"Aku tidak butuh budak dingin macam dia!"
Keputusan orang tuanya membuat Guinevere pusing setengah mati, rasanya belum cukup menjodohkannya dengan pria dari keluarga Paxley. Kini mereka menyewa seorang pemain biola terburuk untuk menjaganya!
Apakah...
Keadaan kota Lumina telah membaik dan menjalani kehidupan seperti biasa tanpa ada lagi rasa teror. Orang-orang telah melupakan yang telah berlalu walau terasa berat, namun bagi mereka yang telah berjasa akan terus dikenang.
Di taman luas yang telah tersusun banyak kursi serta hiasan-hiasan pada setiap bangunan dan berbagai arsitektur lainnya dengan bernuasa mewah. Disana mampu menampung lebih dari 20 orang, namun untuk hari ini saja serta keinginan dari pihak penyelenggar hanya ingin mengundang beberapa kerabat terdekat serta pemimpin tertinggi. Beberapa sudah hadir dan memilih untuk berbincang atau sekedar menikmati jamuan yang telah tersedia.
"Selamat datang Yang Mulia Silvana, sebuah kehormatan anda meluangkan waktu untuk menghadiri pernikahan adik saya." Lancelot memberi salam dengan sopan. "Silahkan menikmati jamuan sembari menunggu kehadiran calon pengantin."
Silvana tersenyum lembut, gaun dengan warna biru dihiasi dengan ornamen yang mengkilap, rambut panjangnya dibiarkan terurai dengan beberapa perhiasan pada sisi rambut. Penampilan sungguh menawan bagi seorang calon Ratu Moniyan, "Terima kasih. Aku mengucapkan selamat untuk pernikahan adikmu, Guinevere. Kelak dia akan menjadi seorang Ibu yang baik."
Selagi bagian taman utama disibukan untuk menyambut tamu, beberapa pelayan tengah sibuk mendadani sang calon pengantin wanita. Hanya tinggal diberi sedikit sentuhan untuk bagian wajah, sang penata rias turut senang dengan hasil karyanya. Sementara untuk bagian gaun serta aksesoris lainnya telah selesai di rancang secantik mungkin.
"Anda sungguh cantik, nona Guinevere! Seperti diberkati langsung oleh Dewi Aphrodite." puji dari penata rias.
Guinevere membuka kedua matanya dan mendapati dirinya dari pantulan cermin. Ukiran senyum kecil tergambar pada paras cantiknya mengagumi penampilan diri sendiri. "Kau sangat berlebihan."
"Gila! Cantik sekali kawan kita satu ini!" seru Kimmy dari belakang, kemudian dia melangkah besar mendekati Guinevere.
"Sudah keduluan saja bahkan jodohku masih abu-abu." Fanny berkeluh kesah.
Guinevere tertawa kecil sebelum menanggapi. "Iyakah? Bagaimana dengan pria bersama teman monyetnya yang waktu itu kau ceritakan?"
"D-dia itu pencuri! A-aku cuman bilang kalau dia itu cuman sering datang tiba-tiba lalu melempariku dengan bunga!" kedua pipi Fanny seketika memerah. "Sekarang lebih penting adalah menyemangatimu."
Kimmy dan Fanny saling memeluk Guinevere. Gadis violet itu merasa senang dan bersyukur memiliki kedua sahabat yang selalu berada di sampingnya sampai dia akan menjalani kehidupan baru.
Pintu ruangan itu terbuka dan menampilkan seorang pria dengan jas hitam rapih. "Sebentar lagi akan dimulai."
Guinevere mengangguk. "Sudah waktunya, aku harus bergegas."
"Hey Gwen... Kau bahagia, 'kan?"
Guinevere terdiam sejenak. Hari pernikahannya telah tiba, sekilas dia mengingat masa-masa dimana kedua orang tuanya terus memaksa bahkan sampai menjodohkan dirinya. Namun siapa sangka gadis nakal pemberontak itu kini memakai gaun pengantin dan menghadiri akad.
Dia berbalik dengan senyum manis. "Tentu saja aku bahagia."
Fanny dan Kimmy turut senang. Bersama, mereka menemani Guinevere dengan tawa ria dan akan terus menyimpan kenangan manis ini.
💐💐💐
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.