( Author's POV )
Atheana Maretta Geraldina.
Putri pertama sekaligus anak terakhir dalam keluarga Geraldino. Keluarga bangsawan yang terpandang.
Kebanyakan orang beranggapan bahwa hidup Thea itu sempurna.
Memiliki orang tua yang penyayang dan perhatian, memiliki kakak kembar yang rupawan, dan tempat tinggal yang super nyaman, serta gelar bangsawan yang menjadi impian semua orang.
Sempurna.
Thea menganggap dirinya benar-benar beruntung.
Tapi sepertinya, anggapan itu tidak berlaku pada beberapa hal.
Theo, kakak kembarnya selalu melemparkan tatapan sinis setiap kali mereka bertemu. Entah apa alasannya, Thea selalu menangkap raut tidak suka pada wajah kembarannya itu.
Perlakuan ayah dan ibunya juga berbeda. Thea memang mendapatkan kasih sayang dan perhatian. Kebutuhannya juga selalu terpenuhi. Tapi, Thea tidak tau kenapa, dirinya merasa kalau ayah dan ibu mereka memberikan perlakuan yang berbeda.
Theo, sebagai calon kepala keluarga menjadi lebih di manjakan oleh orang tua mereka. Itu juga yang membuat perasaan egois kian meracuni hati Theo.
Theo selalu di belikan barang-barang yang terbaik dan terbaru, Sedangkan Thea jarang. Tapi, Thea tidak pernah mengeluh.
Theo seringkali di puji-puji oleh ayah dan ibu mereka atas segala keahlian beladirinya, padahal, Thea memiliki segudang bakat yang dapat membuat mereka bangga. Oke, mungkin, bakat Thea masih kurang memuaskan.
Thea selalu di salahkan saat Theo membuat kekacauan di mansion, padahal, Thea tidak tahu-menahu tentang apa yang telah terjadi. Sekali lagi, Thea berpikir, mungkin itu memang kesalahannya.
Tapi, Thea tidak tahu kesalahannya apa.
Thea... Iri.
Mengapa Theo selalu mendapatkan apa yang dia mau, disaat Thea harus memohon-mohon untuk memilikinya?!
Mengapa Theo selalu mendapatkan pujian orang tua mereka dengan mudah disaat Thea harus berjuang dengan keras demi mendapatkannya?!
Mengapa?!
Thea.. tidak mengerti. Tapi, Thea berusaha untuk memahami.
Thea iri. Tapi, Thea tidak boleh egois.
Thea... Menyayangi Theo.
Thea tidak mau Theo malah membenci dirinya jika Thea lebih mementingkan gengsi.
Thea tidak mau... Theo menjauhinya, lalu meninggalkannya dan pergi.
Karna itu, Thea harus mengubur perasaan irinya dalam-dalam.
Thea tahu itu akan membuat hatinya terluka dan menderita. Namun, itu lebih baik ketimbang harus di benci Theo.
Jadi, Thea memotivasi dirinya sendiri disaat dirinya lelah dan ingin berhenti berpura-pura seolah dirinya baik-baik saja. Melantunkan kata-kata penyemangat yang tanpa dia sadari malah semakin membuatnya tersiksa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another World.
FantasiMenjadi putri bangsawan? masuk kedalam dunia novel? Itu... Mimpi buruk Author's note : Ini ori karangan dari author. Jadi, No plagiat-plagiat club
