Jika kemarin Putri, maka hari ini Rara yang datang ke tempat yang selalu kakak nya datangi setiap hari, toko kue milik Selfi. Pagi pagi sekali gadis itu sudah datang kesana dan menanyakan keberadaan Selfi, tapi orang orang disana bilang Selfi belum datang, dan belakangan ini Selfi selalu datang siang. Dengan sabar Rara menunggu Selfi, dia harus bertemu Selfi hari ini.
Rara yang tadi nya berjalan mengelilingi etalase yang berisi kue kue itu, mulai merasa bosan, dia pun duduk di salah satu kursi rotan yang ada di sana dan memainkan ponsel nya. Tapi tak sengaja dia melihat foto nya dan ketiga saudara nya, gadis itu tersenyum manis.
"Aku akan kembali, kak, dek." gumam nya sambil mengelus pelan layar ponsel nya.
Tap, tap, tap
Keadaan toko kue yang saat itu masih sepi membuat suara derap langkah seseorang terdengar jelas di telinga Rara. Dia menoleh ke belakang, dan senyum di bibir nya semakin tertarik lebar saat melihat siapa yang baru saja masuk ke dalam toko kue itu.
Rara bangkit dari duduk nya, dia menyimpan ponsel nya begitu saja di atas meja dan berlari menghampiri seseorang yang sedari tadi dia tunggu.
Blep.
Selfi yang tadi nya sedang sibuk berbicara dengan seseorang di ponsel nya tentu saja terkejut saat seseorang tiba tiba memeluk nya, dengan segera dia mematikan sambungan telfon nya tanpa berbicara apapun lagi pada orang di seberang sana. Dia kembali terkejut saat mendengar isakan seseorang yang tengah memeluk nya, dia kenal betul suara itu.
"Rara..?" ucap nya lirih, air mata nya seketika menggenang di mata nya.
"Kakak hiks Rara kangen.."
Selfi mengangkat tangan nya, dia membalas pelukan Rara dan memeluk nya lebih erat. Dia juga rindu pada adik nya.
Selfi melepaskan pelukan itu dengan lembut, dia menghapus air mata Rara dan tersenyum hangat pada adik nya.
"Kita duduk yuk?!"
Rara mengangguk, mereka pun duduk di kursi yang tadi Rara duduki.
"Gimana kabar kamu, dek?" tanya Selfi sembari terus mengelus punggung tangan Rara.
"Bohong kalau Rara bilang baik baik aja, nyata nya Rara kayak orang mati selama setahun ini, Rara kayak gk punya tujuan hidup. Jauh dari kalian, membuat Rara tersiksa, kak." ucap Rara pelan, air mata nya terus saja jatuh membasahi pipi nya.
"Kalau kamu tersiksa selama satu tahun ini, kenapa baru hari ini kamu datang kemari, dek?"
"Saat itu Rara gk bisa jujur sama diri Rara sendiri, kak, tapi setelah Nabila ketemu sama kakak saat itu, dia langsung bicara sama Rara, ucapan yang mungkin dia tahan selama Rara tinggal sama dia akhirnya dia ucapkan hari itu. Saat itu lah, Rara sadar kalau Rara butuh kalian."
Selfi tersenyum, dia membuang nafas nya pelan dan menatap Rara.
"Kakak minta maaf ya dek, andai aja saat itu kakak dengerin apa kata kamu untuk ngelarang Putri pergi dari rumah, mungkin saat itu kita gk akan hancur. Tapi kakak malah biarin Putri pergi yang akhirnya kamu ikut pergi, dan bodoh nya kakak malah ikut ikutan ninggalin kak Lesti."
"Ngga kak, bukan cuma kakak yang salah, kita semua salah disini. Bener apa kata Nabila, kita sama sama tersakiti, tapi sama sama menyakiti juga, kita sama sama di kecewa kan, tapi tanpa sadar kita juga udah mengecewakan. Jadi, kita saling memaafkan aja, ya?!"
Selfi tersenyum dan kembali memeluk Rara.
"Rara juga minta maaf, kak."
Selfi mengangguk.
"Kak," Rara melepas pelukan nya dan menatap kakak nya. "Kita.. Akan pulang?"
Selfi tersenyum. "Tentu, kita akan kembali."
**
Putri duduk seorang diri di ruang tengah, kakak nya ia suruh beristirahat total hari ini dan kemarin, sedangkan bik Minah sibuk dengan urusan nya. Dia melamun disana, dia baru ingat kalau besok.. Kakak nya ulang tahun.
"Hmm ngapain ya?" gumam nya, dia membenarkan posisi duduk nya, lebih tepat nya sekarang gadis itu berbaring di karpet yang ada di ruang tengah, dia memutar - mutar ponsel dalam genggaman nya. ‘Ngapain’ yang Putri maksud bukan karna dia tidak ada kerjaan atau gabut, dia sedang bingung, apa yang akan dia lakukan besok, kejutan apa yang akan ia berikan pada kakak nya.
"Ajak kakak jalan? Ah jangan, kan kakak lagi sakit." gumam nya lagi. "Diemin kakak, terus besok di kasih kejutan? Ck, basi."
Putri kembali terdiam, dia terus memutar - mutar ponsel nya, sampai akhirnya ide itu datang di otak nya, dia segera duduk dengan senyum yang tau tau sudah terukir.
"Aku tau."
Putri langsung beranjak, dia pergi ke dapur untuk menemui bik Minah yang sedang masak untuk makan malam. Dia mendekati wanita paruh baya itu.
"Ekhm, bibik,"
Bik Minah menoleh. "Eh, non, ada apa? Ada yang bisa bibik bantu?"
"Uhm, sini!?"
Bik Minah mengerutkan kening nya saat Putri mengayunkan tangan nya, meminta nya untuk lebih mendekat pada Putri. Tapi tetap saja dia menurut.
Putri menarik nafas dalam dalam, kemudian menghembuskan nya pelan. Bibir nya pun mulai bergerak untuk berbicara, dengan mata yang melirik kesana kemari memeriksa keadaan rumah, gadis itu terus berbicara pada bik Minah, sedangkan bik Minah hanya manggut manggut.
"Siap non, laksana kan." ucap bik Minah begitu semangat. Dia mengangkat kedua jempol nya, Putri tersenyum senang.
"Happy birthday kakak.. Eh, besok deng kkkkk.."
Gadis itu cekikikan dalam hati.
- To Be Continued 💕 -
KAMU SEDANG MEMBACA
Berpisah untuk Bersatu ✔
Cerita Pendek•Tidak ada lagi yang egois, lebih baik pergi!! Aku bosan mendengar rengekan mu. ~Lesti Anintya Rashid •Dengan kepergian nya, tidak akan ada lagi keributan didekat ku. ~Selfi Anatasya Rashid •Mungkin memang ini, ini jalan terbaik untuk kita. ~Rara A...
