Keenan memasuki ruang ekskul OSIS dengan tergesa. Setelah rapat OSIS tadi, dirinya lupa kalau meninggalkan ponselnya di atas meja begitu saja.
Baru terdengar suara decitan pintu, Keenan malah syok mendapati makhluk yang berada di depan wajahnya. Gimana enggak, pas buka pintu tiba-tiba depan mukanya ada orang lain di dalam ruang itu.
Menarik nafas, Keenan mencoba untuk menormalkan kembali detak jantungnya. Pemilik wajah yang tampak tidak merasa bersalah itu, hanya cengar-cengir menampilkan deretan giginya yang rapih.
"Sori," ucap orang itu dengan senyum konyol.
"Sigh. Gue kira siapa," Keenan menghembuskan nafasnya. "Kenapa masih di sini?" Tanya Keenan sambil berjalan ke ujung meja, tempat di mana ia biasa duduk saat rapat.
"Oh, hm, tas gue ketinggalan tadi," jawabnya agak gugup.
Keenan hanya mengangguk-anggukan kepalanya seraya terus mencari keberadaan ponselnya.
"Sya, lo liat hp gue gak di sini?" Tanya Keenan sambil menatap wajah orang yang tidak lain tidak bukan adalah Zhesya, alias Jeje.
"Itu hp lo?" Jeje balik nanya. "Gue taro di laci tadi. Gue kira itu punya siapa. Taunya lo."
Keenan pun bergegas mengambil ponselnya yang di letakkan di dalam laci oleh Jeje. Biasanya, benda-benda penting yang ketinggalan, akan di taruh di situ biar gak hilang.
"Makasih ya," ucap Keenan sambil mengacungkan ponselnya ke udara. "Kalo gitu, gue duluan ya, Sya. Udah di tungguin Alexa soalnya. Bye!"
Jeje hanya tersenyum pahit menanggapi Keenan. Ia tau kalau Keenan dan Alexa pacaran sekarang. Tapi tidak perlu di perjelas begitu kan, dalam kondisi Jeje yang masih sulit move on?
Di tambah lagi, seminggu ini, Jeje dan Keenan kembali akrab. Hm, maksudnya, setelah putus mereka kembali berhubungan. Akhir-akhir ini Keenan memang suka men-chat Jeje. Berawal dari kegiatan OSIS, sampai berakhir dengan obrolan ringan yang sangat tidak penting.
Itulah mengapa Ila dan Rama jadi korban 'terabaikan' oleh Jeje. Karena cewek itu, sedang berbunga-bunga hatinya karena Keenan kembali menghubunginya.
Tapi hari ini, berakhir sudah hari 'bunga-bunga'nya. Dan di hancurkan oleh orang yang sama dengan yang membuat hatinya berbunga-bunga. Sungguh ironis.
Dengan senyuman paksa, Jeje tetap keluar dari ruangan OSIS menuju ke parkiran. Karena ada seseorang yang telah menunggunya. Memangnya, hanya Keenan yang bisa mendapatkan yang baru? Tentu Jeje harus membuktikan hal yang sama, kan?
"Hai!" Jeje menepuk pundak lelaki itu ringan.
"Hai," jawab Adit dengan senyuman di bibirnya. "Udah, kan?"
Jeje mengangguk mantap yang membuat Adit terkekeh kecil. Tanpa di suruh, Jeje sudah naik ke atas motor milik Adit. Menepuk pundak laki-laki itu lagi sambil berseru,
"Tarik, Mang!"
♤
Beda hal dengan Jeje, Keenan sebenarnya tadi sangatlah gugup. Cuma dia bergaya sok cool, untuk menutupi kegugupannya tersebut. Entah kenapa, Keenan merasa senang dapat melihat senyum--yang bisa di bilang konyol--Jeje lagi. Dan Jeje tersenyum karenanya.
Ia tau, akhir-akhir ini, dia telah membuat kesalahan lagi di hidupnya. Ia kembali mengontak Jeje dengan embel-embel OSIS, seolah-olah memberikan cewek itu harapan lagi.
Sebenernya, Keenan tidak mau akan hal itu. Tapi, entah kenapa saat melihat nama Zhesya di friends list LINEnya, Keenan sangat gatal untuk menyentuh ikon 'chat'. Maka dari itu, ia berani mengechat Zhesya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Boyfriend
Roman pour AdolescentsOrang gila mana sih yang gak pengen punya pacar yang perfect? Kalo kalian gak merasa, mending periksain diri ke dokter jiwa! Dia, si cowok paling perfect seantero sekolah. Saking perfectnya, sampe php sana-sini. Gue pun kena php-annya. Sial! Berkat...
