P-B [11] :: We're through

7.5K 480 17
                                        

"Je!!" Pekik Ila dari kejauhan.

Cewek itu selalu bersemangat seperti biasa. Jeje mendecak, merasa tak semangat sama sekali. Bahkan, hanya untuk menyahuti Ila. Yah, semuanya karena Keenan moodnya hancur berantkan.

"Kenapa, La?" Tanya Jeje ogah-ogahan.

Mereka tengah berada di pinggir lapangan. Baru saja menyelesaikan latihan Voli seperti biasa di jam pulang sekolah. Tadinya, Jeje ingin langsung pulang ke rumah. Mengingat kalau sudah di rumah dan berada di kamarnya, cewek itu sudah pasti akan menangis seharian.

Jadi, Jeje memutuskan untuk memilih latihan voli sebentar. Untuk mendistraksi perasaannya yang sedang tidak bagus.

"Gue baru tau band Before You Exit, masa," tukas Ila dengan hebohnya. Masih tidak menyadari bahwa air wajah Jeje tidak seceria biasanya. "Lagunya enak deh. Dengerin, yuk!"

Jeje hanya mengangguk samar. Malas menanggapi Ila hanya dengan kata 'ya' atau 'gak deh'. Alhasil, Jeje harus mendengarkan Ila yang mulai heboh dengan bernyanyi lagu-lagu milik Before You Exit.

Sampai satu lagu, menyentaknya ke Bumi. Dan Jeje sangat ingin pulang ke rumah, dan nangis sepuasnya.

Thought it was love, we were in it

Then, it was over

Now I'm looking for somebody's shoulder

To make me feel okay

Or how could I let her get away

In just three days

Tanpa disangka, Jeje malah nangis beneran di hadapan Ila. Membuat cewek yang penampilannya sebelas dua belas dengan Jeje, mengerutkan keningnya.

Gue gak salah nyanyi, kan?

"Je? Lo kenapa sih?" Ila mematikan musik dari ponselnya, dan menepuk-nepuk pipi Jeje yang sekarang sudah dalam pelukannya.

"L-lo gak pe-peka banget, sih, La," kata Jeje sedikit terbata. Jeje mengusap air matanya, dan mencoba untuk menahannya. Setidaknya, sampai di rumah.

"Maaf, maaf," Ila menatap Jeje menyesal. "Sekarang, cerita sama gue."

"Di rumah gue?"

Ila mengangguk. Mereka pun segera pulang ke rumah Jeje.

Bel istirahat sudah berdentang. Siswa siswi segera keluar dari kelasnya, dan berbondong-bondong menuju satu tempat. Kantin.

Tetapi tidak dengan Jeje. Cewek itu hanya diam saja di tempat duduknya. Merasa tak bersemangat sama sekali. Pagi ini, ia juga merasa sedikit gak enak badan. Apalagi, Rama gak masuk. Entah kenapa.

Jeje hanya duduk sendiri di kelasnya. Bahkan, Keenan hari ini juga tidak mau duduk dengan Jeje. Dengan alasan, ingin duduk dengan Haris karena ada mata pelajaran Kimia. Yah, Haris memang sangat jago dalam Kimia. Jeje pun memakluminya tanpa sedikitpun curiga.

Keenan mendatangi meja Jeje dengan wajah yang tak bisa di artikan. Terlalu ... campur-campur. Keenan berdehem sebentar sebelum mulai membuka percakapan dengan Jeje.

"Sya," panggil Jeje yang di sauti dengan cewek itu dengan gumaman pelan.

Keenan menarik nafas dalam, dan duduk di samping cewek itu. Menatap Jeje lekat-lekat. Jeje menoleh, dan menautkan kedua alisnya bingung.

"Maaf, kita putus."

Satu detik.

Dua detik.

Perfect BoyfriendTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang