Failed?

7 0 0
                                        

Selamat membaca 😊

"Good job Gha, good job." Coach Andre memberikan applaus yang antusias bersamaan dengan Egha yang baru muncul ke permukaan.

"Gitu dong. Yang namanya latihan itu, tiap harinya harus makin baik dari sebelumnya ga kaya kemarin-kemarin."

"Ah...coach! Baru juga dipuji, udah disindir lagi aja."

Egha yang awalnya senang karena akhirnya mendapat pujian setelah berhari-hari selalu mendapatkan omelan, langsung kesal lagi hanya dalam beberapa detik.

"Btw coach, karena hari ini aku berhasil ngalahin rekorku sebelumnya, boleh ga aku izin pulang cepet?" Egha tampak khawatir menanti jawaban.

"Kenapa memang? Kejuaraan tinggal seminggu lagi loh Gha. Jangan lengah kamu dengan hasil hari ini."

"Bukan lengah coach. Tapi beneran karena ada urusan urgent aja."

Coach Andre tampak serius mempertimbangkan permintaan Egha.

Egha pun tidak ingin menyerah. "Gini aja, untuk mengganti jam yang tertunda hari ini, besok jam latihannya double deh." Egha mengeluarkan cengiran andalannya.

"Ok deal. Kita majukan jam latihanmu."

***

Saat ini pukul 15.16 Egha, Mytha, dan Ian sudah berada di ruang dekan bersama beberapa dosen dan kaprodi.

Tok...tok...

Ditengah pembicaraan pak dekan dan kaprodi Ilmu Komunikasi pintu mendadak di ketuk.

"Masuk." Pak dekan mempersilahkan orang di balik pintu.

Otomatis semua yang ada di ruangan tersebut mengalihkan atensi mereka saat pintu dibuka.

Tidak ada yang terkejut begitu mengetahui siapa yang tadi mengetuk.

Berbanding terbalik dengan si pengetuk, matanya sampai membulat sempurna.

"Permisi pak, bapak panggil saya?" Dian berusaha menetralkan suaranya dari keterkejutan.

"Betul, silahkan duduk dulu."

Dian menurut dan duduk di samping Mytha.

"Kalian ngapain di sini juga?" Dian berbisik pada orang di sampingnya.

Mytha menjawab dengan acuh, "Nanti juga tau."

"Baik, untuk sementara sambil menunggu yang dua orang lagi datang kita akan langsung mulai saja ya?" Pak Anwar sebagai kaprodi Ilkom meminta izin untuk mengawali agenda saat itu.

Dian yang paling kebingungan diantara yang lainnya. Dia sama sekali belum tahu alasannya dipanggil.

Lalu pak dekan mengangguk sebagai respon.

"Agenda hari ini bertujuan menindaklanjuti laporan yang kami terima tentang bocornya soal ujian beberapa waktu lalu dengan terduga tersangka sementara ialah saudari Chiara Renata, setelah dikonfirmasi yang bersangkutan datang terlambat."

Hah? Jadi ini tentang kasus itu? Kenapa tiba-tiba dibahas lagi? Bukannya semua udah jelas dia pelakunya?

Kedua alis Dian bertaut dan terus mengigit bibirnya. Wajahnya pun mendadak jadi pucat. Tapi sedetik kemudian sudut bibirnya sedikit terangkat.

Jangan-jangan pertemuan kali ini untuk menjatuhkan vonis buat anak baru kecentilan itu? Semoga aja akhirnya dia di drop out.

Dian cekikikan sendiri membayangkan hal itu benar-benar terjadi. Sebenarnya dia melakukannya sembunyi-sembunyi. Tapi hal itu tidak luput dari Mytha yang memang duduk di sampingnya.

Diam-diam Mytha menyunggingkan smirknya dan memberi kode pada kedua temannya yang duduk di sebrang.

***

Aku sedang bersiap pergi untuk memenuhi panggilan dari pak Anwar.

"Tadi pagi Mytha emang sempet ngasih tau aku untuk bersiap. Tapi ga jelas bersiap untuk apa."

"Ternyata ini alasannya. Huft...aku gugup banget. Apakah ini artinya rencana mereka berhasil? Atau... Ah jangan berandai-andai."

Aku sudah siap dalam waktu singkat. Setelah berpamitan pada bibi Ani, langsung melenggang menuju kampus.

Menuju kampus berjalan kaki, hari ini aku hanya mengenakan kaos polos army dengan outer denim, senada dengan baggy pants yang kukenakan.

Dalam waktu 13 menit aku sudah sampai di kampus. Tepat waktu. Bisikku setelah melirik arloji di lengan kananku.

Di tangga menuju lantai 2 aku sempat bertemu April teman sebangku Mytha.

"Lama ga ketemu ya Ra. Gimana kabarmu?" April tersenyum ramah seperti biasa.

"Aku baik Pril, terimakasih. Kamu apa kabar?"

"Aku juga sangat baik. Oya, kamu mau ke ruang dekan kan?"

Aku hanya mengangguk singkat sebagai respon.

"Ya udah gih. Mereka pasti udah nungguin."

Aku pun melanjutkan perjalanan seperti yang April sarankan.

Tunggu dulu, apa ya maksud kalimat terakhir April tadi?

***

"Jadi bagaimana Dian? Apa kamu mengakui laporan yang kami terima?"

"Jelas ga pak. Gimana saya bisa mengakui perbuatan yang ga pernah saya lakukan?" Dian bersikeras menolak tuduhan yang diarahkan padanya.

"Yakin kamu ga terlibat sama sekali?" tatapan Egha menyelidik sekaligus mengintimidasi. Berusaha mencari kebohongan yang terpampang.

"Oh...jadi kalian di sini untuk nge-fitnah aku?" tatapan Dian pada Egha dan teman-temannya tak kalah galak.

"Ga usah mengalihkan pembicaraan Dian, akuin aja kenapa?" Mytha pun tak mau kalah.

"Ngaku? Ngakuin apa? Kalian tuh kalo mau fitnah orang, ya minimal harus ada bukti dong. Walaupun cuma rekayasa. Totalitas lah..."

Deg...

Mendengar kata bukti meluncur, Egha dan yang lain serempak membeku.

Saat itulah pintu kembali diketuk.

Tok...tok...

*To be continue*

Jangan pelit vote dan komentarnya ya teman-teman. Terimakasih 😇

Summer Field (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang