Bercerita tentang Asyhila Nurqyah Arabella gadis yang polos, lugu, manis dan tidak lupa akan senyuman cerianya ke semua orang. Namun dibalik keceriaan yang gadis alami ini memiliki penderitaan yang enggan untuk berbicara kepada siapapun.
Namun secar...
Riana tersenyum lalu berpikir "Umm. Tengah malam kayanya, bunda juga lupa hehe."
Syhila hanya tertawa kecil "Bunda jaga kesehatan, ya. Syhila gak mau bunda sakit." ucap gadis itu khawatir.
Riana terharu lalu mengecup puncak kepala Syhila lembut "Iya, bunda janji."
Bi May yang melihat kedua interaksi anak dan ibu itu hanya tersenyum bahagia. Walaupun dalam hatinya ingin sekali melaporkan kejahatan yang selama ini Aurel perbuat. Tetapi nyali wanita paruh baya itu sangat kecil akibat ancaman Aurel.
"Yaudah, yuk kita sarapan." ajak Riana lalu menuntun Syhila ke meja makan.
Mereka pun sarapan dengan santainya sambil bercanda kecil yang membuat kedua lupa bahwa ada orang yang sedari tadi menatap mereka dengan sorot kebencian. Oh, bukan lebih tepatnya hanya kepada Syhila.
"Pagi, Ma." sapa Aurel lalu mencium pipi Riana sekilas.
Riana tersenyum lalu membalas mengecup pipi Tasya lembut "Kok baru bangun, sayang?" tanya Riana.
Aurel menoleh "Habis ngerjain pr banyak banget, Ma. Jadi kesiangan." ujar Aurel berbohong. Aurel memang memanggil Riana dengan sebutan 'Mama' berbeda dengan Syhila yang sudah terbiasa dengan sebutan 'Bunda'.
"Yaudah, Aurel berangkat ya." ucap Aurel bersiap pergi tetapi diurungkan karena suara Riana.
"Syhila gak kamu ajak? Ayok, Syhila berangkat sama kak Aurel." ucap Riana yang hanya melihat Syhila yang sedari tadi diam.
"Eh, Syhila pake sepeda aja, bun. Lebih sehat." alibi gadis itu padahal sebenarnya ia tidak mau Aurel mengamuk padanya karna ia ikut dengannya.
"Ngga, kan bunda udah bilang kamu bakalan berangkat sama kakak kamu setiap harinya." putus Riana kekeuh.
Aurel menggerutu dalam hati tetapi masih menampilkan senyumnya "Yaudah, Syhil buruan entar telat." ajak Aurel seramah mungkin lalu melenggang pergi terlebih dahulu.
Syhila termenung kembali. Baru kali ini Aurel memanggilnya dengan sebutan namanya.
"Sayang, buruan gih." suara Riana lantas membuyar lamunan Syhila.
Syhila berdiri lalu menyalimi sang bunda "Syhila pamit, bun. Assalamualaikum." pamit Syhila lalu melangkah pelan.
Gadis itu membuka pintu depan mobil dan duduk dengan hati-hati.