BANGSAT, DIKIT LAGI MEREKA BERDUA CONFESS DAN MALAH DI GANGGU ALIEN!
AKHHHH BRENGSEK, AKU BAHKAN GA BISA BERGERAK DAN SELALU TERASA MENGANTUK!
PADAHAL AKU SUDAH CAPEK CAPEK DANDANKAN YUZU.
INI KENA APAAN SIH
apa jangan jangan...
Eh engga Deng, katanya masih tahan sampe dua tahun kok.
AH BRENGSEK DAH, LAGIAN INI KENAPA SAMPAI NGANTUK MULU SIH.
AKU UDAH TIDUR, AKU GA PERLU TIDUR LAGI.
SIALAN NGEGANGGU BANGET.
PIKIRAN KU BENAR BENAR MAU AKU TIDUR LAGI. Tapi iya sih, bosan.
Diam di sini, kira kira berapa lama aku mengumpat soal kejadian kayak gini.... Hmmm ah paling berapa detik doang, hmmm, apa ku coba lucid dream?
Ga salah, coba aja kali ye.
.
.
.
.
Crack.
"AH BANGSAT!"
"AKU BEBAS!"
Dua pekikkan yang bersamaan di saat yang bersamaan, hembusan nafas penuh kelegaan akhirnya keluar sebelum keduanya menoleh satu sama lain dengan manik mata yang menatap satu sama lain dalam keadaan kaget.
"...Tai....Ju?"
"(NAME)!"
"STOP WE NGAPAIN LU RENTANGKAN TANGAN-?!"
"BERPELUKKAN!"
"ANJ TAIJU, U SUS. INGAT BUND YUZU, JANGAN PELUK PELUK SAIA, HARAM HUKUMNYA."
Menghindari kehilangannya seksualitas yang berbelok belok dan tak sesuai dengan gender aslinya, Taiju maupun (Name) langsung menoleh ke arah yang lebih bercahaya dari pada tempat mereka terbangun sekarang.
"Berapa lama waktu telah berlalu..."
"Lucid dream ku masih lanjut kah? Beb coba kau pukul aku."
"Memukul orang itu ga baik (Name)."
"Halal kalo disuruh beb."
Percakapan dua insan itu pun terhenti ketika melihat satu tanaman merambat yang sudah pasti bisa dijadikan bahan untuk menutup otong maupun bokong mereka saat ini, berjalan tanpa arah dan cukup mengikuti insting hingga sampai ke pohon tempat dimana Yuzuriha selamat. Satu orang senang dan satu lagi sedikit lega dengan sohib yang terkahir kali membangunkannya dari jam tidur siang sekolah.
aku harus mundur dulu. Yah lebih baik melihat sekitar sih. Geografis bumi, apa ini berpindah dari porosnya atau mengalami perubahan iklim, jika ini musim panas ini sedikit kurang panas dari sebelumnya, batin (Name) sambil mulai mengira ngira dan melihat tanaman tanaman yang kini tumbuh di Jepang dengan sangat subur.
Pandangan permuda dengan bola mata emerald tersebut mulai menatap ke langit yang masih dalam keadaan terik, kemungkinan ini ialah musim panas langsung membuat dirinya memikirkan hipotesis-hipotesis dari otaknya walau nanti juga akan hilang lagi ditiup angin, sambil memainkan pasir di dekat sungai dalam keadaan bosan karna sohibnya yang baru bangun itu tengah membucin bersama batu doi nya. Maka yang bisa dilakukan cuma membuat istana pasir di sungai yang bahkan entah sudah bersih nan murni.
"OI (NAME) AYO, KITA KE HILIR SUNGAI!" pekikkan yang tiba tiba muncul dari seseorang yang langsung berlari kencang, bahkan untuk anak yang beratnya hanya 59 kg, Taiju langsung menggotong sohib nya yang satu itu untuk terus berjalan menyusuri hilir sungai.
Itu tujuannya sebelum mereka terhenti sejenak karena area leher Taiju yang dicubit dengan sekuat tenaga oleh (Name) yang digendong tanpa izinnya sendiri itu.
"INI HULU SUNGAI, YANG KAU CARI HILIR KAN?! LAGIAN ADA APA SIH, HILIR DI SANA! LAIN KALI SAAT PELAJARAN GEOGRAFI KERJAKAN PR MU!" teriak (Name) sambil mulai kembali menarik nafas kembali agar menenangkan diri sebelum kata kata yang tak diinginkan muncul sendiri seperti tuyul.
"AHAHAHA SYUKURLAH, AKU GA JADI TERSESAT!"
"Kau ini... Kalo ada buku MTK akan ku pukul kau pakai itu." Helaan nafas langsung keluar lagi dari (Name) yang tengah digendong dengan pose karung beras itu, kulit yang saling bersentuhan lumayan kurang nyaman jika ingin dirasakan. Entah kenapa akhirnya banci yang sering dikenal di wilayah sekolah ini akhirnya mendapat sensasi bulu kuduk yang merinding seperti berbagai orang yang melihatnya dalam keadaan bermake-up dan berpakaian cantik.
Perjalan dilalui dalam perasaan yang ingin mendengar suara air sungai saja, keduanya berjalan terus ke hilir terlalu tenang hingga membuat pemuda yang digotong seperti karung pakan ikan itu mulai merasa ngantuk dan hendak tidur kembali dalam keadaan yang sudah damai ini.
"Akhirnya kalian bangun juga, dasar bongsor dan banci sialan. Mau berapa lama kalian turu huh?"
Suara yang familiar tersebut sontak langsung membuat korban yang diangkut dengan pose karung beras langsung bergegas turun dan menatap taiju bersamaan sebelum keduanya melompat girang sambil tersenyum manis nan cerah benderang.
"KALO ADA SI BAWANG KITA GA PERLU PUSING LAGI YA GA BEB TAIJU!"
"YAP SENKU PENYELESAI MASALAH!"
"KALIAN BERDUA! DIH JANGAN PELUK AKU DENGAN KONDISI TELANJANG BEGITU, KU BUNUH KALIAN NANTI! HUSH HUSH!"
Usai kedua manusia yang sudah menemukan cahaya hidup itu melepas pelukan erat mereka secara sukarela, orang yan tadinya nyaris pingsan karna tercekik dan kekurangan oksigen pun akhirnya mulai kembali berbicara sembari mengutarakan waktu 6 bulan dan caranya menghitung kalender pasti nya dengan tenang.
Mengingat kembali bagaimana si manusia yang memiliki rambut melawan hukum gravitasi itu tumbuh ke atas dan bukan kebawah sudah merupakan hal gila, apalagi ketika ditunjukkan tempat yang sudah layak dijadikan rumah untuk manusia. Maka pemuda bermanik mata hijau itu cuma menghela nafas sejenak sembari mencoba mencari detail lekuk batu yang terjadi pada manusia. Helaan nafas sedikit lega langsung berubah menjadi tarikan nafas yang dalam ketika melihat banyaknya tanah liat dan barang barang lain entah untuk mengenyam ataupun untuk membuat kembali bentuk bentuk alat.
"Sains! Otot! Dan letak geografis yang sekarang tugasnya menggantikan Yuzuriha sementara! Kita akan berperan sebagai Adam, hawa, dan kain lagi di dunia batu ini."
.
.
.
.
StonestoneShampoo
Kejadian sebelum terjadinya pembatuan.
Di acara sesi curhat antara (Name) dan Yuzuriha
"Jadi itu alasan ku di putuskan Lucy. Yuzu, ngapain lihat ke atas?"
"KU INGIN NANGIS KASIAN TAPI NANTI KAU AKAN MENAMPOL KU KARNA MENGHANCURKAN MAKE UP!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Shankara (Dr. STONE x Male! Reader)
FanfictionBukan sihir bukan juga sebuah sains. INI CUMA HOKI HOKIAN AJA DUDE!_(Name) ..... Keknya salah sih w ngarep elu berguna._Senku not a bl or bxb. Just a normal stories with some cringe joke inside.
