"Makin lama, rencana lo makin creepy," celetuk Haris datar. "Udahin aja rencana--terkesan--konyol lo."
Keenan menggeleng tidak setuju. "Gak bisa dong! Masa, tinggal satu rencana lagi, langsung udahan gitu aja? Gak bisa, gak bisa!"
Lean memutar bola mata malas. "Bener kata Haris. Baru rencana pdkt aja, udah cium cium tangan. Gimana kalo pacaran? Udah lo mesumin kali."
Keenan berjengit. "Anjir. Gue gak mesum, tai!"
"Terus itu apaan kalo gak mesum? Mana tempatnya mendukung banget; di kamar mandi, berdua," tukas Lean lagi.
"Kesannya kayak gue pervert banget, idih," Keenan mendengus. "Enggak lah!"
"Serah lo deh, Nan," Haris memijit pelipisnya perlahan. "Gue gak nanggung kalo nanti tiba-tiba lo di hajar--"
Buk
"--Rama," lanjut Haris yang baru saja melihat Keenan kena bogem oleh Rama. Lean yang melihat adegan itu malah tertawa terbahak-bahak. Seolah acara bogem bukan lagi genre action melainkan komedi.
"LO NGAPAIN JEJE, HAH?!" Geram Rama tertahan. Ia harus mengontrol emosinya. Bagaimanapun juga, Keenan juga sahabatnya. Namun, tidak lebih berarti jika di bandingkan Jeje.
Keenan meringis perih memegang pipi kirinya yang baru kena bogem mentah oleh Rama. "Dia ngadu ke lo? Ngomong apa emangnya?"
"Gak penting Keenan!" Hardik Rama lagi. Emosinya benar-benar sampai di ubun-ubun. "Gue udah bilang ke lo, lo boleh milikin Jeje tapi enggak mesumin dia!"
"Mesumin apa sih?" Keenan meringis kembali. "Nyium bibirnya aja belom."
"BELOM?!" suara Rama meninggi 1 oktaf. "Ya Tuhan, Keenan." Rama mengusap wajahnya kasar. Tangannya melepas cekalan di kerah seragam Keenan.
Dengan tawa yang masih berderai, Lean membantu Keenan berdiri dan duduk kembali di bangku kantin. Mereka berempat berhasil menarik perhatian seluruh warga kantin tersebut.
"Mampus lo. Udah tau Jeje punya malaikat sendiri," celetuk Haris asal membuat Rama naik pitam kembali.
Sebelum sempat membalas perkataan Haris, ucapan Rama kembali terpotong oleh Haris. "Gue gak ikutan."
"RAMAA!" pekik seseorang di ambang pintu kantin. Wajahnya merah padam melihat anak-anak yang melihat dirinya sambil tersenyum penuh arti. Pasti pada mikir yang aneh-aneh sekarang. Rama tolol! Jerit batin Jeje.
Dengan wajah yang merona karena malu, Jeje menghampiri meja yang di tempati 4 cowok most wanted itu. Kesal, Jeje segera menarik kerah baju Rama dan menggeretnya keluar dari area kantin.
"Probably, lo udah kalah telak sama Rama," ucap Lean enteng. "Mungkin gak sih, seorang sahabat cowok yang segitu marahnya tau sahabat ceweknya habis di cium tangannya tanpa perasaan suka di dalemnya?"
♤
"Arggh! Lo bikin malu guee!" Jerit Jeje kesal sambil mendorong-dorong bahu Rama. Saat ini, mereka berdua sedang di rooftop SMA Atlantica. Jeje hanya merasa tidak tau lagi harus membawa Rama kemana untuk membicarakan hal ini.
Karena kalo di bawah, sudah pasti tidak aman.
"Lo yang bikin gue syok dengan cerita gitu," kata Rama sambil duduk menyilangkan kakinya. "Gue takut lo malah di apa-apain sama Keenan."
"Gak akan! Gue bisa jaga-jaga depan dia," dengus Jeje. "Lo kenapa bego banget malah ngomong ke Keenan kayak gitu di depan seluruh anak-anak yang ada di kantin. Mereka bakal jadi salah paham! Ngiranya gue beneran abis ciuman sama Keenan tadi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Boyfriend
TienerfictieOrang gila mana sih yang gak pengen punya pacar yang perfect? Kalo kalian gak merasa, mending periksain diri ke dokter jiwa! Dia, si cowok paling perfect seantero sekolah. Saking perfectnya, sampe php sana-sini. Gue pun kena php-annya. Sial! Berkat...
