Puisi 4

10 5 0
                                    

CUKUP DIA

Saat mata tak melihat
angin selalu terasa.
Lembutnya belaian, begitu mendamaikan.
Dekap hangat, genang hujan.
Derai suburkan tanah kerontang.
Angin menghidupkan sang perasa.
Hanyut puja ...
Cukup Dia ...
Tetap Dia ...
Selamanya hanya Dia.

Selamanya hanya Dia

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Syimfoni SenjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang