Ternyata ada hati yang lembut dari cowo bertampang preman ini. Don't judge a book by cover istilah yang tepat untuknya ~Ara
Kejadian tadi bikin aku diskors selama 2 minggu. Yang artinya aku cuma bisa ikut ujian susulan. Satu-satunya harapanku adalah supaya Egha dan Mytha berhasil membuktikan kalo itu bukan salahku kurang dari masa hukumanku.
Sebenernya Egha ngajak pulang bareng tadi. Tapi mendadak Ian dateng sama coach mereka. Dan Egha dipaksa balik latihan karena kejuaraan renang yang tinggal sebentar lagi. Sedang Mytha, berlawanan arah. Jadi aku terpaksa pulang sendiri.
Aku senyum-senyum sendiri kalo inget ekspresi kaget Egha tadi waktu liat coach Andre (pelatih renang)yang tiba-tiba ada di depan mukanya. Egha langsung dijewer dan diseret ke tempat latihan.
Ekspresi konyol itu. Hehe... Bisikku sambil tersenyum menahan geli.
Ekspresi konyol dengan cengiran khas Egha. Ekspresi yang sama waktu pertama kali aku dan dia ketemu di kelas.
Bayangan itu terus bikin aku senyum-senyum sendiri. Sampai setidaknya di tempat parkir sebuah mini market nggak jauh dari kampus samping ATM center. Seseorang tiba-tiba menghadang jalanku...
"Hallo manis." Suara berat yang ga asing itu muncul seolah sengaja nunggu aku dengan 2 orang temannya. Senyum liciknya mengembang penuh makna.
"Damar!" Pekikku tertahan.
Tubuh tegap itu berjalan perlahan menghampiriku dengan tatapannya yang tajam. Dia terpaksa membungkuk untuk liat aku karena tingginya yang menjulang sementara tinggiku cuma sekitar 158 cm. Atau lebih tepatnya kepalaku cuma sampai tepat di dada bidangnya.
Tubuh itu makin dekat sampai memaksaku untuk mundur. Dan akhirnya aku tersudut.
"Kamu mau apa?" Suaraku mulai sedikit bergetar.
Sekarang Damar menyandarkan tangannya tepat di dinding atas kepalaku. Dengan tubuh membungkuk dia berbisik, "Aku mau minta maaf."
Aku yang awalnya nunduk, reflek langsung liat ekspresinya. Memastikan apa yang kudengar.
Sadar perubahan ekspresi ku, dia tersenyum sambil mundur selangkah supaya aku leluasa bergerak.
"Kemarin itu aku terpaksa. Aku ga bermaksud bikin cewe semanis kamu takut."
"Terpaksa? Kamu bikin Egha babak belur."
"Hahaha... Karena memang itu tujuanku."
"Tujuan?" Aku heran.
"Mmm...gimana kalo kita ngobrol sebentar?" Kali ini intonasinya lebih lembut.
Karena penasaran, jadi aku ikuti.
***
Damar ngajak aku ke salah satu cafe yang cukup terkenal di Summer Field naik motor sport itemnya diekorin sama dua temennya.
"Bisa jelasin sekarang apa maksud kamu sengaja tadi?" Tanyaku skeptis begitu duduk di salah satu kursi dalam cafe.
"Sabar dong pretty girl. Kita pesen aja dulu." Sebelah matanya berkedip genit. Bikin aku sedikit tersentak dari kursiku karena kaget.
Dia kasih panggilan seenaknya sama aku. "Pretty girl?" Gumamku, geli dengernya.
"Jadi, kamu pesen apa? Biar aku yang ke counter."
Dengan enggan aku buka buku menu. "Yang ini." Tunjukku ke salah satu gambar di menu minuman coklat dengan banyak krim hitam Charcoal di atasnya dengan buah ceri merah segar.
"Ah, jadi Borneo's dark choclate. Selera kita sama." Damar tersenyum sangat cerah.
"Seriously?" Gumamku.
Setelah dia balik dari counter, ga lama seorang waiters mengantar dua gelas besar Borneo's dark choclate plus dua potong sponge cake ke meja kami.
Sebenernya aku hampir aja terlena dengan dua kudapan di depan mataku. Setelah sedikit menggeleng, aku langsung kembali ketujuan awalku sampe mau diajak ke cafe ini. Tatapanku langsung menagih jawaban. Dan Damar langsung paham maksud tatapanku.
"Hehe...iya ok ok. Aku kasih tahu alasanku. Tapi sebelum itu, aku mau sedikit cerita."
Aku merubah posisi dudukku jadi sedikit tegap. Bersiap mendengar ceritanya.
"Erika adalah satu-satunya keluargaku yang tersisa. Orang tua kami meninggal waktu Erika baru 5 tahun. Ibu kami berpesan supaya aku menjaga Erika dengan baik. Sejak itu aku ga akan biarin siapa pun nyakitin dia. Dari situ kamu pasti sedikit paham kan alasan aku mukul Egha kemarin?"
"Tapi tetep aja. Kemarin itu terlalu berlebihan. Kalo tujuan kamu untuk bela Erika, kenapa kamu harus kroyok dia? Itu ga fair."
Ada senyum jail mengembang di sudut bibir Damar.
"Kenapa senyum-senyum?" Tanyaku kesal.
"Seandainya kamu liat ekspresi kamu barusan. Kamu makin keliatan manis kalo lagi belain Egha. Kalian bener pacaran?"
"Pacaran? Itu gosip dari mana lagi?" Aku mendadak kikuk.
"Seriously?"
Aku cuma diam. Menikmati minumanku dan memakan sesendok sponge cake di depanku. Sementara Damar malah asik memperhatikanku dengan tatapan dan senyum yang bikin aku ga nyaman.
Maaf sebelumnya readers baru aku update dan ada sedikit revisi. Jadi, tolong bersabar ya. Semoga kalian tetep setia dengan lanjutan crt'y ;)
*To be continue*
KAMU SEDANG MEMBACA
Summer Field (End)
Fiksi Umum👑FOLLOW DULU GA RUGI KOK BESTIE👑 Selamat datang di cerita pertamaku 💙 "Summer Field" adalah kota kecil yang kupilih untuk melanjutkan hidup. Sampai aku melihatmu. Seseorang yang seperti sama dengan kamu. Seperti Dejavu. __________________________...
