Lagi

87 8 0
                                        

Sepanjang perjalanan pulang aku memikirkan ucapan Mytha tadi. Tentang Egha yang ga pernah mengencani gadis di kelasnya sendiri. Kecuali sama cewe bernama April.

Penasaran, aku tanya lebih detail tentang sosok April ini. Karena seingat ku, ga ada seseorang dengan nama itu di kelas.

Dari Mytha aku tahu, Egha pacaran sama cewe yang tipenya selalu mirip. Diantaranya, dia periang, cerewet dan sangat imut. Egha berusaha nyari cewe itu dengan cara macarin mereka yang dianggap mirip. Entah apa alasan pastinya.

Saat ternyata gadis itu bukan seperti yang dia cari, gadis itu ditinggalin gitu saja. April adalah salah satunya. Karena ga tahan, April memutuskan pindah ke kota lain.

Dan kebetulan, kursi yang kududuki sekarang dulunya adalah tempat duduknya. Sejak kejadian April, ga pernah ada yang duduk di kursi itu lagi.

"Jadi karena itu para gadis terlihat iri sama aku?" Tanyaku pada diri sendiri.

"Eh, non Ara udah sampe." Teguran bibi An membuyarkan lamunanku tepat saat aku membuka pintu kamar.

"Iya bi."

"Non mau makan sekarang? Biar bibi siapin."

"Boleh bi. Tapi Ara mandi dulu ya."

"Iya non."

Saat mandi pun aku masih memikirkannya. Aku merasa bersyukur karena sepertinya aku ga akan mengalami hal seperti April.

"Egha ga mungkin tertarik sama aku. Ga ada satu pun ciri cewe itu di aku. Jadi aku aman. Dan lagi, aku ga tertarik soal cinta-cintaan untuk sekarang."

Tapi setelah ngomong gitu, kenapa yang kurasa justru sebaliknya?

Setelah selesai makan aku memutuskan untuk berbaring sebentar di sofa ruang tamu. Mungkin karena terlalu lelah, tanpa sadar aku tertidur. Sampai saat bibi An pulang aja aku ga sadar.

Saat terlelap aku bermimpi tentang seorang pria yang ga kuingat siapa dia. Karena dimimpi, aku hanya melihat punggungnya. Sebenarnya ini bukan kali pertama. Tapi saat melihat pria di ujung lapangan waktu itu, aku kembali bermimpi  yang sama. Lagi.

Terus aku terbangun karena ada yang mengetuk pintu. "Mimpi apa aku tadi?"

...

"Kamu?" Teriak seseorang.

Aku terkejut mendengar suara yang rasanya kukenal. Itu karena saat membuka pintu, mataku masih sedikit terpejam.

"Wooaah... Ternyata kamu tetangga baru itu?"

Aku mengedipkan mata yang masih terasa buram beberapa kali. "Egha! Kenapa?" Tanyaku acuh.

"Ibu memintaku kasih ini ke kamu." Katanya sambil menyodorkan bungkusan berwarna pink.

"Ibu?" Tanyaku kaget.

"Mmm...tetangga sebelah yang kemarin nyapa kamu." Jawabnya malas.

"Ini apa?" Tanyaku setelah menerimanya.

"Itu makanan."

"Lagi?"

"Lagi?"

"Bukan apa-apa. Thanks."

***

Gak seperti biasanya, waktu aku sampai di kelas pagi ini, Egha udah ada di kursinya. Bersama gadis yang kemarin.

Lihat aku datang, dia berbisik ke gadis di sampingnya. Setelah itu gadis itu pergi. "Sampai ketemu nanti." sambil berkedip genit.

Aku sedikit mengernyit melihatnya. Masih belum terbiasa.

"Kamu udah Dateng?" Katanya basa basi.

"MMM..."

Untuk sesaat dia masih menatapku. Jadi aku menoleh dengan tatapan bertanya,"Kenapa?"

"Apa bener kita belum pernah saling kenal sebelumnya?"

"Belum."

"Kamu yakin? Kenapa kamu rasanya ga asing?"

"Harus berapa kali aku jawab?"

"Iya ok. Aku percaya. Awalnya aku rasa kamu mirip seseorang yang pernah kukenal. Tapi setelah kupikir, rasanya ga mungkin." Senyum jailnya mulai merekah

Sebenarnya aku juga ngerasa gitu. Tapi aku ga yakin. "Ah...ga mungkin rasanya aku kenal cowo tengil kaya dia." Gumam ku.

(*Tanpa kami tahu, sebenarnya kami memang sudah lama saling mengenal sebelumnya. Dalam kenangan yang berusaha aku kubur.)

*To be continue*

Summer Field (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang