Tissue ku habis, kain lap juga jadi 😭
🍒
Matahari di luar begitu terik dengan cuaca cerah membuat semangat seorang wanita yang sedang sibuk menyusun naskah sebelum naik cetak semakin membaik. Tulisan pertama telah diselesaikan walaupun harus melewati beberapa rintangan terkait suasana hatinya.
"Nanti bukunya mau dijual ke toko?"
Kinan tidak ingin ada seorang pun di apartemennya tapi Byan datang bersama putrinya.
"Iya."
"Nanti aku juga ikut bantu bawain ya?"
"Bukan Tante yang bawa."
"Terus?" Arleta penasaran. "Papa?"
"Penerbit, orang yang membantu tante Kinan mencetak buku-buku itu." Byan yang menjelaskan. "Arleta doakan agar buku bukunya terjual laris."
Arleta mengerti dia mengangguk sambil mengaminkan. Karena gadis kecil itu duduk di samping Kinan dengan mudahnya dia menyentuh perut buncit milik Kinan. "Dedek juga doain ya, biar buku tante Kinan laku semua."
Sikap Arleta membuat Kinan tertegun, sama sekali tidak tersinggung karena seusia gadis kecil itu sudah bijak. Walaupun ini bukan pertama kali tapi kerap terkejut dengan sikap spontan tersebut.
Ga, Arleta orang pertama yang menyapa anakmu.
Perasaan haru bisa ditutupi oleh Kinan dengan baik, matanya kembali fokus pada laptop yang menampilkan cover novelnya.
"Aku akan menyiapkan makan siang, Arleta temani Tante di sini."
"Untuk kalian saja, aku sedang tidak ingin makan nasi."
Byan menatap wanita itu. "Katakan kamu ingin makan apa."
Kinan menggeleng, satu jam sebelum kedatangan dua orang itu ia sudah sarapan nasi satu bungkus roti.
"Kamu akan membiarkan perutmu kosong?"
"Siang ini aku akan keluar."
"Ke?" reflek saja saat tanya itu terlontar. Beberapa detik berlalu Byan seolah sadar dengan diamnya Kinan.
Laki-laki itu hanya ingin memperhatikan sama sekali tidak berniat mengganggu, keadaan Kinan yang membuatnya selalu ingin memastikan kabar wanita itu, istirahat dan waktu makan karena soalan hati ia tidak tahu apa-apa.
"Oke." situasi yang selalu membuatnya terlihat aneh di depan Kinan, padahal ia hanya bertanya bukan ingin pergi bersama.
Untuk apa memasak kalau Kinan tidak akan memakannya, pria itu bisa mengajak putrinya makan di luar tanpa harus bersama wanita itu.
Karena sudah tahu Kinan tidak akan mengajaknya makan siang bersama, Byan pamit.
"Enggak jadi masak?"
"Kita makan di luar." Byan melirik Kinan.
"O, Tante?" Arleta sudah menggenggam tangan besar papanya.
"Duluan saja." bukan pada Byan melainkan Arleta ucapan itu ditujukan Kinan tanpa senyum sedikitpun tapi terdengar ramah di telinga Byan.
Arleta mengangguk bersama papanya gadis kecil itu pergi setelah berpamitan dan mencium pipi Kinan.
Begitu dua orang itu keluar, Kinan menarik napas dan perlahan merebahkan tubuhnya.
Sebuah pehatian akan mengubah satu hal, yang dari tadinya tidak tahu apa-apa jadi peduli dengan tiba-tiba.
Kinan tidak ingin hal itu terjadi, setia-nya milik Naga ia tidak akan melibatkan orang lain dalam kehidupannya dan tidak ingin berbagi kisah pahit, karena itu akan membuatnya menjadi sosok yang jahat.
Ketimbang memikirkan tanggung jawab orang lain terhadapnya wanita itu lebih memikirkan pantas atau tidaknya seseorang masuk dalam hidupnya.
Label bukan wanita baik diperoleh dari seorang laki-laki yang amat berharga dalam hidupnya.
Perasaannya untuk laki-laki itu telah dimulai sejak dia masih remaja tapi tidak ada seorang pun yang tahu begitu hebat cara Kinan menjaga hatinya termasuk dia.
******
Bukan makan di restoran seperti yang dikatakannya pada Byan, wanita itu pergi ke swalayan membeli satu kilogram Telur dan beberapa macam sayuran segar juga beberapa cemilan lantas kembali ke apartemennya.
Sementara menunggu proses cetak Kinan akan menulis naskah kedua juga bertemakan rumah tangga. Dulu tidak pernah terpikirkan untuk menulis kisah roman dewasa, teenlit atau romansa semasa kuliah yang menjadi bayangannya karena semangatnya dulu berbeda dengan keadaan yang dialaminya sekarang.
Masih diingat oleh Kinan di sebuah buku pernah menulis tentang kisah bahagia sepasang kekasih di usia yang masih belia, dengan mudahnya wanita itu mengeksplor kebahagiaannya dalam tulisan itu. Sementara kenyataannya dia sudah menyelesaikan satu naskah yang penuh dengan penderitaan dan kekecewaan dua orang yang terikat dalam akad.
Ia tidak pernah membayangkan keadaan yang menimpa justru mengantarkannya pada fase baru yang pernah menjadi cita-citanya.
Langkah yang tadinya pasti dengan pikiran positif kini terhenti begitu melihat sosok yang berdiri di depan kamarnya.
Menunduk sekali ia melihat sepasang kakinya yang mengenakan sepatu flat menyentuh tanah, wanita itu juga menelan ludah untuk memastikan jika jiwanya tak berada dalam bayangan. Perlahan ia menarik napas dan menahannya beberapa detik hingga sesak menyiksa.
Ini bukan mimpi, raganya masih bernyawa dan rasa sakit tiba-tiba memenuhi rongga dadanya.
Tanpa sosok di sana berbalik, dia tahu. Tanpa laki-laki itu menyapa Kinan mengenalnya karena mereka telah bersama selama dua puluh tahun.
Kenapa dia berada di sini, siapa yang memberitahunya?
Kinan ingin menepuk dadanya tapi kedua tangannya memegang kresek belanjaan. Laki-laki itu ada di sini, setelah setiap malam wanita itu memimpikannya.
Haruskah dia melihatku seperti ini?
Belum terpikirkan untuk pergi dari sana Kinan melihat laki-laki itu berbalik. Dua kresek di tangan jatuh.
Dia juga tidak baik-baik saja?
Mudah bagi keduanya merasakan jiwa masing-masing jika sudah saling bertatapan. Tanpa perlu merangkai kata untuk sapa, cukup dengan pandangan mereka tahu jiwa raganya dalam keadaan tersiksa.
Tatapan pria itu turun karena ada sesuatu menarik perhatiannya. Rahangnya mengerat layaknya seseorang yang kecewa, perlahan dia mendekat pada wanita yang sudah memiliki jiwa raganya.
Tergugu saat ingin menyapa hingga keduanya memilih diam dan saling memandang menunggu langkah kaki mendekat.
Bukan Kinan tapi Naga yang berjalan ke arahnya.
Berpenampilan sederhana, kaos yang dipadukan dengan jaket tidak menutupi perut buncitnya dan kulot diatas tumit. Masker tertahan di dagu wanita itu hingga kantung mata dan wajah menahan beban berat itu jelas terlihat di mata Naga.
Sama halnya dengan Kinan, laki-laki itupun tidak peduli pada barang belanjaan yang jatuh dari tangan wanita itu karena begitu dekat Naga mencium kening wanita itu begitu lama sebelum membawa tubuh Kinan dalam pelukannya.
Tuhan sudah berapa lama ia bertahan seperti ini? Air mata Naga menitik. Dia kesakitan dan merindu, kenapa aku baru menemuinya? Memeluk tanpa menyakiti wanita itu dan Kinan seperti kembali mendapatkan tempat sebenarnya setelah linglung dengan hidupnya.
Tubuh Kinan bergetar, tangannya menyambut pelukan itu. Air mata antara sakit dan rindu kembali hadir. Laki-laki ini yang diinginkannya.
"Papa datang sayang." suara yang hampir tidak terdengar karena tangis yang sedang ditahannya. "Papa menjemput kalian."
Tuhan, aku mencintainya. Kinan berteriak dalam hati. Aku ingin dimiliki olehnya, tidak seperti selama ini, besarkah keinginanku?
Adakah yang lebih berat selain rindu dan sabar?
......yg sudah baca di karyakarsa terimakasih 🥰🥰🥰
KAMU SEDANG MEMBACA
Seutas Rasa
Storie d'AmoreKinan bukan kekasih Nagara tapi Kinan yang bisa mengerti pria itu. Nagara menganggap Kinan sebagai kebutuhan primernya setelah nasi dan tempat tinggal. Ketika dihadapkan pada keinginan orang tua untuk membawakan calon masing-masing, mereka mulai g...
