Berpisah untuk Bersatu - 05

1K 102 39
                                        


"Pagi Sya." sapa Putri pada Tasya yang sudah duduk cantik di kelas sambil memainkan ponsel nya. Tasya hanya berdehem membalas sapaan Putri tanpa menoleh pada Putri. "Emmh.. Sya, kamu masih marah ya sama aku soal kemarin? Mmhh.. Aku minta maaf, aku gk mungkin ninggalin kak Selfi sendiri." ucap Putri sambil menatap Tasya yang masih enggan menatap nya.

"Jujur ya Mput, aku kecewa bukan karna kamu gk bisa tepati janji kamu, aku kesel juga bukan hanya karna kamu gk bisa datang kemarin. Aku lebih kesel karna kamu terlalu baik sama kakak kakak kamu. Mereka aja gk pernah peduli sama kamu saat kamu sakit, tapi kenapa kamu masih peduli sama mereka?." sampai sini lah Tasya bisa menahan kekesalan nya pada Putri. Akhirnya sekarang semua terucap, kata kata yang selama ini tidak mau ia lontarkan keluar.

"Kalau aku gk inget siapa yang udah rawat aku dari kecil, mungkin aku akan biarin mereka saat mereka sakit, aku akan biarin mereka saat mereka kesusahan. Tapi bagaimana pun juga mereka kakak aku, ibu sekaligus ayah aku juga." ucap Putri dengan suara sedikit lirih. "Karna mereka aku bisa kuliah Sya."

"Aku tau itu, tapi jangan karna mereka yang biayain pendidikan dan hidup kamu, mereka justru jadi gk peduli sama kamu. Kalau masalah uang aku gk ragu lagi, tapi kasih sayang? Cinta? Perhatian? Apa kamu dapetin itu dari kakak kakak kamu?."

Putri hanya tersenyum mendengar ucapan Tasya. Jika kakak kakak nya tidak menyayangi nya dan tidak mencintai nya, mereka tidak akan memberi nya pendidikan terbaik dan hidup yang layak.

"Aku yakin kakak kakak aku itu sayang sama aku, hanya saja cara mereka menyayangi aku sedikit berbeda." batin Putri dengan senyum yang tak pernah memudar.

"Ck! Mput, aku lagi marah kok kamu malah senyum senyum sih??!!." ucap Tasya dengan nada yang berubah menjadi kesal dan sedikit merengek. Putri terkekeh melihat teman nya, barusaja jadi singa, dia sudah kembali menjadi kucing.

"Udah ah, ayo ke kantin. Aku bayarin kamu makan deh." bujuk Putri dan mendapat respon sangat bagus dari Tasya. Dia segera bangkit dan menarik tangan Putri menuju kantin. "Denger makanan gercep, anak ini!."

***

Jam menunjukkan pukul 22.30 WIB. Tiga pasang mata masih terjaga. Mereka duduk di ruang tengah di temani laptop, tab, dan buku gambar masing masing.

Dua menit kemudian pintu utama terbuka dan datang lah gadis bungsu keluarga itu.

"Assalamualaikum, kak." ucap Putri lalu mengambil tangan kakak nya dan mencium nya.

"Apa pantas seorang gadis pulang tengah malam seperti ini?." ucap Lesti sambil membuka kacamata yang sedaritadi bertengger di hidung nya.

"Dari mana kamu?." sekarang giliran Rara yang bertanya. Dia menyimpan buku gambar nya kemudian menatap adik semata wayang nya.

"Emh.. Maaf kak. Tadi sepulang kuliah Putri temani Tasya beli buku dulu. Abis itu kami buat tugas bareng." ucap Putri yang sudah menundukkan kepala nya.

"Apa selama itu?." ucap Lesti yang sudah bangkit dari duduk nya dan menghampiri Putri.

"Kak, udah lah. Sekarang kan Putri udah pulang, dan dia baik baik aja. Suruh istirahat aja!." lerai Selfi yang daritadi hanya diam memperhatikan kakak dan adik nya.

"Ini yang pertama, dan yang terakhir kali nya kamu pulang lebih dari jam delapan. Kalau suatu saat kamu pulang larut lagi, pintu rumah gk bisa kamu buka!." tekan Lesti menatap Putri yang masih enggan menatap nya. Putri hanya mengangguk, tanda dia paham. "Sekarang masuk kamar dan istirahat!."

Lagi, Putri hanya mengangguk kemudian pergi dari hadapan ketiga kakak nya dengan langkah lemah. Dia juga tidak mau pulang larut, tapi jalanan ibu kota yang macet, membuat nya harus pulang lebih larut.

"Bi.. Bibi!." panggil Selfi pada pembantu nya. Tak lama kemudian bik Minah datang cukup tergesa gesa.

"Iya non?."

"Tolong buat kan teh hangat untuk Putri, ya!? Sebelum dia tidur." ucap Selfi dan langsung mendapat anggukkan dari bik Minah.

Saat hendak pergi dari hadapan ketiga gadis di hadapan nya, Lesti tiba tiba memanggil bik Minah.

"Bibi!." panggil Lesti dengan suara cukup keras dan tatapan datar.

"Iya non? Ada yang bisa bibik bantu?." tanya bik Minah dengan nada yang selalu lembut.

"Saya kan suruh bibik jagain Putri. Saya juga udah bilang jangan biarin dia pulang lebih dari jam delapan. Tapi kenapa sekarang Putri pulang larut?." ucap Lesti dengan nada yang semakin meninggi.

"Maaf non, tadi kan bibik sudah bilang ke non kalau non Putri ada urusan sama non Tasya." ucap bik Minah dengan kepala yang terus tertunduk.

"Emh bibik, lebih baik bibik ke dapur ya!? Buat kan teh untuk Putri. Nanti dia keburu tidur." lagi, Selfi yang melerai kedua nya. Bik Minah mengangguk kemudian pergi.

Selfi membalikkan badan nya dan menatap kakak nya yang masih diam menahan kekesalan nya.

"Kakak simpan sopan santun kakak dimana sih?? Bik Minah itu lebih tua dari kita. Dia udah kayak ibu kita semua. Kok bisa kakak marahin bibik?." suara nya tertahan, namun Lesti tau adik pertama nya ini tengah murka pada nya.

"Dia yang gk becus jagain Putri. Kita kan suruh dia jagain Putri." ucap Lesti lalu kembali menjatuhkan tubuh nya di atas sofa empuk nya.

"Keluarga Putri itu kita, kak. Kita yang seharusnya jaga Putri, kita yang lebih wajib jaga Putri. Bukan bibik. Bibik itu orang asing yang lama kelamaan jadi keluarga kita. Tapi kita kakak nya, yang dari kecil udah sama Putri." ucap Selfi terus menatap kakak nya yang justru malah memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Kita yang gk becus jadi kakak." lanjut Selfi dengan penuh penekanan. Lesti langsung bangkit dari duduk nya dan menatap Selfi dengan tajam.

"Gk becus jadi kakak? Jadi maksud kamu selama ini kakak gk becus jadi kakak kalian? Iya?." sentak Lesti tepat di wajah Selfi.

"Kak Lesti, kak Selfi, kenapa sih kalian itu selalu aja bertengkar? Rara udah pusing banget sama kerjaan Rara, jangan di tambah pusing sama pertengkaran kalian dong!!??." sudah tidak tahan dengan pertengkaran di hadapan nya, akhirnya Rara bersuara. Lesti dan Selfi seketika menghentikan perdebatan nya. Mereka menatap Rara. "Rara cape! Rara mau istirahat." ucap nya kemudian berlalu dari kedua kakak nya.

"Selfi juga mau istirahat kak." ucap Selfi kemudian mengambil tab nya dan pergi begitu saja dari hadapan Lesti tanpa menunggu jawaban dari kakak nya.

"Gk ada yang menghargai aku sebagai kepala keluarga!." gumam Lesti memijat pelipis nya yang terasa pening.

To Be Continued 💕.

Berpisah untuk Bersatu ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang