@cafe

31 1 0
                                        

If you like, you must vote and comment to support my story. Thanks for your attention 😊

Jangan lupa vote dan komen ya guys. Jangan cuma jadi sider yang menyukai dalam diam🤭

*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*

Maaf, aku terpaksa. ~Ara

***

"Siapa sih yang telpon? Kok ekspresi mu mendadak berubah tegang gitu?"

"Mmm... Bukan siapa-siapa."Ara terlihat gugup dan seperti tertekan. Membuat Mytha jadi curiga.

"Katanya mau pulang. Makin sore loh."Ara nyengir canggung sambil menyembunyikan ponselnya di balik punggung.

"Ra, kalo ada masalah, kasih tau aja. Jangan dipendem sendiri, key?"sambil menggenggam pundak Ara lembut. Sementara Ara hanya mengangguk perlahan.

"Ya udah, aku pulang dulu ya. Nanti aku kabarin lagi." Sekali lagi, Ara hanya mengangguk perlahan.

Sambil melihat punggung Mytha yang makin menjauh dari balik pintu pagarnya, Ara berbisik "Maaf Myt. Untuk yang ini aku belum bisa cerita." Kemudian dengan murung Ara mengunci pagarnya dan kembali masuk.

Ara memutuskan untuk langsung masuk ke kamarnya. Baru aja megang gagang pintu, ponselnya kembali berdering. Nama yang sama, Damar. Dengan malas Ara menekan tombol hijau.

Telpon

"Hallo pretty girl." Suara angkuh Damar dari sisi telpon membuat Ara sedikit kesal.

"Ada apa?"

"Jutek banget. Ga papa sih. Aku cuma mau ngingetin kalo besok kita punya kencan." dengan nada menggoda.

"Kencan?" bisikku dengan agak menjauh dari ponsel supaya Damar ga denger. Dan dengan acuh, "Aku inget. Kamu cukup kasih tau aku kapan dimana via chat. Ga perlu repot telpon aku."

"Heh, tenang aja sayang. Cuma gini aja ga repot kok. Aku juga kangen sama suara manis kamu." seringai jahil mengembang di sudut bibirnya tanpa Ara tau.

"Kalo kamu telpon aku untuk bilang hal ga penting gini, lebih baik aku tutup telponnya." Dan tanpa memberi Damar kesempatan jawab, langsung ku tutup telponnya dan menuju kamar mandi.

Mendapat perlakuan begitu, Damar semakin tertantang untuk menjadikan Ara pacarnya sekaligus membalas dendam Erika, adiknya. "Sekali dayung, dua pulau terlampaui." senyum liciknya mengembang lagi.

***

Pukul 16.15 aku sampai di cafe tempat Damar mengajakku ngobrol 3 hari yang lalu. Sebenarnya dia minta aku datang jam 16 tepat. Aku sengaja membuatnya lama menunggu. "Sedikit buat dia kesel ga masalahkan?" Bisikku.

Tepat seperti dugaanku, dia udah lebih dulu sampai. Duduk di meja yang seperti sebelumnya. Di depannya ada 2 gelas Borneo's dark coklat ukuran jumbo. Pesanan yang sama pula. Bedanya cake kali ini bukan sponge cake, tapi cheese cake ditemani dengan 2 porsi well done steak.

Summer Field (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang