Samakah?

123 13 3
                                        

~ Maaf apabila terdapat typo
~ Story ini murni imajinasi author
~ Penggambaran tokoh hanya sebagai ilustrasi karakter.
~ Jika terdapat kesamaan cerita, tokoh, atau tempat, murni kebetulan.
~ Tidak ada niat menyinggung siapapun

_______________________________________________

Situasi ini, mengingatkan ku pada sebuah nama yang mulanya ingin kuhapus dari ingatan. Mungkinkah kalian orang yang sama?
~Ara~

***


"Huft... Hari ini berlangsung cukup baik." Pikirku.


Kota ini benar-benar memberi sebagian besar yang sangat aku inginkan selama ini. Udara yang sejuk, masyarakat yang ramah, suasana kota yang nyaman,banyak hal baik terjadi di sini.

Siang tadi saat aku baru saja sampai di rumah setelah pulang dari kampus, seorang paman menghampiri ku dan memberikan sekeranjang apel.

"Apel ini baru dipetik tadi pagi di kebun milik kami." Katanya.

Aku sempat enggan untuk menerimanya. Tapi dia bilang, ini adalah pengembalian dari pemberian ku tempo hari. Aku memang memberi oleh-oleh pada mereka yang tinggal disekitar rumahku saat baru pindah untuk beramah tamah.

Meski sebenarnya aku adalah tipe pendiam dan sedikit pemalu, tapi pengasuh di panti menyarankan ku sebelum pergi, agar lebih ramah dengan orang di sekitar ku. Supaya nanti saat aku dalam kesulitan, aku ga perlu merasa sungkan untuk meminta pertolongan.

Ternyata itu memang sudah menjadi kebiasaan masyarakat kota ini. Bibi An kasih tahu aku kalo penduduk di sini menganggap satu sama lain seperti keluarga. Bahkan bibi An mengatakan agar aku bersiap-siap.

"Untuk apa bi?" Aku terkejut saat akan menuju kamar.

"Kemarin non Ara kan setidaknya bagiin 10 bingkisan, ya siap-siap aja non." Sambil menggodaku.

Akupun mengerti maksud bi An. Yang artinya aku mungkin akan menerima bingkisan yang lain. Kemudian aku pun lanjut ke kamar.

***

Pemandangan di taman kota Summer Field benar-benar memanjakan ku. Awalnya aku kemari cuma untuk joging sore ga lebih dari satu jam. Tapi setelah sampai di sini, rasanya ga mau  buru-buru pulang.

Pemandangan hutan buatan dengan danau di tengahnya, menjadi daya tarik utama taman ini banyak dikunjungi. Dan yang paling kusuka, tentu saja, daun maple yang berguguran bagai hamparan karpet yang cantik.

Karena hari sudah makin sore, dan aku sudah selesai menikmati pemandangan matahari terbenam, dengan enggan aku memutuskan untuk pulang.

Aku pulang dengan berlari-lari kecil. Ketika melewati tepi danau, aku melihat seorang pria berdiri dekat sebuah patung sedang menatap ke arah danau lalu tertunduk. Aku yang biasanya ga akan peduli, entah kenapa kali ini sedikit berbeda. Ada sesuatu darinya yang membuat ku penasaran.

***

Sesampainya di rumah aku langsung bergegas mandi. Setelah selesai aku cuma mau bermalas-malasan di ranjang. Mendadak aku malah ngelamun tentang apa saja yang sudah kulakukan atau apa yang terjadi seharian tadi.

Aku penasaran dengan tatapan mereka waktu aku duduk di kursi itu. Selain itu, ga ada hal lain. Dosennya juga ramah. Membuat ku mudah memahami pembahasan materinya. Satu hal yang sama, seperti biasa, ga gampang untukku mendapatkan seorang teman. Aku dengar beberapa dari mereka berbisik menyebut namaku.

Tok...tok...tok... "Masuk bi."

"Non, makan malamnya sudah siap." Kata bibi setelah pintu kamarku dibuka.

"Oh iya bi, sebentar lagi aku makan." Jawabku santai.

"Kalo gitu bibi langsung pulang ya non?"

"Loh bibi ga temenin aku makan?" Tanyaku bangkit dari tempat tidur.

"Ga non, makasih. Udah malem. Kasihan anak bibi udah nunggu." Jawabnya nyengir.

Aku pun tersenyum. Bibi An memang orang yang ramah dan periang. Untukku, bibi An seperti sosok ibu. Meski kami belum lama saling mengenal.

"Kalo gitu hati-hati di jalan bi. Jangan sungkan hubungi aku kalo butuh bantuan ya."

"Beres non. Jangan kemalaman ya makannya."

"Iya bi, ini aku mau makan kok."

***

Tepat pkl 21.00 aku kembali ke kamar, duduk di kursi belajarku untuk mempersiapkan kuliahku besok. Waktu lagi sibuk milih buku yang mau dibawa, tiba-tiba aku teringat dengan pria di dekat danau tadi.

Aku bertanya-tanya, apakah dia orang yang sama dengan yang kulihat di sudut lapangan sore kemarin?

Aku sempat melihat wajahnya sekilas. Meski dari jarak sekitar 50 meter, jelas terlihat ekspresi wajahnya. Hingga membuat ku bertanya, apa yang membuat pria itu menatap sedih ke arah danau?

                                                                                    *To be continue*

*
*
*
Hmmm... Penasaran ga guys siapa yang Ara temui?
Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan kalian ya. Berupa vote, komen dan follow.
Terimakasih atas attenti-nya.

Summer Field (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang