Berpisah untuk Bersatu - 13

787 92 16
                                        

Semakin hari kondisi Rara semakin membaik, semakin membaik pula hubungan Rara dengan Putri. Setelah beberapa hari di rawat, akhirnya dokter mengizinkan Rara untuk pulang, tentu dengan sangat gembira nya Putri membereskan barang barang nya dan barang barang Rara saat berada di rumah sakit beberapa hari ini.

"Gimana, dek?." tanya Rara saat Putri kembali menghampiri nya setelah menghubungi Lesti.

"Kak Lesti lagi sibuk, jadi gk bisa jemput kita." Putri menatap kakak nya sendu. "Emh tapi kakak jangan sedih, kan masih ada Putri disini, hmm?."

Rara tersenyum kemudian mengecup tangan Putri yang berada di pipi nya.

"Maaf ya Put, gara gara aku kamu gk kuliah beberapa hari ini."

"Putri lebih baik gk kuliah daripada harus ninggalin kakak sendiri."

Lagi lagi Rara tersenyum. Mata hati nya sedikit demi sedikit terbuka selama ia di rawat, dan yang rela menemaninya hanya lah Putri, kakak kakak nya datang mungkin hanya sekedar berkunjung, menanyakan kondisi nya dan setelah itu pergi. Rara sudah berkali-kali meminta Lesti dan Selfi untuk ikut menemaninya selama di rumah sakit, namun mereka selalu saja menolak nya dengan alasan yang sama, sibuk. Apalagi Selfi, 2 hari yang lalu dia pamit pada kakak dan adik nya untuk pergi keluar negeri, menyelesaikan pekerjaan nya.

Sesampainya di rumah, mereka di sambut hangat oleh bik Minah dan bik Sari. Setelah meminta bantuan pada kedua asisten rumah tangga nya, Putri membawa Rara ke kamar nya.

"Alhamdulillah.. Kakak istirahat ya!? Putri__"

"Assalamualaikum Mpuuuutttt...!!!"

Putri dan Rara menoleh ke arah pintu kamar, dan yaa kalian tau lah siapa yang datang? Hmm, Tasya. Ya, gadis itu yang selalu membuat heboh setiap hari nya, sekalipun di rumah sakit.

"Waalaikumsallam."

"Sya.. Sya.. Telinga aku udah sakit banget sumpah denger kamu teriak teriak setiap hari." cerocos Putri yang sudah kesal dengan tingkah teman nya itu, berkali-kali dia harus merelakan telinga nya untuk mendengar teriakan Tasya.

"Ya kan kamu bilang hobby aku ngagetin kamu dan teriak teriak, jadi yaaa terima aja heheh.." ucap Tasya dengan wajah tanpa dosa nya, lagi pula dia sudah sangat amat biasa dengan omelan Putri.

"Eh iya sampai lupa, ini Tasya bawain buah buat kak Rara heheh maaf ya kak cuma bisa kasih buah setiap ketemu." lanjut Tasya sambil menyimpan buah-buahan itu di atas nakas, Rara tersenyum.

"Makasih banyak ya, Sya. Padahal mah gk usah repot repot segala, kamu datang aja aku udah seneng." ucap Rara yang sedikit tak enak dengan Tasya yang selalu membawakan nya buah setiap menjenguk nya.

"Hmmh.. Makasih banyak ya Sya, kamu selalu kasih kak Rara buah, selalu temenin aku juga."

"Ah udahlah Mput, gk usah berlebihan kayak begitu."

"Yaudah, kakak istirahat ya!? Putri sama Tasya keluar dulu, kalau ada apa apa panggil Putri." ucap Putri mengelus lengan Rara, Rara tersenyum lalu mengangguk. Putri pun akhirnya menarik Tasya keluar dari kamar Rara.

"Emm Mput, kapan sih kamu kuliah lagi? Gk sayang apa ninggalin kuliah selama ini?." Tasya sedikit menekuk wajah nya, tangan nya memainkan jemari Putri.

"Nanti Sya, kalau kak Rara udah benar benar sembuh, aku gk mau ninggalin dia."

"Ck, Mput!." rengek Tasya bak anak kecil. "Lagian kenapa harus kamu terus sih? Apa guna nya mereka jadi kakak kamu? Heran aku sama mereka, uang aja banyak tapi perhatian ke adik nya gk ada sama sekali." gerutu nya kemudian, dia tak peduli dengan bagaimana tanggapan Putri, dia hanya kesal pada teman nya yang sudah meninggalkan kuliah beberapa hari ini, kesal juga pada kedua kakak dari teman nya karna terlalu sibuk hingga melupakan adik nya.

Selanjutnya, Putri hanya diam dan membiarkan teman nya itu mengoceh tak jelas, setiap hari nya Putri hanya bisa menjadi pendengar Tasya yang sangat baik.

"Permisi non, makanan sudah bibik siap kan, non mau makan sekarang?." ucap bik Minah yang tiba tiba datang menghampiri dua gadis itu.

Tasya langsung berhenti mengoceh saat mendengar kata makanan, dia pun menatap Putri dan Putri hanya tersenyum.

"Nanti kami kesana."

Bik Minah mengangguk kemudian pergi setelah mendapat jawaban dari Putri.

"Ayo kita makan." ajak Putri yang sudah berdiri.

"Segan aku." ucap Tasya sok malu malu.

"Helleh, udah ayo! Pake sok sok-an segan segala." Putri terkekeh kemudian menarik tangan Tasya dan membawa nya ke ruang makan.

Malam Harinya..

Putri baru saja keluar dari kamar Rara setelah menemani Rara hingga Rara tidur, dia hendak masuk ke dalam kamar namun saat mendengar suara mobil yang di yakini mobil Lesti, dia mengurungkan niat nya dan turun untuk menemui kakak nya.

"Assalamualaikum.."

"Waalaikumsallam, kakak." Putri menghampiri Lesti dan mencium punggung tangan kakak nya.

"Rara mana?."

"Kak Rara udah tidur, kak."

"Oh, bagus kalau begitu. Kamu jangan masuk kuliah dulu ya, kakak kamu masih butuh kamu, kakak gk bisa ikut jagain dia siang malam karna kerjaan kakak lagi benar benar numpuk." ucap Lesti menatap Putri yang hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala nya saja.

"Jangan tidur terlalu malam! Kakak masuk duluan." Lesti pun masuk ke dalam kamar nya setelah mengatakan itu.

Putri menghembuskan nafas nya pelan, dia kemudian duduk di atas sofa dan diam. Semakin hari rasanya Lesti semakin acuh pada nya, tapi Putri sadar ini karna nya yang berbohong saat itu.

"Non.."

Putri menoleh saat bik Minah yang tiba tiba berada di depan nya, memanggil nya.

"Non kenapa?." tanya bik Minah dengan nada lembut nya sambil mengelus bahu Putri, tiba tiba Putri menarik tangan bik Minah hingga bik Minah duduk di samping nya.

"Bibik.."

"Non ada masalah apa? Cerita sama bibik." ucap bik Minah pada Putri yang tiba tiba menarik nya dan memeluk nya.

"Bik, apa Putri bukan adik kandung mereka? Kenapa gk ada yang sayang sama Putri? Atau Putri pernah buat salah sampai sampai mereka gk peduli sama Putri?." ucap Putri sedikit lirih setelah dirinya masuk kedalam pelukan bik Minah, orang yang sudah ia anggap seperti ibu nya sendiri.

"Non ini ngomong apa sih? Ya jelas non adik kandung mereka."

"Kalau gitu, kenapa mereka gk sayang sama Putri? Putri selalu merasa menjadi orang asing, bukan adik mereka."

Bik Minah melepas pelukan nya lembut dan tersenyum pada Putri.

"Non, non sendiri kan selalu bilang kalau sebetulnya mereka itu sayang sama non, hanya saja cara mereka menyayangi non itu beda. Jadi kenapa hari ini non punya pemikiran seperti itu?." bik Minah mengelus pipi Putri.

"Putri cape bik terus-terusan seperti ini, Putri harus berbuat apa supaya mereka sayang sama Putri?."

"Non jangan nyerah, insyaallah akan ada saat nya dimana mereka melihat non, hmm?." ucap bik Minah sambil terus tersenyum, dia kemudian kembali memeluk tubuh Putri dan mengelus punggung Putri.

"Bibik benar, aku gk boleh nyerah."

Putri memejamkan matanya selama dalam pelukan bik Minah, setidaknya hati nya sedikit tenang setelah bercerita pada bik Minah. Di rumah ini, mungkin hanya dua asisten rumah tangga nya yang peduli pada nya, terlebih lagi bik Minah.

- To Be Continued 💕 -

Berpisah untuk Bersatu ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang