25 Februari.
Hingga sampai pada saat ini pun, aku masih mengingat mimpi mimpi yang kita buat bersama.
Bermimpi memiliki keluarga kecil dengan dua putri dan pangeran di dalamnya.
Tetapi kenyataan berkata lain.
Sekarang kita tak lagi bersama, bahkan kamu sudah jauh di depan meninggalkan ku.
Dulu kita pernah saling merasa, bahwa bahumu seolah tercipta untuk tempatku bersandar, bahwa jemari kita memang tercipta untuk saling bertautan.
Namun ternyata, kita hanya dua orang yang sedang singgah karena tersesat. Hingga pada akhirnya, kita menemukan jalan pulang yang berbeda.
Aku senang melihatmu bahagia meskipun itu tidak bersamaku. Semoga kamu seterusnya bahagia ya, terimakasih telah ada di hidupku walaupun itu kisah lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
TANPA PAMIT
PoesíaAku kira aku akan berakhir dengan nama belakangmu, duduk di teras rumah waktu pagi dan sore, memperhatikan anak-anak kita tumbuh besar dan kita menua bersama. Aku ingin kamu merasakan teh buatanku karena kopiku tidak baik untukmu. Aku ingin berada d...
