Part 17 - Olicent Academy. ( Three Years Later )

845 121 1
                                        

Votmennya readers🙃.

Tolong jangan jadi silent readers. Author kesepian nih. Gada komen dari kalian.

Gamaksa koq. Sumpah😁🙃.

-*-*-*-*-*-

( Tiga tahun kemudian ).

Olicent.

Academy terbesar diseluruh benua daerah Atranta yang mencakup lima benua. Academy impian semua orang yang hanya menerima 300 siswa setiap tahunnya.

Disinilah aku sekarang. Olicent academy.

Aku sudah tiba disini sejak 30 menit yang lalu. Dan tepat saat ini, aku sedang menjalani kegiatan penyambutan siswa baru. Menonton Miss Crystal Roosevelt, sang kepala academy menyampaikan pidatonya yang lumayan panjang.

"Dengan ini, saya memberi sambutan kepada para siswa baru kami. Selamat datang di Olicent academy!" Serunya. Disambut oleh riuh ricuh tepuk tangan para guru, siswa baru, maupun siswa lama yang ikut hadir disana. Pun aku ikut menepukkan tanganku malas. Acuh tak acuh memasang wajah datar seperti biasa.

Akhirnya aku benar-benar masuk Olicent ya? Aku masih tidak percaya. Rasanya seperti aku sedang bermimpi buruk saja.

Setelah melalui seleksi bakat dan elemen yang ketat. Super ketat. Benar-benar ketat sampai-sampai aku tepar tak berdaya diatas kasur seharian karna kehabisan mana. Aku dikabarkan lolos seleksi dan resmi menjadi siswi Olicent. Dan yah, tentu saja itu hal itu adalah sebuah kesialan untukku.

Entahlah. Dari dulu, aku tidak suka sekali yang namanya sekolah.

Tapi, mama dan papa yang menerima kabar buruk---bagiku---itu terlihat girang sekali. Kebahagiaan terpancar jelas dimata mereka. Membuatku enggan menghancurkannya dengan sebuah penolakan.

Oh. Terkecuali Lucas yang sepertinya enggan berpisah denganku, lantas menampilkan wajah masam seharian. Pada malam harinya setelah makan malam, dia menjadi sangat emosional dan tangisnya pecah seketika dimeja makan.

Sontak saja mama dan papa serta diriku ini kelabakan. Sebagai kakak perempuan yang baik, aku juga tidak bisa melakukan apa-apa selain memeluknya, mem-patpat kepalanya dan melantunkan kalimat-kalimat bujukan agar dia tenang.

Itu kejadian dua hari yang lalu.

Hari ini, tepatnya dini hari sebelum aku berangkat pergi dari mansion, Lucas memelukku erat. Berkata akan sering mengirimiku surat dan berjanji akan menyusulku ke academy tahun depan.

Aku iya-iya saja. Lalu mengecup pipinya yang mulai tirus seiring pertumbuhannya yang meningkat pesat. Kemudian melenggang pergi ke kereta kuda sambil melambaikan tangan penuh drama.

Hmm... Ternyata rasanya lumayan sedih juga ya berpisah dengan Lucas. Sepertinya, aku akan merindukan bocah perak menyebalkan itu.

"Huft..." Aku menghela nafasku berat.

Lagi-lagi bersekolah.

Ck.

Aku benar-benar tidak suka ini. Tapi mau bagaimana lagi? Mau tidak mau aku harus menjalaninya kan?

Memantapkan tekadku ogah-ogahan, aku berusaha menekan rasa tidak sukaku ini dalam-dalam.

Tapi, diam-diam aku menangis dalam hati. Meratapi nasibku yang malang.

Hiks, Selamat tinggal kehidupanku yang menyenangkan dan selamat datang penderitaan.

-*-*-*-*-*-

"Nah. Ini dia kamarmu, Lady Seraphina" Ucap Miss Daneliya, guru yang menemaniku mengelilingi setengah academy yang besar ini, sekaligus orang yang mendampingiku untuk menuju kekamar baruku.

Another World.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang