Helaan napas kasar terdengar, laki-laki tampan itu berusaha keras untuk menahan rasa kantuk yang menyerang. Dia membawa tubuh mungil Taeyong dalam dekapan hangatnya, mencoba untuk menenangkan agar tangisan itu segera berhenti.
"Kenapa sayang? Ayo katakan padaku, apa sayangku ini menginginkan sesuatu?" tanya Jaehyun lembut dengan tangan yang mengelus lembut punggung bergetar Taeyong.
Rasa lelah karena lembur tadi hilang begitu saja sebab khawatir dengan kondisi Taeyong, "Ada apa?"
"Hyung~ bayinya belum tidur padahal aku sudah mengantuk, dia terus menendang," rengek Taeyong sambil menggesek-gesekkan wajahnya di dada sang suami.
Menghela napas kasar, Jaehyun tersenyum dan mengubah posisinya senyaman mungkin, membiarkan tangannya menjadi bantal untuk Taeyong.
"Bayinya menendang ya?"
"Hu'um. Aku mengantuk hyung, aku ingin tidur."
Jaehyun mengangguk dan mencium kening Taeyong sekilas, kemudian tangannya berpindah untuk mengelus perut sang istri yang tengah hamil itu. Dapat dirasakan bagaimana perut tersebut bergerak karena bayi yang ada di dalamnya, Jaehyun berdecak bangga.
Hal itu wajar dalam kehamilan, dan juga bertanda bahwa sang bayi tengah bergerak dan sehat di dalam sana.
"Anak ayah, ayo tidur. Ini sudah malam kasihan Bubu mengantuk katanya sayang," ucap Jaehyun dengan tangan yang senantiasa mengusap perut Taeyong, mulut bersenandung kecil. Hingga tak beberapa lama kemudian, gerakan di perut Taeyong mulai berhenti.
Jaehyun tersenyum dan tetap mengusap perut tersebut berulang, kini matanya menatap sang istri yang juga sudah terlelap di dalam dekapannya.
"Menggemaskan!" ungkapnya pada bayi yang ada di perut Taeyong, berpikir bahwa bayi itu tengah ingin di manja oleh Jaehyun makanya dia berhenti bergerak setelah Jaehyun mengusap dan bernyanyi. Laki-laki tampan tersebut mencium bibir istrinya lembut, "Bayi besar ini juga menggemaskan. Selamat malam sayang."
Malam masih panjang untuk ia beristirahat, akan tetapi baru saja Jaehyun memejamkan mata, akan tetapi teriakan Jeno dari arah pintu kamar membuat dia kembali tersentak. Menatap Taeyong yang masih terlelap, tanpa pikir panjang Jaehyun menarik tangannya dengan hati-hati kemudian berjalan pelan menuju pintu kamar.
Takut-takut kalau Taeyong akan terbangun, membuka pintu dengan pelan dan melihat sosok Jeno yang berdiri sambil menggendong boneka anjingnya, jangan lupakan mata berkaca-kaca serta hidung yang memerah.
"Kenapa jagoan?" tanya Jaehyun setelah memastikan kalau Taeyong tidak terbangun, ia menutup pintu kamar dengan pelan. Berjongkok untuk menyamakan tinggi dengan Jeno yang masih menangis kecil.
"Ayah, Nono takut ada montel. Nda bisa bobo Ayah, apa boleh Nono tidul belcama Bubu dan Ayah caja?"
Jaehyun ingat, terakhir kali Jeno tidur bersama mereka, hampir saja si tampan bermata sipit itu menendang perut Taeyong. Dia memberengut, "Tidur bersama Ayah saja, tidak apa-apa?"
Jeno terdiam, ia memeluk boneka anjing itu lebih erat. Seolah tampak berpikir hingga tidak lama kemudian dia mengangguk, "Tidak apa-apa, Nono mau Ayah!"
Jaehyun menghela napas, dia tersenyum dan mengelus kepala Jeno lembut. "Baiklah, ayo kita ke kamar Nono sekarang."
Sepertinya Jaehyun tidak bisa tidur dengan tenang malam ini, derita bapak Jung yang memiliki dua anak dengan satu bayi besar.
*****
Dering telpon membuat fokus Jaehyun teralihkan, dia menekan tombol off tanpa melihat siapa yang memanggil terlebih dahulu. Rapat penting yang sedang berlangsung tidak bisa di ganggu begitu saja, kembali dia menyimak presentasi yang dilakukan. Cukup pusing juga mengingat ada seorang laki-laki yang sudah berumur bersikeras agar sarannya diterima.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mistake [✓]
FanfictionSebuah kesalahan yang membuat Taeyong menjadi single parent di usia yang masih muda. Alert : 17+ © Machayy0
![Mistake [✓]](https://img.wattpad.com/cover/314906044-64-k387811.jpg)