halaman empatbelas,Palaroid

202 26 3
                                    


"Kenapa wajah kamu jadi biru gitu Juan"Aruna pelan-pelan mengobati wajah anaknya yang lembam sehabis pulang sekolah,pulangnya telat

Juan diam tak membuka suara,dia ragu harus mengadu atau hanya tetap diam

"Apa di sekolah kamu di tindas Jendra?!"

Juan menggeleng

"Terus kenapa?"

"Sayang!!"

"Di kamar Juan!"teriak Aruna saat mendengar teriakan Regan

Pintu terbuka "lagi ngap--JUAN WAJAH KAMU KENAPA!"

Kan Regan juga panik

"Dia belum ngasih tau dari tadi"kata Aruna

"Kamu kenapa?ada yang mukulin kamu kan, siapa?jawab!"desaknya marah

Juan masih diam,takut

"Gak mau ngomong kamu?!"

"Juan mau pindah sekolah".











"Tuh,bagus kan?"

Jendra menoleh matanya tiba-tiba berbinar "wahh bagus banget!"

Naya sibuk memamerkan Poto palaroid yang baru saja di cetaknya,Poto dirinya,Jendra dan raha di kebun binatang kemarin tapi di Poto ini kebanyakan palaroid Jendra dan Naya

Ya iyalah pacarnya.

"Mau minta satu boleh?"tanya Jendra hati-hati

Naya tentu mengangguk

Pria itu mengambil palaroid dirinya sendiri yang tengah tersenyum lebar dengan pinguin yang di tutupi kaca bening di belakangnya,candid yang bagus

Naya menggerutu "Ih kirain mau ambil Poto kita berdua"

"Boleh?"

"Ya boleh"

"Yaudah aku ambil lagi"Jendra mengambil lagi palaroid dirinya dan naya yang berdiri kaku,sangat formal

"Mau yang itu?"Naya merasa jijik karena di Poto itu dia sedang degdegan jadi kaku

Juan mengangguk

"Padahal masih banyak yang bagus,tuh yang kita gandengan aja ada"

"Aku suka ini"kata Jendra pada akhirnya








Jendra membuka pintu, untung saja orang rumah masih mempunyai hati untuk tidak mengunci pintu karna tau Jendra selalu pulang malam

"Pulang kerja?"

Jendra menoleh "Juan,wajah kamu kenapa perasaan kemarin aku gak liat kamu kayak gitu"Jendra menghampiri

"Ya iyalah,Lo asik liburan sama pacar Lo"celetuk Juan

"Bukan pacar"Jendra mengelak

"Terserah."

"Kamu di pukul Shaka?"

Juan membuka kulkas,tak menghiraukan ucapan Jendra barusan

"Kamu di pukul Shaka atau Zidan?"tanya Jendra lagi

"Apa sih Lo,bawel banget nanya-nanya kayak berani aja mukul mereka buat gue"

"Berani"

Juan terkekeh "Lo di tindas Zidan aja udah pasrah,udahlah jangan jadi sok berani di depan gue,kita itu sama-sama penakut".


𝑫𝒂𝒌𝒔𝒂 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒊𝒃𝒖Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang