PB [09] :: Second Day, He's Into You

8.5K 521 7
                                        

"Mi, sarapan Jeje udah si--" ucapan Jeje terhenti begitu melihat sosok yang sedang duduk manis di ruang makan keluarga Jeje. "--ngapain lo disini?!"

"Hih, kamu galak banget sih, sama pacar sendiri juga," Mami Jeje--Nara--memperingati.

Semburat merah muncul di pipi Jeje. "Apasih, Mi." Mata Jeje beralih menatap Keenan. "Dan lo kenapa pagi-pagi buta udah kemari?"

"Mau jemput pacar sendiri, salah?" Lagi, Jeje kembali merona hanya dengan aatu kalimat kecil.

Jeje menggeleng kecil, berusaha tak acuh pada kalimat Keenan barusan. Ia mengambil tempat di hadapan Keenan, dan di samping Maminya. Jeje segera menandaskan sarapan paginya hari ini.

"Papi mana? Tumben gak ada?" Jeje bertanya sambil meminum susu coklat keuskaannya.

"Papi berangkat jam 4 tadi. Ada tugas di Bandung. Tapi, nanti malem pulang," jelas Nara yang hanya diangguki datar oleh Jeje.

"Yuk, Nan," ajak Jeje sambil menarik lengan Keenan pergi dari ruang makan. Keenan menyeringai puas. Jeje sudah mulai terbiasa dengannya.

Keenan naik motor sportnya disusul dengan Jeje di belakang. Tanpa disuruh, Jeje telah memakai helm di kepalanya. Lagi-lagi Keenan tersenyum, tapi ia masih mengganjal. Kenapa sampai saat ini, ia belum juga mulai menyukai Jeje. Entah apa yang salah di hatinya. Karena sampai saat ini, belum ada yang bisa membuat dia merasa benar-benar jatuh cinta.

Tepat di parkiran sekolahnya, Jeje turun duluan dari motor dan menyerahkan helm yang ia pakai pada Keenan. Cewek itu tersenyum lebar. "Harusnya, lo gak usah repot-repot jemput gue. Gue udah biasa naik skuter kesayangan gue."

Keenan ikut tersenyum. Satu hal yang membuat Keenan tertarik pada Jeje; senyumnya. "Cuma mencoba membiasakan hal-hal bareng lo. Supaya gue bisa suka sama lo."

Refleks, Keenan memukul kepalanya dan merutuk dalam hati. Ish, bego banget gue.

Bukannya murung, Jeje malah makin tersenyum. "Lo tau, harusnya lo gak usah maksain biar suka sama gue. Karena ... gue akan lebih sakit kalo gue pacaran sama lo tapi karena terpaksa."

Ucapan Jeje serasa palu godam yang menghantam kepala Keenan dengan keras. Cewek itu betul, harusnya dari awal Keenan tidak memaksakan diri untuk menyukai Jeje. Karena sebenarnya, entah sampai kapan hatinya siap untuk jatuh cinta. Keenan sendiri bingung alasan di balik ia-yang-sampai-sekarang-belum-pernah-jatuh-cinta.

Dia hanya sekedar tertarik. Bukan cinta.

Keenan memaksakan senyum dan mengacak rambut Jeje perlahan. "Yuk masuk kelas."

Dengan itu, secara tidak langsung mereka mendeklarasikan bahwa mereka punya hubungan khusus sekarang, di depan teman-teman sekolahnya. Terlebih Caca, cewek itu nampaknya masih tidak terima dengan hubungan mereka yang telah berakhir 1 bulan setengah yang lalu.

Keenan dengan santai menggandeng tangan Jeje dengan senyum yang tak pernah hilang di bibirnya. Begitu pula dengan Jeje yang kadang tertawa karena gombalan konyol atau candaan yang Keenan lontarkan. Terkadang juga, pipi Jeje merona tiba-tiba.

Mereka masuk ke dalam kelas dengan tawa yang masih berderai. Seolah dunia hanya milik mereka berdua. Rama yang melihat dua sejoli itu hanya menghela napas kasar. Gue takut Je, lo akan kembali terluka.

"Ram, gantian ya, duduk sama Haris?" Ucap Keenan sambil menaik turunkan alisnya.

Dengan terpaksa Rama mengangguk. "Inget, Nan, apa yang pernah gue bilang ke lo."

Takut-takut, Keenan mengangguk ragu. Namun, ia cukup bagus dalam mengatur emosi mimik wajahnya. Hanya pada hal-hal tertentu.

Selepas Rama pindah, Keenan dan Jeje pun duduk berdua. Masih saling bertukar cerita. Dalam hati, Jeje menguatkan hatinya dengan mantra yang sedari tadi di ucapkan dalam hati, jangan baper. Inget, di akhir, lo bakal sakit.

Perfect BoyfriendTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang