"Dek,"
Rara yang sedang sibuk membaca novel seketika menoleh pada seseorang yang tiba tiba membuka pintu kamar nya, dia tersenyum saat mendapati Selfi yang kini tengah berjalan ke arah nya.
"Kakak udah pulang," ucap Rara kemudian meraih tangan Selfi dan mencium nya. Dia yang awal nya tengkurap mengubah posisi nya menjadi duduk, bersebelahan dengan kakak nya.
"Uhm, dek, nanti setelah kakak mandi, kita beres beres ya?! Kita pulang."
Rara tersenyum, dia mengangguk. Pulang. Ya, sekarang mereka akan pulang, benar benar pulang. Pulang kepada rumah mereka, dan pulang kepada keluarga mereka. Hal yang seharusnya mereka lakukan dari beberapa waktu lalu, tapi baru bisa mereka lakukan sekarang.
"Tapi rumah ini..?"
Selfi tersenyum, dia kemudian mengelus kepala Rara. Rumah ini juga ia beli dengan uang hasil kerja keras nya sendiri, berat memang meninggalkan rumah yang sudah menjadi naungan nya selama satu tahun ini, tapi bagaimana pun juga dia harus tetap kembali, kembali ke rumah nya yang sesungguhnya.
"Nanti akan kakak sewa kan."
Rara hanya mengangguk. Setelah itu Selfi pergi dari kamar yang Rara tempati semalam dan kembali ke kamar nya, dia membersihkan diri nya sedangkan Rara membereskan barang barang nya yang untung saja tidak terlalu berantakan.
***
Lesti keluar dari kamar nya, sudah dua hari diri nya di kurung di dalam kamar oleh adik nya, dan sekarang dia sangat merasa bosan, dia butuh udara segar, kemarin adik nya hanya mengizinkan nya ke balkon, tidak mengizinkan nya ke taman atau ke teras, katanya dia tidak mau Lesti kelelahan karna harus naik turun tangga, hahh!
Bik Minah yang mendengar derap langkah seseorang yang di yakini nya adalah suara Lesti, langsung menyibukkan diri nya dengan pekerjaan nya, dia tampak membersihkan debu debu yang ada di meja ruang tengah.
"Hmm andai aja saya bisa masak kayak non Lesti, udah pasti saya masakin yang non Mput minta, tapi apalah saya atuh? Masakan saya nyata nya gk seenak masakan non Lesti."
Lesti yang mendengar gumaman bik Minah langsung menoleh pada bik Minah, kening nya seketika mengerut. Dia kemudian menghampiri bik Minah.
"Bibik,"
Bik Minah langsung menoleh, kemudian berdiri. "Eh, non, kenapa turun? Nanti kalau non Mput lihat bisa marah."
"Ck, biarin aja, saya bosen di kamar." ucap Lesti enteng. Dia pun duduk disana. "Eh, maksud omongan bibik tadi itu apa?"
"Eh? Ah ngga ada apa apa non hehe.."
Kerutan di kening Lesti semakin dalam. "Ah jangan bohong, saya tau tadi bibi ngomong apa. Memang nya Putri minta apa?"
"Emm aduh, saya gk enak ngomong nya non, kemarin non Mput larang saya supaya jangan bilang ini sama non." ucap bik Minah sembari menggaruk tengkuk nya yang padahal tidak gatal sama sekali.
"Ngomong aja, nanti kalau Putri marah sama bibik, saya yang tanggung jawab."
"Emh, begini non," bik Minah memainkan lap yang ia pegang. "Kemarin waktu saya mau siram tanaman di belakang, saya denger non Mput lagi ngomong sendiri, saya samperin terus saya tanya sama non Mput ‘kenapa’. Non Mput bilang katanya non Mput mau makan masakan non lagi, non Mput kangen, tapi kan gk mungkin non Mput minta sama non kemarin, non masih sakit."
KAMU SEDANG MEMBACA
Berpisah untuk Bersatu ✔
Short Story•Tidak ada lagi yang egois, lebih baik pergi!! Aku bosan mendengar rengekan mu. ~Lesti Anintya Rashid •Dengan kepergian nya, tidak akan ada lagi keributan didekat ku. ~Selfi Anatasya Rashid •Mungkin memang ini, ini jalan terbaik untuk kita. ~Rara A...
