Halaman lima,bukan tanggungan anak

307 34 2
                                    


Jendra sudah berada di kamarnya,ia baru saja sadar dari pingsannya sebenernya jika tidak di paksakan dia tidak bisa beranjak dari sana sekedar untuk bangun saja sangat susah,sakit.

Jadi lah anak itu dengan susah payah,ngesot dengan posisi tengkurap untuk menuju kamarnya untung saja kamar dia berada di lantai bawah jadi tidak usah naik tangga

Bersandar pada kasurnya Jendra melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 1  malam,dia terpejam selama itu?dan benar-benar tidak ada yang membantunya

Sepertinya besok dia tidak akan ke sekolah di karenakan badannya yang masih sakit dan seragamnya kotor karna tadi pria itu menglap darahnya sendiri menggunakan seragamnya

Bodoh,Jendra akui tapi jika tidak di paksa di lap darah itu akan kering dan mana Sudi ibunya mengepel lantai bekas darahnya

Perutnya meronta lapar,dari tadi siang dia belum makan apapun

Bergeser sedikit dengan laci lemari kecilnya,dan beruntung Jendra menemukan cemilan yang di taburi coklat manis walaupun kecil Jendra tetap senang mendapatkannya

Lain kali dia akan stok lebih banyak cemilan

"Kalau besok gak sekolah berarti dua hari gak ketemu Naya"Gumamnya

Jendra rindu gadis cerewet itu

"Dia baik-baik aja kan?"katanya lagi,entah pada siapa

"Semoga dia gak nyakitin dirinya sendiri"

Pintu terbuka,Jendra terkejut kala menemukan Juan dengan piring yang di isi nasi dan lauk,porsi banyak

"Syutt,jangan berisik ketauan ayah gue bisa mati"ucapnya masuk mengengdap

"Nih"Ia serahkan makanan itu pada Jendra

"Belum tidur atau kebangun?"kata Jendra

"Mana bisa tidur gue anjing, takut-takut Lo mati jadi gue dikit-dikit ngintip dari atas Lo udah sadar atau belum"katanya dengan berbisik

Jendra ketawa kecil

"Jangan salah sangka,gue bukan khawatiriin Lo atau peduli sama Lo,gue cuma merasa bersalah kalau Lo mati arwahnya bisa aja ngikutin gue"sangkal Juan

"Iya,iya"Jendra mengalah

"Lo habisin makanannya dan sorry gue gak bawa minumnya,gue takut ketauan ayah"

"Gapapa makasih"

"Gue balik ke kamar"setelahnya pintu kamar Jendra tertutup pelan

"Kamu khawatir Juan"kata Jendra sambil terkekeh







Naya berdiri di pintu kelas 10 IPA 2, dirinya menunggu Juan untuk bertanya kemana Jendra tak sekolah

Naya jelas cemas

"Juannya ke kantin deh kayaknya"beritahu salah satu temannya

"Ada perlu apa cari gue?"

"Nah tuh Juan,aku duluan kak"si cewek--teman sekelas juan itu berlalu keluar

"Jendra kenapa gak masuk sekolah?"

Juan diam,masih menatap Naya bingung,kenapa gadis itu tahu?

"Sakit"Jawabnya acuh

"Dia demam atau gimana?"tanya Naya khwatir lagi, takut-takut jika Jendra di siksa

"Ya mana gue tau,gue gak peduli juga"

"Sialan Lo,sama aja kayak mereka"Naya berlalu pergi

Juan mendesis sambila terkekeh "Cantik juga pacar si Jendra"



"Ibu,tolong kasih tau alamat ayah dimana"

"Saya gak tahu!"

Jendra mohon-mohon pada Aruna,dia tadi mendengar ibunya bertelepon dengan seseorang dan mengucap "ayah Jendra kembali?"dan Jendra duga pasti Aruna punya alamat ayahnya

Dia ingin sekali saja seumur hidup bertemu dengan ayahnya

Karna sejak lahir tidak pernah,dia lahir saja di adzani kakeknya,dan sekarang beliau sudah tidak ada

"Ayah kamu saja pasti malu dan tak ingin bertemu dengan beban seperti mu"kata Aruna

"Gapapa Bu yang penting Jendra bisa ketemu ayah sekali aja seumur hidup"

"Cih,pria brengsek itu"gumam aruna kecil

"Ibu,Jendra mohon"

"Diam kamu! gimana kalau ayah Juan pulang dan denger kamu mohon-mohon kayak gini, saya gak akan pernah mau mempertemukan kamu dengan ayah kandungmu,muak saya"jelas Aruna lagi

"Ibu, sekali aja"

Aruna menatap mata Jendra, terbesit sekali bayangan cinta pertamanya itu

"Kenapa kamu mirip dia,ini nyiksa saya"batinnya.


"Kenapa kamu mirip dia,ini nyiksa saya"batinnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Juan gengsi nya kurangin deh,kasian kakakmu(´ . .̫ . ')

𝑫𝒂𝒌𝒔𝒂 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒊𝒃𝒖Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang