Puisi Delapan Puluh Empat
"Hilang"
disuatu hari aku pernah bermimpi
bahwa dia adalah kamu
kita;
salah satu dari bagian cerita
tak lagi bertegur sapa
tak lagi bertanya makna
hingga dipaksa biasa
imajinasiku berisik;
senja bergaun pelangi
kunang biru memeluk rembulan
kemudian,
matahari merapuhkan segalanya
jangan, tak ada lagi kita
hanya aku dan kamu
kembali menjalani hidup di
cerita masing-masing
tanpa terhenti
tanpa menoleh
karena,
masa laluku hilang
Palur, 26 Maret 2022
8:32 pm
—matchalatte
follow my instagram
"rachmalianh"
*dilarang keras menulis ulang puisi ini di platform manapun tanpa menuliskan sumber
*jika ingin menggunakan puisi ini, silakan izin terlebih dahulu
sankyuッ
