Sudah beberapa hari ini Taeyong tak lagi berinteraksi dengan Jaehyun, tidak ada pembicaraan ataupun permintaan maaf yang keluar dari mulut sang suami kecuali hanya tatapan datar dan punggung yang pergi setelahnya.
Semua hampa dan dingin, seolah kehangatan itu telah lenyap begitu saja. Taeyong tidak habis pikir dan tidak pernah menduga semua akan menjadi seperti ini.
Dan seolah semua datang mengeroyok Taeyong, akhir-akhir ini dia merasa lebih sering kelelahan, mengira pusing karena banyak masalah yang menimpa pikiran atau kurang tidur, ternyata salah. Melainkan karena ada nyawa lain yang bersarang di dalam perutnya, janin yang nantinya akan menjadi anak.
Mengusap perutnya lembut kemudian memejamkan mata, pikirannya penuh entah karena apa. Menarik napas kemudian menghelanya kasar, lantas Taeyong bangkit untuk menuju kamarnya. Merasa kesepian karena Mark dan Jeno yang katanya akan menginap di rumah sang Nenek sedangkan Jaehyun belum pulang.
Mendorong pintu kamar kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang, Taeyong kembali memandang langit-langit dengan pikiran menerawang.
"Baiklah Taeyong, lupakan masalah itu dan fokuslah. Jika kau terlalu memaksakan semuanya dan menekan diri maka itu tidak baik untuk kesehatan janinmu." Dia tersenyum dan menarik selimut, menutupi tubuhnya dengan rapat. Rasa kantuk menyerang, hingga akhirnya Taeyong terlelap begitu saja.
Tak terasa hari sudah sangat gelap saat Taeyong membuka mata, melirik jam yang menunjukkan hampir tengah malam membuat Taeyong meringis. Tiba-tiba dia merasa lapar dan ingin memakan sesuatu yang manis.
Meregangkan tubuh kemudian berniat untuk menghidupkan lampu akan tetapi tidak bisa. Mengernyit heran dan beranjak dari kasur, bermodal senter hp yang menjadi penerang dia berjalan keluar kamar untuk memeriksa listrik.
Namun, siapa sangka saat dia baru saja menutup pintu kamar mulutnya langsung di bekap oleh seseorang berbaju hitam, kian terkejut saat orang itu menggendong tubuh mungilnya dengan paksa.
"Lepaskan! Siapa kau? Lepaskan aku!" teriak Taeyong mencoba untuk memberontak, dia merasa pusing saat digendong secara tiba-tiba dengan posisi kepala kebawah, sedangkan tubuhnya berada di bahu laki-laki tidak di kenal tersebut.
Pemberontakan yang dia lakukan tidak mendapatkan hasil apapun, walaupun dia sudah menggigit dan memukul bahu serta punggung laki-laki itu keras, akan tetapi tubuhnya tak kunjung di turunkan. Hingga akhirnya Taeyong merasa kalau dirinya di dudukkan di sofa.
Dan tiba-tiba lampu ruangan menjadi terang, tampak banyak orang yang menatap bahagia dengan balon di tangan mereka, seraya berteriak, "Selamat ulang tahun Taeyong/ Yongie/ Bubu!"
Laki-laki cantik itu terdiam, manik matanya memandang satu persatu orang yang ada di sana dengan bingung, dia tersentak kemudian.
"Selamat ulang tahun! Kami sengaja membuat kejutan untukmu, oh ayolah aku sangat merindukan menantuku ini." Jaejoong berjalan mendekat untuk memeluk Taeyong, diikuti oleh dua kurcaci Jung.
Mereka berpelukan cukup lama, Taeyong tersenyum dan menatap satu persatu orang yang ada di sana. Memperhatikan Yunho yang memakai baju serba hitam, dapat dipastikan kalau laki-laki itulah yang tadinya membekap mulut Taeyong. Merasa bersalah karena sudah mengigit dan memukul tubuh itu dengan keras tadi.
"Ayah maaf untuk pukulan ku tadi, aku hanya takut."
"Tidak apa-apa Taeyong, reflek yang bagus karena merasa dirimu terancam."
Tersenyum canggung kemudian menganggukkan kepala, kembali memperhatikan wajah orang-orang di sana hingga tanpa sadar rasa kecewa menghampiri saat tak melihat seseorang yang berarti ada untuk memberikan kejutan padanya, Taeyong tidak melihat keberadaan Jaehyun di sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mistake [✓]
FanfictionSebuah kesalahan yang membuat Taeyong menjadi single parent di usia yang masih muda. Alert : 17+ © Machayy0
![Mistake [✓]](https://img.wattpad.com/cover/314906044-64-k387811.jpg)