Kenapa begini? Aku hanya ingin memberikan ketulusanku. Jangan mengoyaknya, hatiku ga ada bedanya dengan manusia lain.
~Damar
Sebelum pukul 3 sore Mytha dan Ian sudah berkumpul di rumah Egha. Saat itu Egha dan Mytha sebenarnya sudah berusaha menghubungiku, tapi karena sedang di perjalanan suara dering ponsel tidak terdengar.
Aku juga tidak tau kalau mereka akan berkumpul di rumah Egha hari ini. Sialnya, hari ini adalah hari yang sudah aku dan Damar sepakati untuk bertemu. Hari, yang membuatku harus mengambil keputusan yang sangat tidak aku sukai.
Sesampainya di tempat pertemuan tidak sulit untukku menemukan Damar. Dia langsung melambai ke arahku disertai senyum lebar menampilkan deretan giginya yang rapih.
"Mau pesan sesuatu?"
"Bagaimana kalau to the point aja?"
Tatapan Damar berubah seketika. Dia tampak kecewa dengan sikap ku yang seolah ingin segera mengakhiri pertemuan kami saat aku bahkan baru saja sampai.
Dia menghembuskan napas berat. Aroma rokok tercium sangat pekat. Berapa batang yang dia habiskan? pikirku.
Melihat gerakan tanganku yang mengibaskan udara membuatnya tertawa getir. "Maaf, aku sedikit gugup saat menunggumu."
"Apa kamu selalu merokok sangat banyak?"
"Ga. Hanya saat ngantuk, bosan atau tegang."
Kenapa menungguku membuatnya tegang? Bisikku pada diri sendiri.
"Baiklah aku akan memberimu jawaban."
Damar tampak menyimak dengan serius. Sama sekali tidak berkedip dan hanya fokus padaku.
"Aku bersedia....... ekhem... jadi pacarmu."
Damar tampak senang, tapi saat akan melakukan celebrate gerakannya terhenti.
"Tapi aku mau kamu membuat surat perjanjian sesuai kesepakatan kita di awal. Kalo aku bersedia jadi pacarmu, kamu ga akan usik Egha lagi. Kamu juga ga akan kasih tau ke siapapun soal hubungan kita. Kalo ga..."
"Jadi, alasan kamu bersedia adalah demi laki-laki brengsek itu?"
Aku sedikit bergetar mendengar Damar meninggikan suaranya. "Bukannya udah jelas? Haha... Ga mungkin kan kamu berharap aku bisa jatuh cinta sama kamu?"
Ekspresinya tampak melunak sekarang. "Kenapa? Kamu ga bersedia? Ga masalah, aku pergi sekarang kalo gitu."
"Tunggu sebentar! Aku ga bilang kalo aku ga bersedia. Kasih aku waktu beberapa jam."
"1 jam! Dalam 1 jam surat perjanjian itu ga muncul, aku anggap batal."
"Ok, tolong kamu duduk dulu. Aku akan minta anak buahku bikin suratnya dan bawa ke sini."
Dengan enggan aku pun menunggu. Damar memanggil pelayan setelah selesai menelpon anak buahnya.
***
"Ok kita tunggu info dari temen Ian, setelah itu baru kita akan tau plan mana yang akan kita pake. Yang lain ada pertanyaan?"
"Yan, kamu kasih waktu berapa lama ke temen kamu itu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Summer Field (End)
Художественная проза👑FOLLOW DULU GA RUGI KOK BESTIE👑 Selamat datang di cerita pertamaku 💙 "Summer Field" adalah kota kecil yang kupilih untuk melanjutkan hidup. Sampai aku melihatmu. Seseorang yang seperti sama dengan kamu. Seperti Dejavu. __________________________...
