Awal

147 12 2
                                        

Seperti dipanggil oleh kenangan masa lalu, hanya tak tahu kenangan yang mana. Perasaan sesak namun rindu saat melihat sekelebat sosok mu.

~Ara~

"Krrrieeettt..." Seketika aku langsung terbangun dari tidur karena kaget denger suara pintu yang mendadak dibuka perlahan. "Siapa yang buka pintu?" Bisikku. Karena seingatku, cuma ada aku di rumah.

Panik, tapi tetap berhati-hati aku mengambil tongkat pemukul yang sengaja ku simpan di belakang pintu kamar. Perlahan kubuka pintu, mengintip di mana tepatnya posisi orang yang membuka pintu rumahku tanpa izin.

Setelah kuamati, ternyata orang itu sedang berjalan berjinggit menuju dapur. Karena hari masih cukup gelap, aku ga bisa memastikan siapa orang itu.

Perlahan kuikuti dia dari belakang sambil menunggu kesempatan untuk menyerang. Begitu dia lengah, aku siap memukulkan tongkat yang kubawa. Tapi saat dia berbalik...

"Aaaaahhhh..." Teriak kami bersamaan karena terkejut. "Bibi an." Bisikku lemas sekaligus lega ternyata orang itu adalah bibi Ani, orang yang kusewa untuk membantuku mengurus rumah.

"Non Ara, kaget bibi."

"Maaf bi, aku lupa kalo hari ini bibi udah mulai kerja."

"Ga papa non. Bibi juga minta maaf karena ngagetin non. Bibi kira non masih tidur."

"Iya bi, aku bangun karena denger bunyi pintu. Kalo gitu aku mau mandi dulu ya."

"Iya non, bibi buatin sarapan dulu y."

Aku pun kembali ke kamar bersiap untuk berangkat kuliah.

***

Tepat pkl 7.40 aku sampai di ruangan administrasi di lantai 1 untuk mengurus sisa berkas kepindahanku. Ga lama aku nunggu, seorang wanita dengan usia kira-kira awal 30an dengan perawakan tinggi dan ramping bagai model catwalk datang menghampiri ku sambil memegang sebuah amplop cokelat.

Melihat kedatangannya aku bergegas berdiri tanda sopanku. Kemudian dia tersenyum setelah berdiri tepat di depanku.

"Chiara Renata?" Tanyanya ramah.

Aku mengangguk dan tersenyum, tanda mengiyakan pertanyaannya.

"Saya Sarah Kabag administrasi di sini." Katanya sambil mengulurkan tangan.

Aku pun menjabat tangannya singkat.

"Kelas dimulai pkl 8 tepat. Yang berarti...(sambil melihat jam di pergelangan tangan kanannya) 10 menit lagi. Mari saya antar ke kelas  kamu di lantai 5."

Kampus baruku ini merupakan sebuah gedung yang memiliki 5 lantai. Masing-masing lantai milik 1 fakultas. Lantai 1 untuk fakultas hukum, lantai 2 untuk fakultas ekonomi, lantai 3 untuk fakultas bahasa, lantai 4 & sebagian lantai 5 untuk fakultas kedokteran. Sementara khusus untuk fakultasku yang memiliki jurusan lebih sedikit dibandingkan yang lain hanya mendapatkan sebagian kecil ruangan di lantai 5.

Ruang kelasku tepat berada di sisi tangga. Bu Sarah memintaku menunggu ketika kami sampai di ambang pintu. Kemudian Kabag tersebut masuk dan berbicara dengan seorang pria dengan usia sekitar 45 tahun.

Beberapa menit kemudian Bu Sarah keluar lalu menghampiriku.

"Ayo masuk."

Aku pun mengikuti di belakangnya. Kulihat ruangan kelas hampir terisi penuh. Meski begitu, jika kuhitung tidak sampai 35 kursi. Menandakan, jurusan ini sepi peminat.

"Pak Rudi, ini Chiara. Chiara, ini pak Rudi."

Pak Rudi tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya untuk menjabat tanganku. Aku pun menyambut sopan tangannya.

"Beliau adalah dosen mata kuliah public speaking."

Aku mengangguk tanda mengerti.

"Kalau begitu saya tinggal ya pak, Chiara."

"Baik Bu Sarah."

"Terimakasih Bu."

Kemudian Bu Sarah kembali ke ruangannya.

"Nah Chiara, bisa kamu memperkenalkan diri kepada yang lain?"

"Baik pak. Salam kenal, namaku Chiara Renata. Kalian bisa memanggilku Ara. Aku berasal dari kota Winter."

"Ada yang ingin ditanyakan?"

Kemudian seseorang mengangkat sebelah tangannya tanda ingin bertanya.

"Ya Alif?" Tanya pak Rudi.

"Ara udah punya pacar?"

Yang lain berseru sambil tertawa. Tapi pertanyaan itu ga kujawab. Untunglah pak Rudi langsung mempersilahkan ku untuk duduk.

Aku duduk di salah satu kursi kosong di ujung ruangan. Bukan karena ingin, tapi memang ga ada pilihan. Cuma kursi itu dan sebelahnya yang masih kosong.

Tapi ada yang aneh saat aku berjalan menuju kursi itu. Terutama pandangan para gadis. Dalam tatapan itu seakan bertanya, "yakin?" Atau... "Iri?"

                                                                                    *To be continue*

*
*
*
Maaf jika masih terdapat typo. Menurut kalian, alasan tatapan aneh merek kenapa ya? Silahkan balas di kolom komentar. Jangan lupa vote juga ya sebagai bentuk dukungan supaya author lebih semangat. Terimakasih

Summer Field (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang