Haruskah?

48 9 1
                                        

Siapa yang sebenarnya kamu cari? Kenapa aku jadi dilema? Haruskah aku merasa iba?


***

Hari ini aku merasa lebih lelah dari biasanya. "Udah berapa hari aku ga joging ya? Rasanya badanku mulai terasa kaku."

"Halo tetangga." Sapa suara yang kukenal.

Aku ga perlu menoleh untuk memastikan. Dalam hitungan detik, Egha udah ada di sampingku.

"Tumben jam segini udah pulang?"(cuma basa basi).

"Ah... sebenernya masih pengen main. Tapi aku udah janji sama ibu pulang tepat waktu hari ini."

(Dalam hatiku) "Anak penurut rupanya." Diam-diam aku menyunggingkan senyum di sudut bibir.

Selama di perjalanan, aku lebih banyak diam dan mendengarkan, sementara Egha cerita tentang banyak hal. Sampai saat kami hanya tinggal 2 blok lagi, tiba-tiba ada 2 orang laki-laki tak dikenal menghadang jalan kami.

Salah seorang bertanya sambil menunjuk ke Egha,"Apa kamu yang bernama Egha?"

Egha ga langsung jawab dan cuma menatap mereka satu persatu dengan tatapan heran. "Kalian siapa?"

Aku yang berpikir situasi ini ga ada kaitannya sama aku, bersikap acuh dan lanjut berjalan menuju rumah. Tapi salah seorang yang dari tadi cuma diem menghadangku. "Sebaiknya kamu tetap di sini nona."

Karena situasinya ga menguntungkan kalo ku debat, jadi aku mundur. Di sisi lain, Egha menarikku ke belakang tubuhnya untuk melindungi ku.

"Urusan kalian cuma sama aku kan?" (Egha mulai menunjukkan ketidaksukaannya dengan nadanya yang ketus).

"Heh, siapa bilang? Kalo kamu memang Egha, berarti cewe ini juga terlibat."

Otomatis aku langsung menelengkan kepala karena heran. "Kok bisa aku terlibat?" (Dalam hati).

"Jadi dia si Egha itu?" tanya seorang pria lagi yang mendadak muncul dari balik punggung  kedua pria sebelumnya. Dan yang paling mengejutkan, bersama pria itu muncul juga seorang gadis yang kukenal.

"Erika?!!" Pekik kami bersamaan. (Ah iya, Erika adalah (mantan) ceweknya Egha).

"Jadi benerkan dia si Egha itu?" Ulang cowo yang baru Dateng tadi.

Erika cuma mengangguk pelan.

"Ok, sekarang ini urusanku." Dan Erika menyingkir ke tepi.

***

"Maaf, kamu jadi ikut terlibat." Ucap Egha tiba-tiba setelah kami sampai di rumah ku.

Aku menatapnya sejenak. Jelas terlihat di sana ada rasa penyesalan.

(*Alasan aku membawanya ke rumah ku, karena dia ga mau ibunya tahu kondisinya sekarang setelah dikeroyok sama 3 pria bertubuh besar tadi. Aku jadi harus memapahnya. Untung jaraknya udah ga terlalu jauh dari rumah)

"Kamu tinggal sendiri?" Tanyanya lagi setelah kududukkan di sofa ruang tamu.

"Hari ini bibi An izin ga masuk karena suaminya sakit." Jawabku setelah kembali dari dapur untuk mengambil es batu.

"Ah...jadi bibi An kerja di sini sekarang." Balasnya manggut-manggut.

Aku agak kaget mendengar responnya. "Kamu kenal?"

"Mmm ...bibi An pernah jadi pengasuhku."

"Nih." Kataku sambil menyodorkan es batu yang udah kubungkus handuk. Tapi Egha malah menatapku.

"Untuk kompres luka lebam kamu."

"Kamu ga mau bantu aku?"

"Masa kamu ga bisa sendiri?"

"Iya-iya."

Sebenernya aku penasaran kenapa Erika minta mereka bikin keributan sama kami. Tapi karena aku malas ikut campur urusan orang lain, jadi aku urungkan untuk nanya. Tapi kayaknya Egha tahu tentang rasa penasaranku.

"Siang tadi kami putus. Dan cowo tadi adalah kakaknya."

Aku cuma mengangguk pelan tanda ngerti. Dan karena Egha udah terlanjur kasih tahu hal yang bikin aku (mungkin) ngerti alasan 3 orang tadi menghadang kami, rasa penasaranku makin menjadi.

"Tunggu, waktu itu kamu bilang kita ketemu di taman kota. Tapi aku ga inget ketemu kamu disana." Egha menatap ku lekat.

"Ah itu, iya kamu memang ga liat aku. Tapi aku liat kamu di deket danau."

"Apa yang kamu liat?" Mendadak nada suaranya seperti curiga.

"Aku ga liat apa-apa."(bohong).

"Huft...baguslah. Pokoknya, kamu ga boleh kasih tahu siapapun pernah liat aku di taman."

"Kenapa?" Tanyaku agak sungkan.

"Ga ada yang tahu aku pernah ke sana. Dan lagi, aku ga mau mereka ngira aku flower boy."(bisiknya malu-malu).

"Bukan itu maksudku. Tapi kenapa kamu mutusin Erika? Apalagi sepihak gitu."

"Aku pikir dia gadis yang aku cari selama ini. Ternyata bukan." Dia terlihat sedih terus nunduk.

"Maksud kamu 'yang kamu cari' itu...apa?"

Karena pertanyaan ku tadi, Egha jadi menceritakan semuanya, alasan kenapa dia mengencani gadis-gadis itu dan mutusin mereka secara sepihak.

Setelah mendengar ceritanya, aku jadi bingung. Haruskah aku merasa iba?

*To be continue*

Summer Field (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang