"Lampu kamarnya belum nyala, Ara belum pulang?"
Egha melangkah memasuki halaman rumahnya, tapi matanya sibuk memperhatikan jendela kamarku yang masih tampak gelap sementara hari semakin malam.
Setelah selesai mandi Egha turun untuk makan malam bersama keluarganya. "Bu, Ara belum pulang?"
"Iya belum. Bi An aja sampe nitipin kunci rumah ke sini karena Ara lupa bawa."
"Ibu tau ga dia kemana atau sama siapa?"
"Ga tuh. Tapi kayaknya sih buru-buru. Sampe ga bawa kunci kan?" Sambil membereskan piring bekas makan.
Setelah selesai makan dan membantu ibunya mencuci piring, Egha keluar untuk membuang sampah.
Saat akan kembali masuk, di ujung jalan Egha melihat siluet seseorang sedang berjalan. Penasaran, dia terus memperhatikan siluet itu sampai mendekat.
"Ara!?" Egha segera berlari menghampiriku.
"Kamu kemana aja sih? Kenapa baru pulang? Terus kenapa jalan kaki? Kan kamu bisa telpon aku."
Begitulah Egha terus mencecarku dengan berbagai pertanyaan sampai berhenti di depan gerbang rumahku.
Aku menebak Egha akan mengikutiku masuk jika aku tidak mencegahnya. Benar saja, saat aku melangkah memasuki halaman, Egha masih mengekor di belakangku sambil tetap ngomel.
Aku seketika berbalik sampai membuat Egha terkejut dan hampir menabrakku dengan tubuh tinggi kurusnya.
"Apa? Kenapa tiba-tiba berbalik?"
"Gha sorry, aku lagi cape banget sekarang. Kita ketemu lagi besok aja ya. Selamat malam."
Tidak menghiraukan omelan Egha, aku mendorongnya sekuat tenaga sampai dia keluar dari gerbang.
Dengan terpaksa Egha tetap keluar tapi tidak langsung masuk ke rumahnya. Dia masih menatapku yang lanjut menuju pintu depan.
Saat itulah Egha baru ingat akan kunci yang bi An titipkan. Dia segera berlari masuk ke rumahnya untuk mengambil kunci tersebut.
"Ra, ini kuncinya. Tadi bi An nitipin ke ibu karena kamu lupa bawa."
"Thanks."
Hah? Gitu aja? batin Egha.
***
Lelah, kecewa membuatku sebenarnya malas melakukan hal lain dan ingin rasanya langsung tidur saja. Tapi akhirnya aku memutuskan mandi dulu.
Selesai mandi aku bersiap untuk tidur. Tiba-tiba ponselku berdering. Malas, aku biarkan saja ponselnya terus berdering.
Setelah beberapa kali kudiamkan, masih terus berdering. Merasa terganggu, akhirnya aku jawab. Ternyata panggilan dari Damar.
"Kenapa?!" tanyaku ketus.
"Aku cuma mau memastikan kalau wanitaku sampai dengan selamat."
Aku tidak tahu ekspresinya di balik ponsel saat mengatakan hal itu padaku. Tapi yang jelas ekspresiku saat ini, tidak peduli.
"Ok, kamu sudah memastikannya." Aku langsung memutuskan sambungan telepon.
Segera, ponselku berdering lagi.
"Apa lagi?" aku makin kesal sekarang.
"Selamat tidur my pretty..." Langsung kumatikan lagi. Hanya beberapa detik, ponsel berdering lagi.
"Apa sih? Ga usah kebanyakan basa basi deh. Ganggu tau ga?"
"Kamu kenapa sih Ra? Aku kan baru telpon."
KAMU SEDANG MEMBACA
Summer Field (End)
General Fiction👑FOLLOW DULU GA RUGI KOK BESTIE👑 Selamat datang di cerita pertamaku 💙 "Summer Field" adalah kota kecil yang kupilih untuk melanjutkan hidup. Sampai aku melihatmu. Seseorang yang seperti sama dengan kamu. Seperti Dejavu. __________________________...
