Warning: no edit, typo(s) is everywhere.
-----
Jeje merasa bingung. Setiap saat, Keenan selalu saja gencar mendekati dirinya. Tak peduli tatapan horor dari Rama. Setidaknya, Jeje cukup terharu dengan sikap Rama. Meskipun Rama sedang 'mendiaminya' tapi, Rama masih peduli dengannya.
Seperti pagi ini, Keenan mengajak Jeje untuk sarapan bersama. Keenan membawa bekal sandwich untuk dua orang yang Jeje rasa Keenan sudah merencanakannya.
Sebagai seorang manusia yang masih memiliki hati, Jeje pun mengiyakan permintaan Keenan yang ingin sarapan bersamanya.
"Enak?" Tanya Keenan sambil mengunyah gigitan sandwich terakhirnya.
"Banget," aku Jeje sambil memakan sandwichnya dengan semangat. "Beli dimana?"
Senyum Keenan luntur. "Sya, kitati gue. Gue bikin sendiri, pake hati pula. Ini malah dibilang beli," gerutu Keenan.
"Sejak kapan lo bisa bikin beginian?" Tanya Jeje sangsi. "Perasaan waktu kita ...." Jeje tidak meneruskan kalimatnya. Ia sudah berjanji untuk tidak mengingat masa-masa itu lagi. Masa dimana ia sempat merasa terbang, lalu di jorokkin Keenan lagi ke tanah, dan nyungsruk.
Oh, itu sangat sakit, teman.
Keenan mengangkat sebelah alisnya. "Kok, gak diterusin?"
Jeje menggeleng kuat. "Gak. Hm, gue abisin ini dulu, ya?" Jeje kembali makan kembali sandwich buatan Keenan.
Suasana makin hening di pagi hari yang cerah itu. Hanya hembusan angin yang menerpa keduanya. Jeje terdiam dengan segala pemikiran-pemikirannya. Tentang; mengapa Keenan mendekatinya lagi; kemana Alexa yang biasanya ngekorin Keenan; dan mengapa Keenan sampai membuatkannya sarapan.
"Sya," panggil Keenan. Lantas, Jeje menoleh. "Lo ... apa lo suka sama Adit?"
Ini pertanyaan sensitif, batin Jeje, gue mesti ngehindarin ini. Ini kenapa bel lama banget, dah?
"Hmm... itu ... itu ..." Jeje celingak-celinguk ke kanan dan kiri, melihat keadaan taman samping sekolahnya itu, mengapa sangat sepi. "Eh, kok sepi, ya?" Tanya Jeje mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Sya, jangan ngalihin pembicaraan dulu."
Jeje mulai menggigiti jarinya. Terus merapalkan doa dalam hati agar bel cepat berbunyi. Sungguh, ia tidak siap untuk menjawab pertanyaan yang di lontarkan Keenan.
Jika Jeje jawab 'enggak' Keenan pasti akan berpikir kalau Jeje masih belum bisa move on--meskipun itu fakta. Tapi Jeje juga tidak ingin kembali pada Keenan. Setidaknya, untuk saat ini.
Semenjak Rama mendiaminya, Jeje berpikir secara baik-baik bagaimana dengannya nanti. Ia tidak akan bisa kembali kepada laki-laki seperti Keenan kalau sifat Keenan masih seperti itu. Jeje tidak ingin tersakiti lagi.
"Kenapa lo mau tau?" Tanya Jeje balik. "Bukankah itu urusan gue mau suka atau enggak sama Adit?"
"Ya, karena gue mau dapetin lo balik," tukas Keenan tegas.
Jeje tertawa miris. "Setelah berbulan-bulan berlalu, Nan? Really? Gimana dengan Alexa?"
"Gue putus sama dia."
"Putus dan mau balikan sama gue ..." Jeje bergumam, "tipikal lo banget, ya, gak bisa jomblo lama-lama. Maaf, tapi gue gak bisa jawab sekarang."
Jeje berdiri, dan membersihkan roknya. Menatap Keenan yang masih menunduk meratapi kerikil di bawahnya. Jeje pun beranjak pergi. Sebelum itu, Keenan berkata,
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Boyfriend
Teen FictionOrang gila mana sih yang gak pengen punya pacar yang perfect? Kalo kalian gak merasa, mending periksain diri ke dokter jiwa! Dia, si cowok paling perfect seantero sekolah. Saking perfectnya, sampe php sana-sini. Gue pun kena php-annya. Sial! Berkat...
