Seorang laki-laki cantik berperut besar tengah sibuk berkutat dengan alat memasaknya di dapur, hingga kehadiran tangan kekar yang melingkar di pinggang membuat dia terkejut. Taeyong menepuk tangan itu pelan dan berusaha untuk menepisnya.
"Lepaskan hyung, aku sedang memasak sarapan untuk kita."
"Kenapa harus memasak? Bukankah dokter bilang tidak boleh bekerja terlalu keras?"
Mendengus geli, Taeyong mematikan kompor dan berbalik badan. "Ini hanya memasak dan tidak butuh waktu yang lama untuk aku berdiri, lagipula sebentar lagi aku akan melahirkan butuh banyak bergerak agar tidak terlalu merasa sakit nantinya hyung."
"Eh, benarkah? Oke-oke. Sekarang masakannya sudah siap bukan, sayangku duduk saja, biar suami mu ini yang menghidangkan."
"Tapi----"
"Tidak ada penolakan, duduklah bersama Mark di meja sana." Jaehyun memotong ucapan Taeyong, dia menunjuk sosok Mark yang tengah mencoba untuk naik ke atas kursi.
Menyerah begitu saja, laki-laki cantik itu mengangguk dan berjalan menghampiri sang anak. Dia membantu Mark untuk duduk kemudian tersenyum satu sama lain, tangan Taeyong menyentuh rambut hitam halus Mark dengan gemas, masih tidak menyangka kehidupan mereka berubah sekarang.
"Bubu cakit nda pelutnya?" tanya batita itu penasaran, di usianya yang menginjak tiga tahun Mark ini tampak begitu peduli dan penasaran akan hal apapun dan dia juga sedikit nakal sekarang.
Perlu di ingat, hanya sedikit nakal. Mark akan berhenti berulah jika dirinya jera, dan Taeyong serta Jaehyun akan menasehatinya kemudian.
"Tidak sayang, kenapa bertanya begitu?"
"Coalnya itu tampak belat, yakin nda cakit Bubu?" Mark menatap dengan serius, wajahnya tampak seperti Jaehyun yang meminta persetujuan sesuatu, benar-benar ayah dan anak.
Taeyong menggelengkan kepala. "Tidak sayang, jangan khawatir ya. Bubu baik-baik saja kok."
"Oke Bubu kalau cakit bilang ke Malk ya, Malk kan mau jadi abang!"
"Iya sayang," jawab Taeyong dengan manja. Dia tersenyum dan kembali mengusak rambut sang anak penuh kasih sayang, kegiatan mereka terhenti saat Jaehyun datang dengan masakannya di tangan.
Laki-laki tampan tersebut menyusun piring-piring di atas meja, tidak lupa memberikan susu ibu hamil untuk sang istri tercinta, serta susu cokelat untuk Mark. Dia dengan telaten mengambilkan makanan untuk Taeyong dan juga Mark.
"Telima kacih Ayah, celamat mam!" Mari berteriak keras, dia langsung menyendokkan satu nasi ke dalam mulutnya. Walaupun terkesan tidak teratur, tapi Mark tidak mau di suapi lagi dengan alasan dia akan menjadi abang.
Sarapan pagi berjalan penuh cinta karena ocehan Mark yang bertanya banyak hal pada sang Ayah, atau dia yang ingin ditemani bermain dan hal lainnya Setelah selesai dengan kegiatan rutin itu, Jaehyun tampak mencuci piring dan bergerak menuju kamar.
Beberapa saat yang lalu sekretaris nya menelpon agar Jaehyun datang ke kantor untuk menyetujui kerja sama, hal ini sangat penting dan tidak bisa untuk di wakilkan begitu saja. Mau tak mau dia harus pergi ke kantor, padahal niatnya Jaehyun akan menemani Taeyong dan Mark di rumah.
Setelah mandi dan berpakaian rapi, lantas laki-laki itu mendekati sang istri yang tengah duduk di sofa memperhatikan Mark bermain sepeda roda tiga-nya di dalam rumah, Jaehyun dengan sengaja menyediakan satu ruangan kosong untuk Mark bermain di sana.
"Sayang?"
Taeyong menolehkan kepala, dia tersenyum dan membiarkan Jaehyun berjongkok kemudian memeluk tubuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mistake [✓]
FanfikceSebuah kesalahan yang membuat Taeyong menjadi single parent di usia yang masih muda. Alert : 17+ © Machayy0
![Mistake [✓]](https://img.wattpad.com/cover/314906044-64-k387811.jpg)