkan.
Memandang telapak tangan yang lantas mengepal, Jian menggigit lidah sekilas. Memikul beban batin nyatanya terasa jauh lebih melelahkan daripada tak terlelap selama dua hari karena pekerjaan. Sial. Padahal ia tidak berpikir akan sedemikian rupa jadinya.
"Ji?" Jungkook menaikkan satu alis. Mendadak, agak serak. Pria tersebut melangkah mendekat dengan perlahan, hanya dibalut selembar handuk yang melingkari pinggul, tetes air jatuh mengalir dari ujung surai melesat pada dagu dan dada—melanjutkan, "Kenapa diam saja? Lelah karena sehabis mengantarkan Mama?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Somersault
RomansaSebenarnya, Song Jian mengerti bahwa pernikahannya dengan Jeon Jungkook takkan berjalan normal, apalagi terasa semanis dan sehangat yang semua orang pikirkan. Tetapi dunia yang perempuan tersebut genggam memiliki dinding yang tak bisa dihancurkan se...
