Dilema

26 2 1
                                        

Happy reading semua😊

Mendadak paru-paruku terasa penuh setelah pertanyaan itu meluncur mulus dari bibirmu.
~Ara

Malam makin larut, tapi suara rintik hujan masih belum selesai. Suaranya membuat suasana makin sendu. Itu yang kurasakan setelah pengakuan Egha tadi.

Sekarang jam wekerku menunjukkan pukul 02.13. Sudah lebih dari 4 jam lalu Egha pulang, tapi aku masih belum bisa tidur. Ga lama setelah pulang tadi Egha terus menghubungi ku via chat. Setelah kubalas sekali, dia terus spam chat.

Aku sengaja membiarkan chat Egha gitu aja. Setidaknya lebih baik untukku bikin dia berpikir aku udah tidur. Aku ga tau harus gimana ke dia nanti. "Ah... Ini akan sangat canggung nanti." gerutuku sambil menendang guling.

Jujur aku dilema. Aku ga nyangka Egha suka aku. Mengingat tipe cewe kesukaannya jauh beda sama aku. Imej mereka yang paling dominan feminim, supel dan manja. Belum lagi Damar.

Saat ini satu-satunya cowo yang ada di hati aku masih dia. Meskipun sampe sekarang aku masih belum tau dimana dia, bahkan namanya pun aku ga inget. Aku tetep belum bisa lupain dia.

"Hhh... Bahkan seandainya aku udah bisa lupain dia pun, ga gampang buat terima Egha." gumamku sambil terus berguling di kasur, berusaha untuk tidur.

Tapi karena masih belum juga bisa tidur, jadi aku memutuskan untuk ke dapur membuat susu coklat hangat.

Dari jendela dapur, aku bisa liat lampu kamar Egha masih menyala. "Dia benar-benar belum bisa tidur. Udah lebih dari 1 jam lalu dia chat aku."

Setelah segelas besar coklat hangat jadi, aku memutuskan duduk dulu di ruang makan. Memikirkan keputusan apa yang harus kuambil. Pilihan, dan juga seberat apa konsekuensi yang harus aku tanggung.

"Kalo pilih Damar trus Egha tau, dia akan mikir yang engga engga. Kalo pilih Egha, Damar bisa ngamuk. Dan Egha bisa kena tonjok lagi. Ahhh... Aku harus gimana?"

 ***
                         

Tok...tok...tok...

"Ra, udah bangun belom?"

Tok...tok...tok...

"Ish, ni anak kemana sih dari semalem?" Egha terus mencoba menghubungi ponselku berkali-kali. Tapi nomorku ga aktif. Dia hampir frustasi.

"Ara... Udah siang nih."

Ceklek.....

"Oh kamu Gha. Ada apa pagi-pagi gini?"

Egha bukan menjawab, tapi justru langsung menarik pintu yang aku tahan dan masuk. Dengan tindakan yang mendadak itu aku jadi terkejut dan berdiri mematung sesaat.

"Kamu sadar nggak ini udah jam berapa Ra? Jam 9 lewat lho, dan kamu nggak biasanya bangun se siang ini."

Nggak percaya dengan apa yang Egha katakan aku pun masuk untuk melihat jam dinding. Betapa terkejutnya saat tahu Egha benar.

"Ah... Itu... Anu... mmm..."

Tidak sabar denganku yang terbata-bata, "Kenapa sih Ra? Dari semalem kamu aneh banget tau ga?"

"Huft... Egha bener. Harusnya aku bisa lebih mengendalikan diri. Bukan malah bikin dia curiga."  bisikku dalam hati.

"Ehem... aku kebangun, setelah itu aku susah tidur lagi. Dan baru bisa tidur setelah hampir pagi. Jadi sekarang masih ngantuk."😬

Tapi sepertinya Egha ga percaya dengan alasan yang ku buat. Dia menatapku curiga. "Kamu nggak lagi menghindari aku kan Ra?"

Mendengar pertanyaan yang (mungkin) udah aku duga, entah kenapa tetap bikin aku terkejut. "Ya engga lah kenapa aku harus menghindari kamu?" ketawa canggung.

"Aku nggak yakin, tapi... bisa jadikan soal semalem? Karena setelah itu kamu bener-bener aneh."

"Egha, aku nggak punya alasan apapun untuk menghindari kamu. Aku cuma masih ngantuk dan karena ini hari libur, dan aku gak ada kegiatan lain jadi aku mau tidur lagi, Itu aja."

Egha awalnya masih menatapku dengan tatapan ngga percaya. Tapi perlahan tatapannya berubah jadi tatapan sayang. Mendadak aku jadi merasa bersalah. Tapi saat ini aku belum memikirkan cara lain yang lebih baik.

"Maaf Egha, aku terpaksa bohong untuk sekarang. Tapi nanti saat udah tau apa yang sebaiknya aku lakukan, pasti akan aku kasih tahu kamu." batinku.

"Oke, mungkin aku yang terlalu curiga. Sorry udah ganggu waktu kamu Ra. Sekarang kalau kamu mau, tidur lagi aja. Aku pulang dulu ya."

"Oh iya, aku udah buatin sarapan. Nanti dimakan ya." memberikan sebuah kotak bekal yang sudah dibungkus rapih.

"Thanks Gha. Maaf ya."
" It's ok."
" Nanti aku hubungi ya."
" Oke."

*To be continue*

Summer Field (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang