P-B [14] :: Atlantica's event (2)

7.3K 481 14
                                        

"Mami!!"

Jeje turun dari anak tangga rumahnya dengan terburu-buru. Ketika hampir sampai di bawah, kakinya malah terpeleset. Dan terjatuhlah Jeje dengan gaya yang jelek.

"Aduh! Pantat gue ...," Jeje meringis sambil memegangi pantatnya.

Nara yang berada di dapur segera mendatangi tempat yang baru saja terjadi kegaduhan tersebut. Sementara Rama, yang memang sudah datang daritadi, dan berada di ruang keluarga, menyaksikan itu semua dengan tawanya yang tak henti-henti.

"Muka lo, Je," kata Rama di sela-sela tawanya. "Gak ada cantik-cantiknya sama sekali. Bhakakak."

Jeje mendengus. "Mana ada orang jatoh cakep? Ganteng-ganteng bego lu, ya?"

"Ini ada apaan, sih, ribut banget?" Tanya Nara dengan wajah jengkelnya. Di tangannya masih ada sutil penggorengan.

"Aku jatoh dari tangga. Eh, malah di ketawain sama Rama," keluh Jeje pada Maminya itu. "Mukanya nyolotin lagi tuh, Mi." Tunjuk Jeje pada Rama.

"Lah, aku kan cuma nyumbang ketawa, Te."

"Udah, mending pada sarapan yuk, sekarang."

Nara menggiring dua anak SMA yang kelakuannya masih bocah itu ke ruang makan. Daripada mereka berangkat makin telat nanti, pikir Nara.

Selesai sarapan, Jeje dan Rama segera bergegas pergi ke sekolah. Selama di perjalanan, Rama terus membicarakan tim basketnya yang berhasil sampai ke tahap final. Jeje hanya mendengarkan sambil sesekali menimpali.

"Gitu aja bangga," Jeje berdecih. "Lo ikut main aja engga."

"Nanti kan gue main," jawab Rama gak mau kalah. "Lo nonton, ya? Harus."

"Ada Keenan. Males, ah."

"Yaelah, segitunya sama mantan." Rama terkekeh geli melihat wajah Jeje yang berubah dari kaca spion. Sangat menyenangkan baginya kalau meledek Jeje.

"Gue duluan, ya, Ram. Mau cari Ila," kata Jeje setelah sampai di sekolahnya.

"Cie yang punya temen cewek sekarang," goda Rama lagi.

"Bacot!"

Sebelum pergi, Jeje menyempatkan untuk menabok punggung milik Rama.

"Aduh!"

Jeje terjatuh saat menabrak seorang cewek. Orang yang di tabrak Jeje juga jatuh. Mereka sama-sama kaget karena merrka tabrakan di depan lorong toilet.

Jeje segera bangkit dan menolong cewek yang di tabraknya itu.

"Maaf banget, ya. Gue gak liat tadi." Jeje memasang senyum kelewat konyolnya.

"Iya, aku juga salah."

"Tunggu," Jeje mencekal pergelangan tangan orang itu yang hendak pergi. Rasanya, Jeje kenal dengan suaranya. "Lo ... gebetannya Lean 'kan? Duh, gue lupa nama lo sia-"

"Lyra," potong cewek itu cepat. Kini, wajah Lyra menatap Jeje. "Dan koreksi, aku bukan gebetannya Lean."

"Loh, waktu kita ketemu di café, Lean dateng sama lo kan?" Lyra mengangguk. "Oh, maaf, gue kira kalian udah jadian."

Lyra tertawa kecil. "Cuma temenan."

Jeje ikut tertawa mentertawai kebodohannya yang mengira kalau Lyra dan Lean ada sesuatu yang lebih. Harusnya, ia bertanya dulu, bukan menyimpulkannya sendiri.

"Omong-omong, kita gak pernah kenalan secara resmi, ya?" Kata Jeje sambil jalan bersisian dengan Lyra menuju lapangan indoor. Jeje sampai lupa tujuan awalnya untuk mencari Ila di dalam kelas.

Perfect BoyfriendCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang