Theodore Magenta Geraldino.
Anak pertama sekaligus calon penerus keluarga Geraldino. Memiliki segalanya. Harta, tahta, pangkat, serta kekuasaan, ditambah perhatian berlebih dari kedua orang tuanya membuat Theo menjadi kepribadian yang egois dan ingin menang sendiri.
Dan, perkenalkan, Theo ini adalah... Orang yang menjadi ajalku, dan orang yang paling tidak ingin ku temui sampai kapanpun.
Sayangnya, aku malah bertatap muka langsung dengannya detik ini.
Sial.
Aku ingin menjadi kucing saja rasanya, agar aku bisa hidup lagi jika aku mati dengan cadangan delapan nyawaku.
Namun, itu hanya sekedar angan-angan.
Terkutuklah kalian dewa kematian dan pengarang 'My Fantastic Life'
Aku menetralkan raut wajahku menjadi datar setelah sempat terbelalak kaget tadi.
Jangan panik, jangan panik, jangan panik. Ingat kata bang Agus dulu. Kita harus tetap 'stay cool' dalam keadaan apapun.
Kulihat, Theo masih menampilkan senyum bodohnya, yang sialnya malah membuatnya semakin tampan.
Ughh, jujur. Aku merasa silau saat menatapnya.
Apa ketampanan seperti itu masuk akal untuk anak kecil berusia tujuh tahun?
Memang, protagonis pria itu sangat luar biasa.
Dan kurasa, aku akan terbiasa dengan ketampanan sejak dini seperti ini karna para anak bangsawan lainnya. Tentu saja para male lead tidak termasuk. Aku berharap, aku tidak akan bertemu lagi dengan salah satu dari mereka. Itu adalah mimpi buruk.
Cukup sudah aku bertemu dengan Lucas dan Theo. Jangan ada lagi.
"Lady..."
Hmm, sepertinya aku harus mengurung diri dalam mansion selamanya agar dapat terhindar dari segala ancaman kematianku.
Tapi, mama pasti tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Lady seraphina? Kau baik-baik saja?" Theo melambai-lambaikan kedua tangannya di depan wajahku. Aku tersentak, terkejut kemudian mengerjap-ngerjap kecil. Sedikit linglung.
Aaah, tanpa sadar, aku melamun lagi.
Theo, yang pertanyaannya tak kunjung mendapat respon dariku kembali melontarkan pertanyaan yang sama.
"Lady, kau baik-baik saja?"
Apa itu? Sekilas, aku menangkap sorot kekhawatiran dalam pandangannya.
Benarkah? Kurasa, aku salah lihat barusan.
"Kakak, kau tidak apa-apa? Aku akan menyuruh John untuk menyiapkan kereta" Ujar Lucas. Aku bisa menangkap nada khawatir terselip dalam ucapannya.
Lucas berdiri, turun dari kursi yang didudukinya. Ingin beranjak pergi. Dengan sigap, aku menahan lengannya.
Tidak. Kita tidak boleh pulang sekarang. Bisa-bisa, mama mengintrogasiku dengan segala pertanyaannya yang akan membuat kepalaku sakit.
Lucas menoleh padaku, menatapku bingung. Lantas, aku menggeleng pelan, mengisyaratkan bahwasanya aku baik-baik saja.
"Benarkah?" Lucas tak percaya. Matanya menyipit, menelisik kalau-kalau aku berbohong.
Kali ini, aku mengangguk sekali. Mencoba meyakinkan adik baruku ini.
Memandangku rumit, Lucas menghala nafasnya, lalu kembali duduk seperti semula.
"Adikmu perhatian sekali ya?" Ah! aku malah melupakan Theo yang tidak beralih sedikitpun dari tempatnya berdiri. Menoleh kepada Theo, aku menatapnya datar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another World.
FantasyMenjadi putri bangsawan? masuk kedalam dunia novel? Itu... Mimpi buruk Author's note : Ini ori karangan dari author. Jadi, No plagiat-plagiat club
