EPISODE 14

0 0 0
                                        


Tepat ketika alarm jam 7 ku berbunyi. Aku langsung bergegas mengambil kunci mobil dan memanaskan nya.

Sebelumnya aku belum pernah se antusias ini, biasanya jam 7 aku baru saja bangun tetapi kali ini berbeda… jam 7 pagi ini aku sudah mandi, menggunakan seragam dengan rapih, sarapan, dan memberi makan si Boy.

Hal-hal yang biasanya kulakukan sekitar jam 7:15 itu kini menjadi lebih pagi jadwalnya.

Aku sengaja melarang Acil untuk berangkat bersamaku, ada 2 alasan kuat untuk menolak Acil.

Yang pertama adalah karena dia manusia yang berpotensi menghancuran rencana orang lain, dan yang kedua adalah karena jika Acil ikut bersamaku pasti akan telat, yaa persis seperti hari ini dimana Acil baru saja selesai mandi dan masih mengeringkan rambut karena Acil itu tukang ngaret.

Aku mulai mengeluarkan moncong Toyota camry ku dari garasi.

Mobil ini sebenarnya baru saja dikembalikan setelah dirental oleh temanku dan aku belum mengecek sama sekali kondisi nya apakah sudah diganti oli, apakah ada yang rusak.

Bukan karena aku tidak mengurusnya, bukan karena aku tidak paham, aku bahkan punya Bengkel sendiri untuk menyalurkan hobi ku.

Tapi entah kenapa sejak bangun tidur pagi ini pikiranku hanya tertuju ke satu kalimat yaitu “Jemput Viera”.

“VIERRAAA!” vn ku lewat Whatsapp dengan suara seperti anak kecil kegirangan.

Saat ini posisiku sudah didepan rumah Viera. Alasan aku masih belum berani langung menyapa adalah karena sejak memasuki perumahan banyak orang yang memandang mobilku dengan pandangan yang kurang enak dilihat.

Aku menekan tombol telepon berkali-kali saat itu.

“SABAR GUA LAGI DANDAN” chat Viera dengan aksen capslock membuatku menahan diri untuk mengganggu nya.

“tunggu… dia dandan demi ketemu gua? Gamungkin kan?” monolog ku setelah membaca chat dari Viera berulang-ulang kali.

Sudah 5 menit lebih sejak Viera mengirim chat nya tadi namun tetap tidak ada tanda-tanda kehidupan dari rumahnya.

Pemandangan yang kulihat justru Zian membuka pintu rumah dan berjalan kearah mobilku.

“CIEE… mau jemput kaka gua yak?” kata Zian meledek dari jendela dan aku tidak berniat membuka jendela nya sama sekali.

*whatsapp view

ADEKNYA XAVIERA
ADEKNYA XAVIERA: woi buka napa sombong amet lu. Perjanjian gua sama kakak gua hari ini itu dia nganterin gua.
ADEKNYA XAVIERA: nah karena hari ini lu yang nganterin kakak gua berarti otomatis lu nganterin gua juga. BURUAN BUKA!

Begitulah Chat Zian sebelum aku membukakan pintu dan memandangi Zian dengan tatapan malas.

“sama aja kayak Acil tukang rusuh” batinku sekaligus menggerutu.

“lu tuh ya gar, Gausa sombong mentang-mentang gua adeknya” nyinyir Zian dari belakang tidak tahu diri padahal sudah kuberi tumpangan.

“iya bocil berisik. Buruan pangil kakak lu” balasku malas berdebat pagi ini.
Sudah hampir 15 menit dan baru saja ada penampakan batang hidung Viera.

Aku langsung keluar menghampiri nya dan membuka kan pintu mobil. kemudian aku langsung menyalakan mesin mobil dan melaju secepat mungkin karena sebentar lagi gerbang sekolah akan segera ditutup jika tidak di gas penuh.

Belum lagi perihal ketemu kemacetan di perempatan.

“ini mobil lu?” Tanya Viera sambil melihat-lihat interior dari Camry ku yang tampan ini.

“iya dong” ucapku bangga.

“paling juga dikasih ortu” ucap penumpang belakang tidak tahu diri itu.

“dih gua kerja, gua punya Bengkel, gua sering ngisi seminar. Mobil ini emang dari ortu tapi gua beli sendiri” balasku dengan agak menyombongkan.

“dari ortu tapi beli sendiri? Gimana maksudnya?” Tanya Viera terlihat tidak paham apa maksudku.

“iya ini dulu punya ortu gua cuman pas dia beli Alphard mobil ini dia jual ke gua. Yauda gua beli” jawabku santai dan menciptakan hening selama beberapa waktu kedepan.

Akupun menyetel playlist fav ku di mobil itu untuk memecahkan keheningan.

“ih kok lagunya gini sih. Ganti ah BTS aja” ucap penumpang belakang membuatku tersenyum licik.

Kemudian akupun menyetel lagu yang di request olehnya. BTS Permission dance.

“lu sk bts zian?” tanyaku dibalas anggukan darinya.

“kalo lu Ra?” tayaku kali ini ke Viera dan dibalas gelengan.

“hhmm zian, BTS itu... yang plastik kan? Yang make up nya kayak banci” ucapku meledek Zian setelah tau bahwa Viera tidak suka jadi aku bisa meledek sepuasnya.

“kak kok lu mau sih kak sama yang begini?” Tanya Zian ke Viera membuatku tertawa kecil.

“hahaha yauda sih biarin aja becanda doang dia. Orang dia juga tiap hari nonton nya korea mulu di Netflix. Iya gak gar?” Tanya Viera membuatku berhenti tertawa dan menahan senyum.

Selama sepanjang perjalanan aku tidak kepikiran lagi untuk meledek Zian. Aku masih terngiang-ngiang dengan panggilan yang Viera barusan lontarkan kepadaku.

“gar?!” Tanya batinku sambil teriak-teriak tidak karuan padahal itu panggikan biasa namun terdengar luar biasa ketika keluar dari mulut Viera. Kondisi hati sudah tidak aman.

*****

hati & logikaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang