Puisi Tujuh Puluh Sembilan

2.2K 26 1
                                        

Sebelumnya aku mau ngasih tau kalian, apa alasan aku sampai saat ini masih update PUISIKU
Tidak ada pertimbangan apapun
Aku mau ngucapin makasih udah mau baca PUSIKU hingga part ini :) Padahal aku gak minta kalian buat nungguin


☄☄☄

SUDAH SAMPAI HALAMAN
BERAPAKAH KITA?

Semenjak perpisahan dua tahun lalu
Pertemuan denganmu menjadi mahal harganya

Kepergianmu begitu mencekam
Kata tak lagi menampakkan pelanginya
Sosokmu tak lagi bersketsa apalagi nyata
Takutku, ketika kamu pergi lupa akan kembali

Hampa, tapi tenang
Ruang kamar hanya berisi lantunan lagu
Pernah kubaca sebuah tulisan
"Jika seorang wanita menulis tentangmu, ada dua kemungkinan. Ia mencintaimu, atau membencimu"
Dan kurasa kamu tahu jawabanya

Alasan aku masih menyukaimu?
Sebenarnya sudah mati, hanya saja hidup kembali
Hidup bersama sebuah prolog yang berisi ketidaksengajaan
Yang kukira di halaman pertama aku sudah mengikhlaskanmu
Namun nyatanya tidak

Tidak. Aku tidak merutuki
Biar saja mengalir dengan sendirinya
Karena kamu, selamanya akan tetap kamu
Dan selagi masih kamu
Aku harap halaman akhir tidak cepat datang
Karena epilog adalah sebuah ketidakmampuan
Ya, ketidakmampuan yang berujung perpisahan

Jadi, sudah di halaman berapakah kita?
Aku jawab
Pertengahan...
Hingga sebuah pertanyaan menemukan jawabnya
"Kamu akan menetap atau pergi dari Yogyakarta"

Palur, 15 Agustus 2020
00:00 am

☄☄☄

Terimakasih sudah membaca
"PUISIKU"

PuisikuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang