👑FOLLOW DULU GA RUGI KOK BESTIE👑
Selamat datang di cerita pertamaku 💙
"Summer Field" adalah kota kecil yang kupilih untuk melanjutkan hidup.
Sampai aku melihatmu. Seseorang yang seperti sama dengan kamu. Seperti Dejavu.
__________________________...
"Araaa!!!" Seru Mytha langsung menghambur begitu pintu kubuka.
"Kangen tauuu... kamu apa kabar?"
"Iya sama, aku juga kangen ketemu di kampus sama kalian. Kabarku baik, kamu gimana Myt?"
"Ga banyak yang berubah." (nyengir) "Egha sama Ian belom dateng?"
"Ian barusan chat katanya lagi otw, sementara Egha lagi anter ibunya dulu sekalian beliin kita camilan."
"kamu sendirian Ra?" sambil melempar tasnya ke sofa bersamaan dengan dirinya sendiri.
"Iya, bi An hari ini libur. Oya, gimana perkembangan rencana kalian?"
"Jadi gini,"
Mytha pun menceritakan progress rencana yang sedang mereka jalani, sementara aku mendengarkan sambil membuatkan es teh favoritnya. Sampai Ian datang, Mytha yang jago ngobrol itu masih belum selesai bercerita.
"Jadi singkatnya tersangka yang kalian curigai itu sudah tervalidasi dan tinggal nyari sekongkolan, motiv, sama buktinya?"
"Exactly!" Ian menyambar.
"Kita lanjut ngobrolnya di taman belakang yuk. Lebih sejuk di sana." Ajakku sambil membawa gelas dibantu Mytha dan Ian yang mengikuti.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Wah... Adem banget di sini Ra. Luas lagi." Ian berseru sambil berlari kecil.
"Keputusan tepat kita meet up di sini. Tapi aku baru kali ini tau kalo rumah kamu luas juga ya." Mytha masih berkeliling mengagumi taman belakang rumahku.
"Iya aku beruntung, meski rumah ini ga seluas rumah kedua orang tuaku dulu, tapi di sini lebih nyaman dan tenang."
"Sorry Ra kalo aku terlalu kepo. Tapi bukannya kamu yatim piatu?"
"Ga papa Myt. Aku yakin banyak yang bingung juga. Jadi sebenarnya saat berumur 12 tahun aku diadopsi sebuah keluarga yang cukup kaya."
"Orang tua angkatku sangat sayang dan peduli pada pendidikanku. Suatu hari saat pulang dari perjalanan bisnis, pesawat yang membawa mereka mengalami malfungsi mesin. Dan mereka tewas."
"Ternyata mereka sudah membuat surat wasiat dimana aku berhak mewarisi beberapa aset pribadi dan saham atas nama ayah angkatku sebesar 25%."
"Benerkan firasatku. Kalo kamu ga mungkin orang sembarangan."
"Egha!!!" pekik kami bertiga bersamaan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ternyata Egha sudah sampai dan sempat mendengar pembicaraan kami.
"Kok kamu bisa masuk?"
"Orang ga dikunci. Tapi tenang, udah aku kunci kok barusan. Nih aku bawain bika ambon."
"Ya udah aku siapin dulu bikanya sama aku bawakan minuman lagi. Kalian lanjut ngobrol dulu aja."
***
Aku bergegas menyiapkan bika yang Egha bawa, kupotong menjadi beberapa potongan kecil agar mudah dimakan. Sangkin fokusnya, sampe ga denger kalau ada orang lain di belakangku.
Hampir saja aku loncat kaget karena secara tiba-tiba ada sepasang tangan yang merangkul pinggangku dari belakang.
"Ya ampun Egha! Kaget tau ngga?!"
"Maaf." bisiknya. Membuatku bergidik geli.
"Jangan gini dong. Aku ga mau ada yang salah paham kalo mereka liat."
"Aku kangen Ra. Kamu kenapa kemarin ngehindarin aku?"
"Siapa yang menghindar? Orang aku benaran cape kok." Aku masih berusaha melepaskan pelukan erat Egha.
"Kalo memang ga menghindar, jawab permintaan aku sekarang."
"Permintaan? Yang mana?"
"Kan lupa. Yang semalam. Apa perlu aku ceritakan juga kejadian semalam?"
"Permintaan?" gumamku. Mencoba mengingat apa yang dia katakan semalam.
Mendadak aku memekik begitu teringat.
"Ra!!! Lagi ngapain? Lama banget." teriak Mytha dari arah taman belakang.
"Kamu anter dulu bikanya. Aku mau buat minuman dulu untuk kamu."
"Terus kapan jawabannya?"
"Nanti. Kalo yang lain dah pada pulang."
"Bener ya."
Meski enggan karena sedang menunggu jawaban dariku, Egha tetap menurut.
"Huft... Untung aja. Untuk saat ini aku bisa menghidar. Tapi ini ga akan lama. Aku harus cari jawaban untuk mengulur waktu."
***
"Kalian yakin sama rencana itu? Ga bahaya?"
"Tenang aja Ra. Kita udah pikirin cara menghindari dampaknya kok." ucap Mytha sambil asik menikmati bika di tangannya yang tinggal sesuap lagi.
"Iya, kamu doain aja biar rencana kita berjalan lancar dan nama baik kamu bisa kembali pulih." Ian asik menyeruput es tehnya.
"Thanks Ian, Mytha, Egha. Kalian bener-bener best friend sejati."