Telah Terungkap

402 48 16
                                        

"Untuk sekarang kumpulkan puppet yang tersisa, jangan biarkan satu barangpun tertinggal." Perintah Granger tegas.

Para prajurit Moniyan segera melaksanakan perintah dari Granger, sementara Tigreal mendapat panggilan dari Silvana dan mau tak mau Granger menggantikan posisinya sementara.

"Ayo, Gwen. Sekarang kita ke---" Ucapannya terhenti ketika ia berbalik namun tak mendapati sang gadis Baroque yang seharusnya berada disisinya. "Guinevere? Guinevere?!" Panggil Granger keras.

Sayangnya tidak ada satu helai rambut pun terlihat dari sosok majikan bernama Guinevere. Granger tetap bersikap tenang sembari memutar otak, Kemana biasanya dia pergi saat bosan?

Hanya ada satu tempat yang terlintas dalam benaknya, ia mengambil langkah besar menuju tempat kedua bagi Guinevere disaat bosan atau hanya sekedar lewat.

Tidak butuh waktu lama Granger telah sampai tujuan, dia langsung membuka pintu dari bangunan yang terlihat hampir roboh dengan kasar sampai penghuni tempat itu menarik perhatian pada Granger.

"Hey! Apa orang tuamu tidak mengajari cara mengetuk pintu?!" Omel Kimmy kesal.

"Mereka sudah mati." Balas Granger singkat, "apa Guinevere kesini?"

Gadis bernama Kimmy menaruh obeng sebelum menjawab dengan raut penasaran. "Tidak, jikapun iya dia pasti memilih untuk duduk di luar karena di dalam sini sangat panas."

Seketika perasaan Granger berkecampuk aduk, ini kedua kalinya Guinevere menghilang dari pengawasannya. Mungkin saja gadis itu diculik tanpa sepengetahuan Granger, atau terhipnotis. Granger tidak akan memaafkan dirinya bila gadisnya terluka walau hanya sedikit.

"Granger...? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Kimmy pelan.

Granger tak menjawab, pria itu langsung pergi dan mengabaikan teriakan memanggil dari teman majikannya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Granger tidak pernah sepanik ini. Wajahnya yang dingin dan datar kini menampilkan sebuah ekspresi cemas tak tertahankan.

"Ada dimana kau... Guinevere!"

.
...

Selang beberapa waktu telah berlalu, kedua mata sang gadis terbuka secara perlahan. Membiasakan penglihatan sembari menahan rasa pening di kepala, Guinevere memijat keningnya untuk mengurangi rasa sakit, setelah dirasa sudah cukup membaik. Dia memperhatikan sekitar yang ternyata masih di tempat yang sama dan berada di samping sel temannya, Fanny.

"Fanny!---"

BRUK

"Adaw!"

Guinevere merasa menabrak sesuatu, namun objek yang ia tabrak sama sekali tidak ada sehingga membuatnya bingung. Pelan-pelan tangannya mencoba meraih ke depan, telapak tangannya merasakan adanya penghalang---atau bisa dibilang adalah Kurungan Tembus Pandang.

Guinevere mencoba mendorong sampai memukuli tembok tak terlihat yang mengurung dirinya, namun usahanya sia-sia karena kekuatan dari kurungan itu sangatlah kuat.

Tatapannya tertuju ke depan, terdapat seorang pria muda seperti sedang melakukan sesuatu terhadap bola yang dilapisi dengan cahaya biru. Guinevere menyipitkan kedua matanya, mencoba mengingat dengan benda bercahaya itu yang besarnya hampir memenuhi ruangan.

"Ah! I-itu inti sihir Lumina! Apa yang kau lakukan, Divus?!" Tanya Guinevere tegas.

Pria bernama Divus tak mengubrisnya, wajahnya terlihat fokus serta mulutnya tak berhenti mengucapkan mantra.

"Jawab aku!"

Akhirnya pria itu berkesempatan untuk melirik kearah Guinevere tanpa menunda pekerjaannya. Wajah Divus terlihat serius dan dingin, seolah mengintimidasi lawan bicara tanpa ampun.

Jangan Ikuti Aku! (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang