halaman tujuhbelas,benci dan cinta?

232 22 0
                                    


Pagi di hari Minggu ini sangat cerah dan sejuk, cocok untuk berpergian.Sama halnya juan sudah rapi dan wangi tapi ia jenuh karna menunggu sang ibu yang tak kunjung datang "ibu cepet!om itu orang sibuk loh kalau pag-"--"IYA IBU DATANG"Jawab Aruna sembari turun tangga dengan dandanan sangat cantik dengan sedikit olesan lipstik yang tak terlalu mencolok

"Mau kemana nih?"Regan bersuara sembari memasang dasi

"Kamu hari ini kerja?"tanya Aruna, biasanya suaminya itu kalau Minggu libur

"Iya ada meeting mendadak sama klien.Kayaknya perusahaannya setuju buat kerja sama"jelas Regan

"Kamu mau kemana sama Juan?belanja?"

"Ini Juan maksa banget buat ketemu sama orang yang udah nolong dia"

"Pagi-pagi banget"

"Iya,om itu orang sibuk"celetuk juan so tau

"Jendra kemana anak itu?"tanya Regan,hanya penasaran

"Kayaknya masih tidur karna kecapean pulang kerja"Juan menyahut

"Keenakan."dengus Regan kesal











Jendra memijat pelipisnya, kepalanya berat sangat pusing bahkan dari semalam dia tidak bisa tidur

Akhir-akhir ini dia jarang makan

Bibir keringnya merintih memegangi perutnya yang kesakitan "Arghh tolong jangan sekarang"

Mata sayunya mengeluarkan air, wajahnya sangat pucat siapapun yang melihatnya pasti akan kasihan

"Ibu..ini sa-sakit bang-arghh"

"I-ibu tolong"

Jendra menangis

"Ibu Jendra mau peluk"

Sendirian ia di kamarnya

"Demi apapun,perut Jendra kayak di tusuk Bu,sakit"

Memanggil sang ibu yang tak kunjung datang

Dan tak akan pernah datang

Sampai pria lemah itu terpejam








"Ini bener rumahnya?"tanya Aruna tak yakin,takut saja jika Juan salah rumah

Pasalnya rumahnya sangat besar dan Megah sekali

"Iya"

"Ini dengan siapa?"tanya sekuriti yang sedari tadi menjaga gerbang

"Saya pak,masih kenal kan?saya ada urusan sama om saya"celetuk Juan yang mendapat tatapan tajam dari Aruna

"Ohh saya ingat,baik silahkan masuk"membuka gerbang dan keduanya masuk ke dalam

"Ini beneran boleh masuk?"Aruna berbisik yang di angguki Juan

"Kok kosong?dia udah pergi?"tanya Aruna lagi

"Masa sih--eh itu Bu"

"Om!!"Juan melambai

Pria itu menoleh "kamu lagi?!"

Aruna terdiam tiba-tiba saja tangannya gemetar, langkahnya memundur

"Aruna?"tanya pria itu

"Om kenal ibu saya?Bu,ini loh orang yang nolong Juan kemarin"

"Kaparat!enyah kamu di hadapan saya!"aruna berteriak ketakutan

"Bu,jaga ucapannya"Juan tak enak

Mengabaikan ucapan Juan Aruna lebih memilih berlari pergi dengan tangis dan badan gemetar

Tidak boleh,orang itu tidak seharusnya ada di hadapan dia

Tidak seharusnya orang itu kembali

Tidak seharusnya orang itu membuatnya kembali mengingat kejadian buruk yang membuatnya akan bunuh diri

"Aruna! berhenti"pria itu mencekal tangan Aruna dengan cepat aruna hempaskan

Tatapan mata Aruna penuh dengan kebencian "Lepasin saya!"perintah Aruna

"Maaf.."

"Setelah apa yang kamu lakukan pada saya kamu hidup bahagia? benar-benar menjijikan!"

"Aruna tolong"

"BERHENTI SEBUT NAMA SAYA PRIA SIALAN!"

Mendengar suara pria itu aruna jadi ingat kembali suara racauan menjijikan miliknya

"Dimana,anak kita?"tanyanya

"Masih inget kamu sama dia? setelah kamu hancurin masa depan saya dan pergi seenaknya?"

"Bukan.Kamu salah paham"

"JANGAN SENTUH AKU BARA!"Aruna berteriak kembali,dirinya menangis

Juan yang sedari tadi menatap jadi bingung,kenapa jadi bertengkar

"Apakah anak itu?"tunjuk pria bernama bara itu

Ia menunjuk Juan

Aruna masih diam "Tidak akan pernah saya perlihatkan wajah anak itu padamu!anak itu menjijikan,anak itu yang membuat saya selalu mengingatmu,anak itu menyiksa saya!"

"Kamu menyiksanya?kamu gila Aruna?!"

"KAMU YANG LEBIH GILA! MENGHANCURKAN MASA DEPAN SAYA DAN PERGI SEENAKNYA TANPA BERTANGGUNG JAWAB DAN SEKARANG?HIDUP KAMU BAHAGIA? BRENGSEK"

"Aku bisa jelasin"

"Muak saya denger suara kamu,jangan pernah muncul lagi di hadapan saya"

Aruna hendak pergi tapi badannya di tarik ke dada bidang bara

Aruna menangis

Sentuhan itu, pelukan itu,deru nafas dan farfum yang masih sama membuat Aruna lagi-lagi mengingat semua kejadian tempo lalu

Tapi ia tak bisa berkutik,ia merindukan pelukan ini

Dia tersadar lalu memberontak, badannya gemetar, tiba-tiba saja pikirannya melayang pada kejadian kelam masa itu

Terbayang

Suara mereka

Sentuhan yang bara berikan

Berputar di otaknya dan berisik di telinganya

"ARGHHHHHH BRENGSEK SIALAN!!"























𝑫𝒂𝒌𝒔𝒂 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒊𝒃𝒖Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang