Cahaya matahari merambat masuk melalui celah gorden yang membuat tidur seorang laki-laki cantik terganggu. Perlahan Taeyong mulai membuka mata, mengernyit saat merasakan sesuatu yang berat dan hangat disekitar pinggangnya, yang ternyata Jaehyun tengah memeluk pinggang Taeyong dengan posesif. Lelaki mungil itu mengangkat kepala dan langsung di suguhi wajah tampan Jaehyun yang masih memejamkan mata.
Tanpa sadar Taeyong menarik sudut bibirnya untuk membentuk senyuman manis, melihat posisi Mark yang berada di antara mereka sekarang ini terlihat bak keluarga bahagia saja, tapi lagi-lagi Taeyong membuang pikiran aneh tersebut.
"Maaf, aku melakukannya. Aku tak bisa menahannya lagi, aku menyukai mu hyung ...," lirih Taeyong seraya memperhatikan wajah Jaehyun, tangannya tanpa sadar terangkat untuk mengelus pipi Jaehyun. Tersenyum sendu kemudian menjauhkan tangan dari wajah lelaki tampan tersebut.
Matanya membulat ketika Jaehyun melenguh dan mulai membuka mata, Taeyong bahkan tak sadar kalau lelaki tampan di depannya ini mengangkat tangan dari pinggangnya, meletakkan di atas dahi Taeyong untuk memeriksa suhu tubuhnya.
"Syukurlah tubuhmu tidak panas lagi," ujar Jaehyun lembut seraya tersenyum.
"Terima kasih sudah merawatku, Hyung. Ini semua berkat mu." Taeyong mengangguk kaku. Dia sedikit menjauhkan badan dan mulai merubah posisinya menjadi duduk, saat akan melangkah untuk turun dari ranjang perkataan Jaehyun membuat ia berhenti.
"Jangan lakukan apapun untuk hari ini, kau harus tetap istirahat. Biar aku yang akan mengasuh Mark."
"Tapi----"
"Besok saja mulai bekerjanya, bagaimana kalau kau sakit lagi? Jangan keras kepala."
Taeyong terdiam. "Biarkan aku memasak sarapan untukmu Hyung."
"Baiklah."
Mendengar jawaban yang keluar dari mulut Jaehyun membuat Taeyong tersenyum, dia mengangguk dan mengecup dahi Mark sebentar kemudian mengucapkan terima kasih pada Jaehyun. Taeyong berjalan menuju kamar mandi untuk menggosok gigi dan mandi.
Tak memerlukan waktu lama, setelah selesai mandi, Taeyong yang sudah berpakaian lengkap mulai berjalan keluar dari kamar, tidak lupa berpamitan pada Jaehyun yang masih setia bergelung di samping tubuh kecil Mark.
Taeyong memakai celemek dan membuka kulkas kemudian mulai memasak sarapan. Mencampurkan semua bahan di dalam wajan, tidak lupa pula Taeyong membuatkan kopi untuk Jaehyun dan segelas susu untuk Mark.
"Bubu~" Suara panggilan dari sang anak membuat lelaki itu menoleh, dia meletakkan beberapa piring ke atas meja kemudian melepaskan celemek. Merentangkan tangan saat Mark meminta untuk di gendong, batita tersebut mencium pipi sang Bubu kemudian menduselkan wajah di dada Taeyong.
"Pagi anaknya Bubu, apa Mark sudah cuci muka dan gosok gigi?" tanya Taeyong mengangkat tubuh gembul itu lebih tinggi, mencium wajah Mark dan menatapnya sayang.
"Pagi Bubu, cudah cama Ayah."
"Benarkah? Lalu dimana Om Jaehyun nya?"
"Om tu ayah."
Menghela napas panjang, Taeyong mencium kembali pipi Mark dan menggelengkan kepala, "Bukan----"
"Pagi jagoan! Ayah sudah siap." Jaehyun datang memotong ucapan Taeyong, laki-laki tampan itu berjalan mendekati Mark yang sudah merentangkan tangan, mengambil tubuh kecil tersebut dengan hati-hati kemudian membawanya berputar bak pesawat terbang.
Keduanya tertawa lepas tanpa mempedulikan Taeyong, berdehem keras membuat laki-laki berbeda usia itu menghentikan kegiatan mereka.
"Berhenti bermain dan ayo makan." Taeyong meletakkan gelas kopi di atas meja dan menatap keduanya bergantian, "Aku membuatkan kopi untukmu Hyung dan susu ini untuk Mark."
"Terima kasih Taeyong/ Maaci Bubu."
"Sama-sama." Taeyong tersenyum dan bangkit untuk mengambil alih Mark, mendudukkan tubuh kecil itu ke kursi samping kirinya. Taeyong meletakkan satu piring ke hadapan Jaehyun yang sudah duduk di depan.
Sarapan pun di mulai, tak banyak percakapan yang terjadi hanya beberapa celotehan dan pekikan Mark yang terdengar. Setelah sarapan dan menyimpan piring kotor di wastafel, Taeyong ditarik paksa oleh Mark menuju pintu depan. Batita itu menatap Jaehyun dengan bibir mencebik sedih, kemudian mata bulatnya kembali memandang Taeyong seakan meminta sesuatu.
Paham dengan apa yang di maksudkan oleh Mark. Taeyong menggelengkan kepala sebagai jawaban, "Mark tidak boleh ikut Om Jae ke kantor, kan sudah cukup mainnya kemarin."
"Huhuhuhu."
"Jangan membantah Mark, sekarang biarkan Om Jaehyun pergi bekerja, masuk dan pergilah mandi, mainnya sama Bubu saja hari ini."
"Nda mau! Cama Ayah!"
Jaehyun yang mendengar perdebatan mereka hanya bisa tersenyum tipis, rencananya ia tidak akan bekerja hari ini namun saat Jhonny menelpon dan mengingatkan kalau ada rapat penting mau tak mau Jaehyun harus pergi, apalagi ini rapat mengenai kerja sama yang benar-benar membutuhkan usaha ekstra untuk mendapatkannya, bisa-bisa Yunho mengamuk kalau dia melewatkan begitu saja.
Tapi, Jaehyun juga merasa tidak enak hati kalau meninggalkan Mark dengan wajah sedih begini. Dia berjongkok di hadapan Mark yang sudah menahan air matanya, Jaehyun mengelus rambut hitam halus itu sayang.
"Ayah minta maaf karena tidak bisa menemani Mark bermain. Bagaimana kalau jalan-jalan saat akhir pekan? Mark mau?"
"Jalan-jalan? Malk mau Ayah!" jawabnya semangat.
"Kalau begitu Mark harus menuruti kata Bubu sekarang, akhir pekan nanti kita main bersama, oke jagoannya Ayah?"
Batita itu mengangguk penuh semangat, membuat Jaehyun gemas dan mencium pipi tembem Mark bergantian yang juga di balas oleh batita tersebut, dia kemudian berlari menuju kamar, bersiap-siap untuk mandi seperti yang di suruh oleh Taeyong. Meninggalkan dua laki-laki dewasa yang saling berhadapan di depan pintu.
"Maaf sepertinya kau tidak bisa istirahat hari ini Taeyong, jangan melakukan banyak pekerjaan."
"Tak perlu khawatir Hyung, aku sudah sembuh."
"Kau benar-benar keras kepala. Aku pergi dulu Taeyong, sampai nanti." Jaehyun berucap sambil tersenyum.
"Hati-hati hyung."
Setelah memastikan mobil itu keluar dari pekarangan rumah, Taeyong menutup pintu utama. Bergegas menyusul Mark menuju kamar, dia tersenyum melihat sang anak yang malah asik bermain mobil-mobilan di karpet berbulu dekat kasur.
Berjalan mendekat dan mengelus kepala batita itu penuh kasih sayang, "Mark sedang apa, bukannya tadi Bubu menyuruh Mark untuk mandi?"
"Nungu Bubu."
"Menunggu Bubu? Mau mandi bersama ya? Yasudah, ayo kita mandi sekarang."
Mark mengangguk dan berlari meninggalkan mainannya. Dia tampak begitu bersemangat membuat Taeyong geleng-geleng kepala melihatnya, menyusul sang anak yang sudah dulu memasuki kamar mandi bahkan batita itu sudah melepaskan celananya di bantu oleh Taeyong saat Mark kesusahan membuka baju.
Taeyong mengisi air di dalam bak mandi, memastikan airnya tidak terlalu dingin, setelah selesai ia mengangkat tubuh Mark untuk masuk ke dalam sana.
Membasuh dan memberikan sabun kesukaannya yaitu, rasa semangka di seluruh tubuh Mark, Taeyong tak dapat menahan senyumannya ketika Mark menepuk air sambil tertawa.
"Mark sangat senang ya, kenapa sayang?"
"Hu'um. Malk kan main telus jalan cama Ayah!"
Lelaki mungil tersebut tersenyum sendu. Dia mencium pipi sang anak dengan pelan kemudian bertanya, "Mark sayang Om Jaehyun?"
"Bukan om Bubu tapi Ayah. Malk cayang ayah ... dan Malk juga cayang Bubu," jawabnya lantang sambil tersenyum lebar menampakkan gigi susu yang tersusun rapi. Mau tak mau Taeyong juga membalas senyuman tulus dari sang anak, walaupun hatinya teriris mendengar ucapan Mark.
Memeluk tubuh batita itu dengan erat, mengabaikan bajunya yang basah terkena air, Taeyong menyembunyikan wajahnya di leher Mark. "Bubu juga menyayangi Mark, sangat-sangat sayang pada Mark."
******
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mistake [✓]
FanfictionSebuah kesalahan yang membuat Taeyong menjadi single parent di usia yang masih muda. Alert : 17+ © Machayy0
![Mistake [✓]](https://img.wattpad.com/cover/314906044-64-k387811.jpg)