"bunga sakura saat ini, agak berbeda ya?" Jelas Yuzuriha yang tak jadi memukul kawan nya dan mulai melihat ke kelopak bunga sakura yang kini terlihat sedikit asing.
"Ah mekar? Ku kira dia akan mekar di musim semi ternyata musim panas." Celutuk (Name) yang ikutan melihat ke bunga sakura yang sudah asing di penglihatan nya.
"Bunga sakura yang kita kenal dan sering lihat itu Prunus Yedoensis. Karna tak bisa melakukan penyerbukan sendiri palingan dia sudah punah." Jelas Senku membuat duo manusia yang melihat ke bunga sakura itu mulai diam sendiri dan menatap kelopak bunga itu dalam tenang.
Crack
Sebelum melihat satu manusia sedeng kini tengah meloncat dan mematahkan satu dahan pohon yang tipis namun menumbuhkan lumayan banyak bunga sakura.
"NGAPAIN KAU BANGSAT! TURUN!" Pekik Senku refleks sambil menahan agar jantungnya sendiri tak jatuh ke dengkul akibat kawannya yang kini kerasukan bekantan.
"TURRRRRUN!" Dengan nada uncle Muthu yang khas sekali, pemuda berambut bawang satu ini mulai merasakan sel sel tubuhnya akan putus lebih cepat dibanding urat malu nya sendiri.
"HENTIKAN ITU (Name)! ITU ILEGAL!" Larang Taiju yang juga sadar apa yang hendak dilakukan oleh manusia satu ini. Memetik bunga sakura, ah lebih tepatnya memetik dahan berisi bunga sakura, sungguh andai saja ada polisi di sekitaran, mungkin senku akan memakai asam nitrat dan mencoba membangkitkan polisi agar menghajar kepala banci satu ini. Siapa sih yang ngajak dia ikut ke Hakone.
"Kalian berlebihan ah! Aku cuma pengen tau struktur bunga sakura yang baru, dengan mutasi bunga sakura dan beberapa hal lainnya, aku akhirnya punya hal normal yang bisa ku perhatikan." Jelas pemuda banci itu sambil turun dengan memegang satu dahan kecil bunga sakura yang masih mekar.
"Ini untuk tumbal make up kesayangan ku."
"Kadang aku rasa stun gun sangat ku perlukan untuk membuat mu kapok (Name)." Ucapan yang sama dari dua insan dengan gender yang berbeda, Yuzuriha maupun Senku sepakat dalam hal ini secara tiba tiba, walau di kepala Yuzuriha maupun Senku sendiri sudah terdapat beberapa bunga sakura yang di tancap ke rambut.
"WAH INI PEMANDANGAN YANG BAGUS!" Pekikkan dari bongsor yang dari tadi asik berjalan dan memandang sekitaran pun pada akhirnya membuat trio di belakang mulai berlari dan melihat ke tempat yang dilihat Taiju lebih dulu.
"Apanya yang bagus? Cuma warna hijau dengan beberapa tanah yang lebih tinggi dan nyaris membentuk bukit. Gunung saja cuma satu di situ." Pujian maupun sebuah ungkapan pada akhirnya dipotong dengan tegas oleh (Name), pemuda satu itu mulai menghela nafas sendiri sebelum akhirnya mendongak ke atas dan melihat cuaca terik.
"Udah jam 1 atau 2 siang." Gumamnya sambil diikuti dengan angka angka yang tiba tiba keluar dari mulut Senku saat memakai sekstan.
"Kalian berdua mengatakan hal itu seperti hal biasa? Aku jadi bingung kenapa peringkat mu di sekolah biasa saja (Name)." Gumam Yuzuriha sendiri sementara si Taiju mulai mengutarakan soal Senku yang menghitung selama 37 abad maupun (Name) yang kadang membuat jam manual dengan sebuah tongkat kayu.
"Harusnya itu bisa memberitahu lokasi berdasarkan waktu kan? Kita ada dimana sekarang bro?" Tanya (Name) sambil mulai duduk dan meminum air yang ia bawa, sungguh capek juga melihat matahari dengan mata telanjang, nyaris saja dia mengalami pusing dan berakhir turu di tengah tengah pikiran yang sedang menghitung jam sebelumnya.
"Ampas, akurasi nya ampas banget. Kau ga bisa nebak ini dimana dude?"_Senku
"Aku tanya ke elu karna aku sendiri ga bisa nebak gobl#ok."_(Name)
"Dasar navigator berjalan yang ampas. Kenapa nyaris bisa masuk semi final sih lu (Name), nyogok ya?"_Senku
"Mulut kek cewe, Lo."_(Name)
"Senku! (Name)! Maap maapan sekarang! Jangan bertengkar kayak Tsukasa!"_Taiju
.
.
.
Setelah mendapatkan garis lintang yang akurat dengan bantuan Yuzuriha yang menemukan sebuah patung Budha, kini keempatt anak sekolahan tersebut pun masih setia berada di dekat patung Budha itu sendiri, ada yang berdoa, ada yang mengikis patung Budha itu, dan apa pula yang menghalangi aksi yang ingin mengikis patung buda tersebut.
"(Name) ga berdoa?"
"Aku Kristen." Jawab (Name) ke Yuzuriha yang lupa dengan agama yang tengah dianut oleh (Name) sendiri, salahkan pemuda itu yang jarang banget terlihat beragama, justru dirinya sendiri sering ditawarkan untuk masuk ke agama yang sudah ia masuki sebelumnya.
"Muka tak beragama jangan sok keras! Bantu aku ambil ini (Name), nanti kalo sempat akan ku buat kau lompat sampai kayang karna menemukan cermin." Jelas Senku sambil melemparkan beberapa bahan anyaman, membuat pemuda itu menatap dalam hampa apa yang akan dia lakukan dengan beberapa bahan anyaman tersebut.
"TAHAN GUA TAIJU! W HAJAR DIA SAMPAI MOKAD!" Sok sok an akan ngehajar padahal kaga bakal. Anyaman tersebut pun pada akhirnya malah menjadi sebuah kotak mini yang cukup untuk menampung beberapa hal.
"Aku minta bakul bukan kotak bento ala ala."
"Bahan yang lu kasih kurang geblek, syukur aja itu jadi barang."
.
.
.
Stonestoneshampoo
"(Name) ini mungkin sedikit membingungkan untuk ku tanyakan, tapi, apa apaan yang kau lakukan sekarang?" Tanya Yuzuriha, perempuan yang kini tengah melihat sobatnya yang sedang memakai sesuatu hingga menghasilkan kulit yang sedikit putih.
"Kalsium karbonat, ah sial, gatal banget perkara pakai ginian, ga bisa jadi bedak alami." Cerutu (Name) sambil mulai menghela nafas dalam dalam, batinnya kesal sendiri perkara tak bisa mendapatkan sebuah base make up paling dasar di dunia batu seperti sekarang, mana dia pakai persediaan milik Senku, jika pemuda itu tau jika kalsium karbonat nya dikorupsi oleh temannya sendiri mungkin dalam waktu dekat dirinya akan merasakan sengatan listrik yang dahsyat.
"Bukannya saat itu kau bisa?" Tanya Yuzuriha sekali lagi sambil mengingatkan momen kelas 10 mereka yang membuat sebuah bedak tabur dari kulit telur.
"Tentu, karna kata Senku kandungan kerang ini sama saja dengan kulit telur, aku jadi pengen coba, sial, tak banyak bahan yang ada, aku jadi sebal sendiri."
"Kau tergila gila banget sama make up (Name). Bukannya muka mu cukup cantik?"
Ucapan Yuzuriha lantas membuat pemuda itu diam sejenak, pandangannya mulai menatap lurus ke arah Yuzuriha sambil memberikan senyuman penuh makna lainnya.
"Kan bukan untukku, aku pengen buat bedak dan beberapa base make up lainnya sebelum kau dan Taiju akan mengungkapkan rasa atau bahkan sampai menikah." Celutuk (Name) seenak jidat sambil mulai terkekeh sendiri, mengingat kembali dirinya juga menjadi penata rias mantan sendiri.
"Dih. Emangnya aku bakal menyewa mu sebagai penata rias? Lagipula ku rasa itu akan masih lama, santai saja (Name)."
Bonus! Biodata (Name)!

Versi dr.stone nya masih dalam tahap pengerjaan
KAMU SEDANG MEMBACA
Shankara (Dr. STONE x Male! Reader)
FanfictionBukan sihir bukan juga sebuah sains. INI CUMA HOKI HOKIAN AJA DUDE!_(Name) ..... Keknya salah sih w ngarep elu berguna._Senku not a bl or bxb. Just a normal stories with some cringe joke inside.
