Special Chapter

5.2K 212 31
                                        

Heyyo whaddup?

Gaya dulu, he he he.

Masih ada yang baca PB nggak ya? Gue masih kepengen nyiksa nih:v kebetulan lagi ada ide juga. Semoga masih ada yang naro di private library lo pada deh, ya (narsis sekali-kali nggak nyakitin).

Biar jelas aja, katanya cerita ini masih gantung--yang gue nggak tahu gantung belah mananya.

Enjoy!

Keenan mendengus kesal begitu masuk ke dalam rumah Lean. Lelaki berkepala tiga itu dibuat syok dengan keadaan rumah Lean yang seperti sarang penyamun. Mobil-mobilan, barbie beserta tetek bengeknya, robot, dan berbagai macam mainan lain berserakan. Dari ujung ruang tamu, sampai ke dapur.

Wah, si kembar bener-bener mau nyiksa gue, batin Keenan.

"Lean!" panggil Keenan sambil berteriak. Pasalnya, pintu sudah tidak terkunci. Dan pemilik rumah tidak terlihat dimanapun. Lean memang ceroboh.

Beruntung ini Keenan yang masuk. Kalo maling gimana? Pulang-pulang kaya pokoknya.

"Pakde Keenan!"

Tau-tau Levi berlari ke arah Keenan dan memeluk kaki lelaki itu. Keenan berdecak. Ia sudah berkali-kali mengajarkan pada Levi dan Livi untuk tidak memanggilnya dengan sebutan 'Pakde'. Karena menurutnya, panggilan itu terlalu tua untuknya.

"Om," koreksi Keenan.

"Iya, Om akung," timpal Lean yang entah keluar dari mana. Keenan melotot.

"Gue pulang aja deh."

"Ye, gitu aja ngambek. Baper." Lean terkekeh ketika melihat Keenan makin menekuk wajahnya.

Kedatangan Keenan kesini dengan senang hati, dan tanpa paksaan apapun. Namun karena sikap Lean yang nyebelinnya sampe ubun-ubun, ingin rasanya Keenan membatalkan niat sucinya untuk kemari.

"Livi tidur diatas. Pokoknya kebutuhan mereka berdua ada udah lengkap disini." Lean menepuk tas yang ditentengnya. Tas yang berisikan baju dan susu si kembar, yang akan diperlukan Keenan nanti saat mengasuh mereka.

Iya, anggep aja ini kerjaan sampingan Keenan selain sebagai pelatih karate. Unch, suami material banget kan.

Lean dan Lyra berencana untuk pergi bulan madu lagi. Meninggalkan Keenan dengan ketersiksaannya karena mesti menjaga si kembar yang super aktif. Keenan sampe sering panggil tukang urut karena meladeni si kembar. Walaupun tetap saja, si kembar tetap menghibur Keenan.

Bocah dua itu baru berumur lima tahun, dan mereka sudah dekat dengan Keenan semenjak mereka masih bayi. Bisa dikatakan, si kembar lebih dekat dengannya daripada ayahnya sendiri. Mungkin karena waktu luang Keenan yang lebih banyak daripada Lean, jadinya lelaki itu sering menemani si kembar.

Malah suatu hari pernah saat Keenan, Lyra, Lean, dan si kembar jalan-jalan ke mal bareng, Lean yang dikira supir mereka. Karena posisi mereka saat itu Keenan sednag menggendong Livi dan menggandeng Levi. Sedangkan Lyra berjalan disampingnya, sehingga menyisihkan Lean yang berjalan dibelakang sambil bermain ponsel. Saat mereka mampir ke salah satu tempat makan, Keenan tak hentinya mengejek Lean yang dikira supir pribadi mereka. Bahkan Lyra, istrinya sendiri, juga ikut mentertawakann Lean.

Perfect BoyfriendTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang