Keenan bingung. Mampus. Salah sendiri mau sok-sokan bikin fase-fase deketin cewek. Padahal, dengan Keenan bikin Jeje nyaman, udah cukup. Keenan terlalu ribet.
Seperti sekarang, ia sedang sibuk mencoret-coret di papan tulis kamarnya di jam 2 malam. Oh, sangat niat. Jam 2 malam bayangkan. Disaat semua orang sedang terlelap dalam mimpinya, sedangkan Keenan sedang terjaga dengan papan tulis konyolnya.
"Buset," cercanya. "Mati kutu, gue."
Keenan mengacak rambutnya sendiri. Juga, menjambakinya kecil-kecil. Rambut yang udah awut-awutan, makin gak jelas bentukannya. Tapi, Keenan menanggapinya, orang ganteng diapain aja ganteng. Bebas.
Kan, kampret.
"Ah, ketemu," senyum miringnya muncul. "Fase kedua gue, pasti berjalan mulus."
♤
"Dih, Keenan tumben banget," seseorang berbisik. "Gak biasanya dia peduli gitu sama Jeje."
Yang diajak bisik-bisik mendecak. "Gue denger, Keenan lagi mau pedekate-in Jeje gitu. Di buat mainan gak sih?"
"Palingan jadi mainan. Mana pernah Keenan serius."
Cewek yang satu lagi manggut-manggut doang. Haris yang kebetulan mendengar itu, lantas menceletuk, "shut your mouth, btch. Kalian gatau apa-apa," dengan datarnya.
Dua cewek itu langsung diam, dan pura-pura sibuk dengan buku paket. Haris melihatnya jengah. Terlalu heboh. Dikit-dikit di gosipin.
Keenan masuk ke dalam kelasnya dengan cengiran lebar. Saat berjalan ke bangkunya, muncul ide untuk lebih mendekati Jeje. Ia pun berbalik dan duduk di bangku Jeje.
Haris cengo liatnya.
"Lo ngapain duduk disitu?" Tanya Haris menghampiri Keenan.
"Fase, inget?" Keenan tersenyum lebar.
Haris memutar kedua bola matanya. "Pagi-pagi, lo udah di gosipin tuh."
"Biarin aja. Gausah di ambil pusing."
Keenan dan Haris sedang mengobrol ringan sampai satu suara menginterupsi mereka.
"Loh, loh, kok lo duduk disini?"
Jeje menatap Keenan dengan wajah bingungnya. Keenan menanggapinya dengan kekehan.
"Mau deket sama lo. Gapapa 'kan?"
"Ini 'kan tempatnya Rama."
"Nanti biar Rama duduk sama Haris."
"Serah lo deh," Jeje memutar matanya, dan segera duduk di samping Keenan.
Keenan memberi aba-aba pada Haris agar kembali ke tempat duduknya. Keenan segera melancarkan aksinya.
"Lo ngapain?" Tanya Keenan. Memusatkan perhatiannya pada Jeje.
"Nyetrika baju," sahut Jeje ketus. Padahal dalam hati udah kegirangan. Bayangin dong, duduk berdua sama cowok yang lo suka? Tapi tetep jaim.
"Yaila, serius kali."
"Ngerjain pr, Nan."
Mata Keenan melotot sempurna. "Emang ada pr hari ini? Mapel apaan?"
"Kimia," jawab Jeje cuek.
"Mampus!" Keenan menepuk jidatnya. "Nyontek dong. Bagi-bagi."
"Engga-engga," Jeje melindungi buku latihannya. "Kerjain sendiri!"
"Idih, pelit banget lu sama cogan begini."
"Ora urus."
Keenan mendecak. Pasrah mau dihukum guru Kimianya dengan apapun. Tapi, satu ide muncul.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Boyfriend
Teen FictionOrang gila mana sih yang gak pengen punya pacar yang perfect? Kalo kalian gak merasa, mending periksain diri ke dokter jiwa! Dia, si cowok paling perfect seantero sekolah. Saking perfectnya, sampe php sana-sini. Gue pun kena php-annya. Sial! Berkat...
