Benar firasatku, ini akan jadi masalah. Bagaimana aku harus menghadapi ini? Bukan ini yang kumau. Tapi bukan karena aku menyesal. Jadi, bisakah kamu menguatkan ku?
Jadilah aku menunggunya di depan rumah. Sesuai janjiku semalam. Awalnya, ekspektasi ku ga terlalu muluk. Tapi ternyata, "Dia bisa tepat waktu juga." Pikirku dengan sudut bibir terangkat (kebiasaanku) waktu liat dia lari-lari kecil ke arahku dengan raut yang riang.
"Ayo!" Dengan sebelah mata berkedip dan senyum riang yang udah jadi ciri khasnya. Dan aku cuma tersenyum geli sebagai respon.
***
Seperti dugaan ku sebelumnya. Waktu kami sampai di kelas bersamaan, banyak anak-anak yang liatin dengan tatapan yang unpredictable.
Khususnya teman sebangku Dian. Mulutnya sampai menganga. Sementara kulihat Mytha cenderung lebih santai dengan senyumnya walau awalnya kulihat dia juga kaget.
"Waaah...hebat kamu Ga, baru putus kemarin udah dapet mangsa baru aja. Anak baru lagi." Rangkul Alif tiba-tiba.
"Apa sih Lif? Mangsa baru apa coba. Ish..." Egha ga suka dan menyingkirkan lengan Alif dengan kasar.
Ga mau ikut campur, langsung aja jalan ke kursi ku.
"Yakin nih?" Alif mendekatkan mulutnya ke telinga Egha untuk berbisik, "Kalo kamu ga mau, aku juga mau. Toh dari awal aku emang udah ngincer dia kok."
"Ish..." Egha menjatuhkan tasnya dan berbalik ke Alif, hampir nonjok dia. Untung yang lain liat dan langsung nahan Egha supaya ga terjadi keributan di kelas.
Sementara itu, Alif tertawa menang. "Ingat! Kamu ga boleh ikut campur." Teriaknya.
"Dia bilang apa sih? Kok kamu sampe marah gitu?" Tanyaku pelan setelah Egha dipaksa duduk sama anak-anak yang lain.
"Katanya dia udah ngincer kamu." Masih menatap Alif kesal.
"MMM."
"Ingat! Kamu harus ati-ati sama dia." Egha tiba-tiba mengguncang kedua pundakku sampai aku berguncang cukup keras.
"Iya-iya. Ga usah kasar gitu kali pak." Berusaha menyingkirkan cengkraman kuat Egha.
"Ah iya maaf." (Nyengir).
"Jadi sekarang dia udah mulai bersikap sebagai temenku nih?" Pikirku senang.(tersenyum di sudut bibir).
***
Mata kuliah photography terasa berlangsung lama. Akhirnya bel istirahat berbunyi. Egha menerima tawaran teman-temannya pergi ke kantin.
"Ngga ikut Ra?" Tanya Egha tiba-tiba.
"Aku di kelas aja Gha. Makasih."
"Nah, itu si Egha mau kemana?" (Mytha udah duduk di depan ku).
"Oh, dia ke kantin." Jawabku agak malas.
"Iya kenapa kamu ga ikut? Kan biasanya kalo orang baru jadian mereka suka pamer. Kemana-kemana berdua." Kikik Mytha puas.
Mendengar statement Mytha, aku langsung kaget. (sampe yang tadinya tidur-tiduran di meja jadi mendadak duduk posisi sempurna).
"Kita ga pacaran kok."
Denger bantahanku, Mytha berhenti ngikik. "Jadi kalian ga pacaran?"
Aku cuma menggeleng. Dan nempelin lagi kepala ku ke meja.
"Terus kok tadi kalian barengan sampenya? Kebetulan? Ah tapi kalo kebetulan, kayaknya kalian akrab banget." Mytha terus ngoceh dengan spekulasinya sendiri.
"Ra, kok diem aja sih?"
"Hehe...habis kamu cerewet banget sih. Kapan aku jawabnya?" Mytha memang agak cerewet, lebih kalo dia lagi kumat penasarannya.
"Aku sama Egha cuma temenan aja kok."
"Masa?"
"Kok ga percaya gitu?"
"Karena setahu aku, Egha ga pernah akrab sama cewe kalo cuma temen. Kecuali itu modus barunya dia."
"Ga kok. Kita memang cuma temen."
Brakkk...
Tiba-tiba seseorang menggebrak meja ku dengan sangat keras. Rasanya jantungku hampir aja keluar (lebay ya 😆). Sampai semua yang ada di kelas ikut kaget.
"Heh Ara! Kamu sama Egha udah jadian?"
"Aduh..." Desahku. "Kita berdua cuma temen. Ga lebih."
"Udahlah... ga usah ngeles. Terus yang tadi pagi itu apa? Anti (temen sebangku Dian) bilang, Egha hampir nonjok Alif karena belain kamu."
"Sebagai temen wajar kali." Jawab Mytha jengkel.
Dian mendelik ke Mytha karena motong omongannya. "Aku ga lagi ngomong sama kamu ya." (Sambil nunjuk ke hidung Mytha).
"Di, ga usah kasar gitu sama Mytha."
"Oh, jadi si anak baru pendiem yang keliatan polos berani perintah aku? Sini kamu." Ga disangka dia menarik kerahku dan tamparan keras mendarat tepat di pipi kananku.
Plakkk...
Sangkin kerasnya bukan cuma pipiku yang Semerah tomat dan terasa panas, tapi bibirku juga sampai tergigit dan berdarah.
Mytha ga tinggal diam. Dia berusaha melepas genggaman Dian dari kerahku. Tapi temen sebangkunya mendorong Mytha menjauh. Mytha langsung lari ke kantin untuk panggil Egha.
"Gha, mending kamu ke kelas sekarang." Desak Mytha terengah-engah.
"Kenapa? Ntar ah, nanggung."
"Dian nampar Ara. An..." Egha hampir tersedak roti yang sedang dia kunyah. Belum selesai Mytha ngomong, Egha langsung melesat. Lari sekuat tenaga.
*To be continue*
*
*
*
Jangan lupa vote dan komen berfaedah nya teman-teman 😉
KAMU SEDANG MEMBACA
Summer Field (End)
General Fiction👑FOLLOW DULU GA RUGI KOK BESTIE👑 Selamat datang di cerita pertamaku 💙 "Summer Field" adalah kota kecil yang kupilih untuk melanjutkan hidup. Sampai aku melihatmu. Seseorang yang seperti sama dengan kamu. Seperti Dejavu. __________________________...
